
Aisya terlihat cekatan saat menyiapkan segala keperluan Arion. Semakin lama, dia semakin terbiasa untuk menyentuh semua barang pribadi suaminya. Mulai dari pakaian hingga da*laman Arion, padahal saat dia dan Arion baru beberapa hari menikah- Aisya terlihat canggung dan malu, ketika melihat da*laman suaminya.
"Baju Abang mana?"
Aisya tersentak kaget saat mendengar suara Arion dari belakang tubuhnya. Tubuhnya semakin menegang, kala dia merasakan Arion semakin mendekat- bahkan aroma sabun dapat Aisya cium dengan jelas.
"I-ini,"
Aisya mengulurkan pakaian Arion, yang sudah dia persiapkan- tanpa ingin berbalik. Aisya belum siap kalau harus melihat tubuh setengah telanjang suaminya pagi ini. Rasa malu dan canggung masih mendominasi didalam hatinya.
"Ai?"
"Iya," sahut Aisya cepat.
Gadis itu terlihat pura pura sibuk, dengan selimut yang tengah dia lipat. Kepalanya menunduk dalam, saat melihat Arion semakin mengikis jarak. Bahkan lewat sudut matanya, Aisya dapat melihat kalau Arion sudah berada di depannya.
"Tolong bantu kancing kan kemejanya," pinta Arion.
Aisya memejamkan kedua matanya gugup, tangannya menggenggam erat selimut. Kepalanya masih menunduk, namun perlahan terangkat saat merasakan selimut yang dia pegang berpindah tempat.
"Bisa?"
Aisya menelan saliva susah payah, namun tak urung gadis itu mengangguk pelan. Aisya memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya. Pandangan pertama yang Aisya lihat adalah senyuman tipis Arion.
__ADS_1
Senyuman yang terlihat menyebalkan di kedua matanya. Aisya yakin kalau saat ini pria berambut gondrong itu pasti tengah tertawa geli.
"Sini!"
Aisya memerintahkan suaminya untuk mendekat, kedua matanya menatap lembut pada Arion- begitu lembut hingga membuat Arion patuh.
Pria itu mendekat pada Aisya, kedua matanya tidak ingin berpaling sedikit pun dari wajah cantik Sang Bidadari.
Tidak ada pembicaraan dari keduanya. Sepasang sejoli itu lebih menikmati keterdiaman masing masing- seakan tengah menikmati suasana canggung serta gugup yang saat ini melanda hati.
Lebih tepatnya hati Aisya yang gugup, sementara Arion malah menikmati wajah memerah istrinya, saat jari jemari lentik itu memasukan kancing kedalam tempatnya.
Greep!
Glek!
Aisya bahkan menelan salivanya susah payah, saat merasakan hembusan nafas hangat di wajahnya- saat Arion mulai menunduk dan mendekat pada wajahnya.
"Boleh?"
Kedua mata Aisya berkedip cepat saat mendengar ucapan Arion. Otaknya belum bisa terkoneksi dengan cepat, namun saat dia merasakan sentuhan lembut dibibir bawahnya- Aisya mengerti apa yang di inginkan suaminya.
Apakah dia harus menolak?
__ADS_1
Jawabannya tidak bisa, Aisya tidak bisa menolak keinginan Arion. Selain itu adalah kewajibannya sebagai istri, permintaan Arion juga menyadarkannya kalau semua yang ada didalam dirinya sudah menjadi hak suaminya.
Aisya mengangguk malu, jujur dia malu sekali saat Arion membelai seduktif bibir bawahnya. Aisya memang bukan gadis polos, tapi dia benar benar tidak tahu caranya, karena semua sentuhan kecupan dan ciuman yang di berikan Arion adalah pengamalan pertamanya.
Dengan senyuman tipis, Arion mulai mendekat- mengikis jarak pada Aisya. Semakin merapatkan tubuh mereka berdua, memberikan kehangatan nyata- yang membuat Aisya reflek menutup kedua mata, saat dia merasakan sebuah benda kenyal menyentuh bibir tipisnya.
Benda kenyal dan manis yang perlahan bergerak, memberikan rasa manis dan candu untuknya. Bahkan tanpa sadar Aisya menggenggam erat kemeja Arion.
Kedua kakinya semakin melemas saat merasakan gerakan bibir Arion begitu intens dan menuntut. Kalau saja kedua tangan Arion tidak menumpu tubuhnya, mungkin sedari tadi Aisya sudah tersungkur ke lantai.
Keduanya semakin terbuai, namun saat bara gairah sudah di ubun ubun- ketukan pintu dari luar membuat Arion terpaksa melepaskan tautan bibir keduanya.
"RION! DI LUAR ADA KAKEK KAMU!" suara seruan Nenek Imma, membuat Arion mematung.
**HADUH HADUH BAAANGGGGGG
HOLLA MET MALAM SEMUANYAAA
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA YA
SEE YOU NEXT PART
__ADS_1
MUUUAACCCHH**