Kiblat Cinta A

Kiblat Cinta A
Rekomendasi Novel Kece


__ADS_3


BLURD


Menjabat sebagai seorang Walikota, tak mudah bagi Arman Linford, dia harus mendengarkan keluh kesah dari para warga kotanya yang memiliki masalah pelik. Terlebih lagi tekanan keluarga yang selalu memintanya untuk mengakhiri masa lajang di usia hampir kepala empat, membuat dia sangat frustasi. Arman dikenal sebagai Walikota bujang lapuk, hingga isu-isu miring selalu menghampiri perjalanan hidupnya. Hingga sang Walikota bertemu gadis ceroboh seperti Fusia, wanita itu baru saja diterima sebagai tenaga kebersihan di kantornya. Namun, di hari pertamanya bekerja dia sudah membuat masalah dengan Arman, atas kelalaian Fusia, ia membuat sang Walikota jatuh di keramaian akibat lantai yang terlalu licin. Pada hari itulah Arman mulai menandai wajah Fusia dan bersumpah akan membalas perbuatan gadis itu.


Bagian 3 Pembawa Petaka


karena aku sangat tampan dan baik~


~oOo~


Arman Linford sangat terkejut ketika mendapati dirinya tengah jatuh dalam genangan air yang diciptakan oleh seseorang.


Seorang ajudan berperawakan besar memindai seluruh area gedung dengan matanya. Ia begitu nampak menakutkan.


"Siapa yang melakukan ini?!" Teriakan pria itu sungguh menakutkan, dan menggema di seluruh gedungโ€”membuat semua orang bergidik ngeri.


Fusia sebagai tersangka utama mau tidak mau harus mengakuinya. Ia mengangkat satu tangan sementara tangan yang lain masih setia memegang gagang pel yang tadi ia pakai.

__ADS_1


Mata Arman nyalang menatap Fusia, lalu pria itu berdiri dibantu oleh seorang ajudannya, dengan celana yang basah. Arman sedikit berbisik kepada ajudan di sampingnya. Seolah tengah merencanakan sesuatu.


Seorang wanita tiba-tiba keluar dari barisan datang menghampiri Fusia. Membuat lidah Fusia kelu, ia menggenggam erat gagang pel hingga buku-buku jarinya memutih.


"Nona... silakan ikut saya. Tuan Walikota ingin berbicara dengan Anda."


Fusia seketika menelan ludah. Ia berpikir apakah dia akan dijatuhi hukuman mati karena telah mencelakai Walikota Barsoom?


Tidak ada pilihan lain selain mengikuti apa yang wanita di hadapannya ini mau. Fusia mengikutinya dari belakang. Ia berpikir kembali, apakah dia akan dipecat lagi di hari pertama dirinya bekerja. Hal itu membuat Fusia merinding.


Saat wanita itu membuka pintu, dan masuk ruangan ia mendapati Arman dan para ajudannya sudah berdiri di sana.


Arman menatap tajam ke arah gadis yang telah membuatnya malu, karena seumur hidupnya ia tidak pernah diperlakukan seperti ini.


Arman berjalan pelan menghampiri Fusia, yang tengah mencengkeram tangannya sendiri. Ia berharap semua ini segera berakhir.


Arman sendiri merasa aneh. Saat ia mendekati wanita kebersihan ini, mengapa dirinya tidak merasa mual dan pening?


"Hei... Sepertinya aku sembuh. Aku sama sekali tidak mual ketika mendekati nona ini." Arman berucap sembari menatap para ajudan kepercayaannya yang terdiri dari tiga orang tersebut.

__ADS_1


"Karena nona ini tidak cantik, Tuan. Pasti itu alasannya," celetuk salah satu dari mereka.


"Apa?!" Arman memindai tubuh Fusia yang memang bisa dibilang memang tidak wanita cantik. Ia mengakui itu. "Mungkin kalian benar," imbuhnya lagi.


Fusia hanya diam tidak bisa membantah apa pun yang keluar dari mulut pria ini. Ia hanya takut jika dia membuka suara sebuah timah panas akan meluncur menembus kerongkongannya. Jadi dia hanya bisa mengutuk Arman di dalam hati saja.


"Siapa namamu, Nona?" tanyanya, kedua tangan Arman ia selipkan di saku celananya. "Kau tidak perlu takut, aku Walikota-mu tentu aku akan menjagamu."


Fusia hanya bisa tersenyum kecut. Tapi dia harus tetap berhati-hati. Bisa saja Arman adalah orang yang berbahaya dan menghalalkan segala cara jika dia kesal dan benci terhadap sesuatu.


Arman sendiri sebenarnya ingin mematahkan tulang-tulang Fusia, tapi pria itu pendam, karena ingin membangun image yang baik di mata Fusia sebagai rakyat kota Baraoom.


"Nama saya Fusia Moore, Tuโ€“Tuan."


"Nama yang sangat indah," jawab pria itu. "Kau tahu kesalahan apa yang telah kau lakukan?"


Fusia mengangguk cepat. "Maafkan saya Tuan, saya sangat ceroboh. Jangan pecat saya karena saya juga butuh pekerjaan."


Arman menipiskan mata karena sedikit kesal. "Baiklah... Karena aku adalah walikota yang baik dan pengertian terhadap rakyatnya. Aku akan memaafkanmu. Tapi ingat! Aku tandai wajahmu mulai sekarang!"

__ADS_1


**CUSSS AJAAAA KEPOIIIINN PREEENNN ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


NUPEL KECE TEMEN KU ๐Ÿ˜Ž๐Ÿ˜Ž๐Ÿ˜Ž**


__ADS_2