
Shaka menghela napas kasar, saat dia sampai di rumah dengan selamat. Hampir 1 jam setengah dia berkutat dengan motornya di jalan, tanpa ada orang yang mau membantunya.
Bukan tidak mau, tapi karena memang dijalanan tadi sama sekali tidak ada manusia yang melintas. Shaka menyugar kasar rambutnya kebelakang, tubuhnya bersandar lelah di kursi kayu yang ada di teras rumah.
Kedua kakinya terasa berdenyut, bukan hanya kaki- tapi seluruh tubuhnya dari ujung rambut hingga kuku. Kedua mata Shaka terpejam, satu tangan pria itu bertumpu di dahi- memijat kecil agar denyutan di kepalanya sedikit berkurang.
Akibat terpaan terik matahari disepanjang jalan yang di tapaki, Shaka merasa sedikit demam sekarang. Dia ingin memeluk seseorang untuk berbagi sakit ini, dia butuh Sang Bunda- Cia.
Dengan cepat Shaka membuka kedua matanya, pria muda itu bangkit lalu masuk kedalam rumah, sembari memanggil wanita yang sudah melahirkannya.
"Bundaaaa! Bundaa Shaka demam,"
Shaka terus saja memanggil Cia, persis seperti anak anak yang baru saja pulang bermain. Kena tidak kunjung mendapatkan sahutan, Shaka kembali berteriak- sampai akhirnya teriakannya terhenti, saat dia mendengar sayup sayup suara televisi. Shaka yakin kalau saat ini Sang Bunda dan Neneknya tengah menonton drama, atau sinetron di ruang televisi.
"Bun, kepala aku sakit. Tolong ker-,"
'Breaking news sore ini, pesawat tujuan Indonesia Jepang- di kabarkan hilang kontak setelah menjalani penerbangan selama 2 jam. Di perkirakan pesawat yang berpenumpang lebih dari 250 orang itu mengalami hilang kontak di perairan, saat ini pihak bandara dan badan terkait tengah berusaha melacak keberadaan pesawat yang di nyatakan hilang kontak itu,
Sekian breaking news sore ini,'
Tubuh Shaka membatu, kepalanya yang tadinya sedikit berdenyut- kini terasa semakin sakit.
__ADS_1
'Boleh gak aku meluk Bang Shaka?'
'Ngapain sih mau peluk peluk, kalau mau pergi ya pergi aja!'
'Semoga kita bisa bertemu lagi,'
Percakapan dia dan Harumi kembali melintas. Shaka merasakan kepalanya semakin berdenyut, apa lagi saat melihat Bundanya menutup mulut untuk menahan tangis.
Braak!
Suara helm yang di jatuhkan oleh Shaka, membuat Cia menoleh. Kedua mata abu abu wanita setengah baya itu berembun, lalu tanpa diduga oleh Shaka- Sang Bunda segera memeluk tubuhnya, sembari menangis.
"Itu bukan pesawat Harumi kan Bang?"
'Mending jauh jauh deh, ilfil tau gak lihatnya!'
'Aku cuma mau ngasih ini aja kok, gak bakalan ganggu Bang Shaka,'
'Ngomong aja sama sapi!'
'Semoga kita bisa bertemu lagi,'
__ADS_1
'Semoga kita bisa bertemu lagi,'
'Semoga kita bisa bertemu lagi,'
Shaka menjambak rambutnya, saat kalimat terakhir yang di ucapkan Harumi terus saja menghantui. Shaka segera tersadar, dia perlahan mendudukkan Sang Bunda di sofa ruang televisi. Kedua tangannya menangkub wajah cantik wanita yang begitu berharga untuknya.
"Bunda jangan kemana mana! ingat, jangan kemana mana!" pesan Shaka dengan tegas.
Setelah mengatakan itu, Shaka segera mencari kunci mobil kesayangannya di laci lemari televisi. Setelah menemukan apa yang dia cari, Shaka segera keluar dari rumah- namun sebelum itu dia menyempatkan diri untuk mengecup pucuk kepala Sang Bunda.
Shaka segera menuju garasi, pria itu segera memasuki mobil yang sudah lama tidak dia pergunakan. Kedua tangannya mencengkram stir kemudi dengan kuat.
Pikirannya hanya tertuju pada satu nama, yaitu Harumi Subagiyo.
"Aku berharap kalau itu bukan pesawat mu Rumi. Jangan hantui aku seperti ini, aku berjanji kalau kau selamat apa pun permintaanmu, aku akan berusaha mewujudkannya- jadi please jangan sampai sesuatu menimpa mu," Shaka terus saja bergumam, jujur sekarang dia tidak bisa berpikir jernih. Tujuan utama dia adalah bandara, karena di kediaman Harumi pasti tidak akan ada orang.
**CIUS MAU NGABULIN, MI APA?
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYAAA
__ADS_1
SEE YOU NEXT PART MUUAACCHH**