
"Abang lihat mukanya Bang Shaka, kayak lagi lihat hantu," Aisya berbisik di telinga Arion.
Pria berkucir satu itu menoleh dan tersenyum tipis pada istrinya, bahkan tanpa canggung Arion memberikan kecupan singkat di pucuk kepala Aisya.
"Gengsi di gedein sih. Padahal dari dulu kan Bang Shaka udah tau kalau Rumi suka sama dia, tapi Bang Shaka malah lihat ke arah lain. Giliran ditinggalin nangis nangis," sambungnya lagi.
Arion yang menjadi tempat curhat Aisya hanya mengangguk, tanpa ingin bersuara sedikit pun. Arion membiarkan Bidadari nya mengeluarkan semua rasa kesalnya yang selama ini terpendam.
"Aku pulang ya Bun, udah malam. Mama udah neror aku, nih lihat aja sama Bunda,"
Harumi mendekat pada Cia, gadis bermata sipit itu memberikan ponselnya pada calon ibu mertua idaman hatinya. Harumi melewati Arshaka begitu saja, membuat pria itu mendelik.
"Kamu enggak mau nginap aja. Bunda takutnya kalau kamu pulang, nanti ada yang nangis lagi," sindir Cia secara terang terangan.
Salah satu sudut mata Sang Nyonya Syarief melirik pada Arshaka, yang saat ini tengah memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Bener tuh, nanti ada yang merengek- minta di peluk sama istri orang," sahut Arion.
Sebenarnya Arion masih kesal pada kakak iparnya itu, karena ulah childish nya- dia harus melihat Aisya di peluk oleh pria lain. Walaupun yang memeluk istrinya itu adalah kakak kembar Aisya, tapi rasa cemburu di hati Arion tidak bisa dihindari.
"Kita dari jaman embrio udah berbagi pelukan ya! jadi jangan banyak protes lu adik ipar durhaka!" sungut kesal Arshaka.
Kedua matanya menatap tajam pada Arion. Adik iparnya ini memang selalu membuat dia kesal, apa lagi semenjak Arion mulai mengingat- sikap posesifnya pada Aisya naik 2 kali lipat.
Lihat bagaimana wajah tidak suka Arion, saat dia memeluk tubuh adik kembarnya. Padahal mereka semua tahu, dari mereka berdua masih zaman zigot- sudah berbagi segalanya, bersama Aska tentunya.
__ADS_1
Berbagi makanan, minuman, berbagi tempat buang air, berbagi tempat tidur, berbagi air susu, bahkan mungkin Aisya dan Aska pernah berbuat tidak sopan padanya- saat mereka masih di dalam perut Sang Bunda.
Dan sekarang setelah Aisya dewasa, setelah berjuang bersama dalam mempertahankan hidup- si Arion dengan posesifnya mengklaim kalau sang adik tidak boleh dia peluk lagi.
Sakit preen!
"Udah udah, kenapa jadi ribut sih. Kalau Rumi enggak bisa nginep gak apa apa. Pulangnya hati hati ya, apa perlu Bunda an-,"
"Aku yang bakalan ngantar!" putusnya cepat.
Bunda Cia menoleh pada Shaka, dahinya berkerut dalam saat melihat putra sulungnya bangkit. Sementara Alkan, si Bapak Penghulu berlesung pipi itu menaikan sebelah alis saat melihat Shaka cepat merespon.
Tumben? bukannya Shaka selalu tak acuh pada Harumi. Bahkan pernah dulu- saat Harumi pulang sendiri setelah belajar kelompok bersama Aisya- Shaka tidak peduli. Alkan sendiri yang berinisiatif untuk mengantar Harumi sampai ke depan pintu rumahnya. Alkan hanya ingin memastikan, kalau anak gadis keluarga Subagiyo itu pulang dengan selamat.
"Enggak usah, aku pulang sendiri aja. Masih jam 7 kok Bun, belum malam. Di jalan juga masih rame, apa lagi ini malam minggu," Harumi segera meraih tangan Cia untuk dia salami.
"Rumi pulang dulu ya, dah Bunda dah Ais. Jangan lupa di makan ya sushi nya, oh iya ramen nya tadi aku tarok di lemari dapur," pamit Harumi.
"Iya, kamu hati hati pulangnya. Kalau ada yang mencurigakan lari kalau enggak teriak aja!" Harumi mengangguk pelan, setelah berpamitan- Harumi segera keluar dari kediaman Syarief, di ikuti oleh Shaka.
Gadis itu tetap diam, dia mengabaikan Shaka yang masih setia membuntutinya. Harumi membuka pintu dengan lemas, sebenarnya dia juga ingin berlama lama di rumah ini.
Harumi menghela napas pelan, gerakan tubuhnya terhenti saat dia melihat seorang gadis berhijab di depan pintu masuk. Satu tangan gadis berkerudung itu melayang di udara, hendak mengetuk pintu.
"Assalamualaikum, Bang Shaka," sapa nya.
__ADS_1
Harumi yang mendengar itu hanya diam, bukankah dia yang membukakan pintu? lalu kenapa yang disapanya hanya Arshaka.
"Waalaikumsallam, Salma. Mau ketemu Bunda ya, silahkan masuk. Bunda ada di dalam kok."
Harumi berdecih pelan, tanpa ingin berlama lama melihat kedua sejoli itu- Harumi melanjutkan langkahnya- bahkan dia sama sekali tidak menyahuti salam dari Salmafina.
Rival cintanya, dulu tapi. Kalau sekarang, sepertinya Harumi akan bersikap masa bodoh.
"Emm- sebenarnya aku mau ketemu sama Ab-,"
"Maaf ya Salma, aku buru buru. Kalau ada yang penting, temuin Bunda aja- Assalamualaikum!"
Kedua mata Salma berkedip cepat, bahkan gadis itu tidak bisa berkata apa pun lagi- saat melihat Shaka mengabaikannya untuk pertama kalinya.
Bahkan Salma tidak dapat lagi melihat binar di mata Shaka, saat kedua mata mereka bertemu.
Apa Shaka sudah berubah? tapi kenapa?
**YA ALLAH PAK PENGHULU, NIKAHI AKU πππ
SEE YOU TOMORROW
__ADS_1
BABAYYY MUUUAACCHHHπππ**