Kiblat Cinta A

Kiblat Cinta A
Trauma


__ADS_3

Genggaman Aisya pada lengan suaminya semakin erat, bahkan Aisya sama sekali tidak berani menatap wajah pria- yang saat ini tengah menatap sendu padanya.


"Maaf, aku enggak bermaksud bikin kamu takut. Aku cuma- aku cuma belum rela kalau kamu sudah menikah sama dia, Aisya,"


Aisya membisu, wanita itu tetap mengalihkan pandangannya ke arah suaminya. Jeffri, pria itu meminta sedikit waktu pada pihak kepolisian- agar di izinkan berbicara dengan Aisya. Sekedar ingin meminta maaf, tidak lebih. Jeffri merasa seperti orang bodoh sekarang. Jujur, rasa cintanya pada Aisya lebih besar- dibandingkan rasa bencinya.


Selama beberapa waktu ini Jeffri belum merelakan kalau Aisya lebih memilih pria lain dan menikah. Padahal sedari dulu dirinya selalu sabar menanti wanita itu membuka hati, namun ternyata jangankan membuka hati- memberi respon positif saja tidak.


"Aku tahu kalau kamu enggak mungkin maafin aku," ujarnya lagi.


Jeffri menunduk, kala melihat Aisya meletakan pipinya di bahu Arion. Aisya membelakangi Jeffri, wanita itu tidak ingin melihat wajah pria yang sudah menyakiti suaminya.


"Aku minta maaf pada kalian berdua. Maaf karena aku sudah bertindak bodoh, semoga saja hukuman ini setimpal," sambungnya lagi.


Jeffri menghirup napas dalam, lalu menghembuskan nya kasar. Pria muda itu memejamkan kedua mata, saat mendengar Haris berdecak pelan.


"Kenapa Bapak masih disini?" tanya Jeffri pada Haris.


Kedua sudut mata pria muda itu memicing, terlihat sekali kalau antara anak dan Ayah itu sedang tidak baik.


"Hentikan drama kamu Jeff, sebentar lagi kamu bakalan bebas- Bapak bakalan nyewa pengacara hebat buat bebasin kamu!"


Jeffri memutar bola matanya malas, salah satu sifat Haris yang tidak dia sukai- terlalu percaya diri dan angkuh, selebihnya masih banyak lagi termasuk tidak setia pada istrinya..

__ADS_1


Jeffri bahkan sempat malu karena terlahir dari rahim istri kedua juragan tanah itu.


Walaupun kehidupannya berkecukupan, tapi Jeffri tidak suka saat semuanya harus terbagi- bahkan sekarang hatinya pun ikut terbagi kerena kembali patah.


"Kami sudah memaafkan mu, tapi untuk melupakan- sepertinya akan butuh waktu lama," ujar Arion.


Pria berambut gondrong itu ikut angkat bicara, setelah berdiam diri dan membiarkan Jeffri mengeluarkan seluruh isi hatinya.


"Semoga hukuman yang kau terima, membuat mu menjadi lebih baik lagi," sambung Arion lagi, mengakhiri percakapan mereka.


Jeffri akan menjalani hukumannya beberapa tahun kedepan didalam jeruji besi. Pria muda itu hanya tersenyum tipis dan mengangguk, Jeffri masih berharap kalau Aisya sudi untuk berbicara padanya- untuk terakhir kali. Tapi nyatanya, sampai waktu yang di berikan pihak kepolisian habis, Aisya tidak kunjung membukan suara.


'Maaf,' gumam Jeffri dalam hati.


🌴


🌴


🌴


Kemana pun suaminya pergi pasti Aisya akan ikut. Bahkan kedalam kamar mandi pun, wanita itu akan meminta ikut. Aisya menemani Arion mandi, dan duduk di atas kloset dengan tenang.


Tapi setelah hampir 5 hari setelah kejadian itu, Aisya perlahan mulai kembali ke sikap asal. Dia sudah bisa membiarkan Arion ke perkebunan- walaupun harus membawa Shaka atau pun Pak Aslam.

__ADS_1


"Hari ini Bang Rimba ke perkebunan lagi?"


Arion yang saat ini tengah melipat kedua tangannya di dada hanya mengangguk. Pria berhanduk di pinggang itu melangkah pelan, mengikis jarak pada istrinya.


"Hm, cuma sebentar. Habis mantau lokasi, Abang pulang. Apa kamu mau ikut kesana? kita bisa makan siang di perkebunan- minum air kelapa muda sambil lihat orang panen padi, gimana?" Arion berucap selembut mungkin.


Arion berharap kalau Aisya mengiyakan ucapannya, melupakan kekhawatiran berlebihnya ketika dia tengah pergi sendiri. Arion berharap rasa trauma Aisya malam itu akan segera hilang, dia akan berusaha membuat Aisya tenang dan aman. Memastikan kalau kejadian itu tidak akan pernah terulang lagi.


"Ais ganti baju dulu ya, Abang pakai bajunya sendiri,"


Arion mengembangkan senyum mendengarnya, pria berambut gondrong itu senang karena Bidadari nya tidak menolak ajakannya.


Cup!


"Iya Sayang, Abang pakai baju sendiri aja,"


Arion memberikan satu kecupan dalam pada bibir istrinya, sebelum Arion menyambar pakaian yang sudah disiapkan Aisya.


Sementara Aisya, wanita itu hanya mengulum senyum. Jantungnya merasa tidak aman sama sekali, kala Arion melakukan hal itu tanpa aba aba. Padahal Arion melakukannya sekali atau dua kali, tapi tetap saja selalu membuat Aisya lemas.



**ABIS NGAPAIN NENG AIS YAK

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA


SEE YOU MUUUAACCHH😘😘😘**


__ADS_2