Kiblat Cinta A

Kiblat Cinta A
Pacaran Halal


__ADS_3

Hening....


Tidak ada pembicaraan dari keduanya, sepasang pengantin baru itu masih saling diam- menatap langit malam yang dipenuhi bintang.


Benar, saat ini Aisya dan Arion tengah berada di luar rumah- lebih tepatnya di halaman belakang rumah Nenek Imma. Duduk berdua di kursi taman, sembari menatap langit malam yang begitu kelam- namun indah.


Selepas acara, Arion segera memboyong Aisya ke rumah Nenek Imma- yang berada di sebrang rumah Ayah mertuanya. Hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja untuk sampai, tidak perlu menempuh dengan kendaraan- berjalan kaki saja sudah cukup.


"Kamu marah?"


Arion memulai pembicaraan mereka, dia tidak kuat untuk berdiam diri. Apa lagi saat melihat Aisya terus saja memilin jari jemari tangannya karena gugup.


Pria berkoko putih itu menghela napas pelan, saat melihat Aisya menggeleng pelan. Netra keduanya bertemu, saat Arion meraih wajah Aisya agar menghadap padanya.


"Maaf, kalau aku sudah membuat kamu merasa di permainkan. Tapi demi Tuhan, aku tidak pernah main main dengan hubungan kita. Aku memang tidak ingat kita di masa lalu, tapi izinkan aku untuk menjadi masa depan kamu," Arion menatap dalam pada kedua netra dark coklat Aisya.


Tidak ada keraguan, saat Aisya mencoba menyelami tatapan Arion. Hanya ada keyakinan dan rasa penasaran yang begitu tinggi dan menggebu.


"Aku tidak akan memaksa kamu, kita akan mengenal lebih dekat terlebih dahulu. Mungkin berpacaran halal, akan lebih menyenangkan," ujarnya lagi.

__ADS_1


Salah satu ibu jari Arion, mengusap lembut permukaan wajah Aisya yang sedikit bersemu. Gadis itu tidak bersuara, hanya gerakan kepala yang mengisyaratkan kalau Aisya menyetujui usulan suaminya.


Bahkan kedua bibirnya perlahan tertarik keatas, membentuk senyuman tipis dan terkesan manis di kedua mata Arion.


"Boleh aku peluk kamu?" izin Arion.


Aisya melipat bibirnya gugup, namun tak urung gadis itu menganggukkan kepalanya. Dengan perlahan Arion merengkuh tubuh Sang Bidadari, untuk pertama kalinya. Arion memberikan dekapan ternyaman, agar Aisya tidak terlalu gugup dan menikmati kebersamaan mereka. Di bawah guyuran cahaya bintang, sepasang sejoli halal itu memulai kembali hubungan yang sempat terputus selama 6 tahun lamanya.


Walaupun dulu keduanya tidak saling mengungkapkan rasa, namun gestur tubuh tidak dapat dihindari kalau Arion dan Aisya memang menyimpan rasa lebih.


Di saat keduanya tengah menikmati kehangatan saat berbagi pelukan, segerombolan manusia tengah mengintip dari pintu dapur. Kedua mata mereka menatap sendu namun bahagia, saat melihat Arion dan Aisya akhirnya bisa bersama.


                           🌴🌴🌴


Pramono mencengkram ponsel yang berisikan rekaman video Arion tengah berbicara dengan seorang gadis berhijab. Pria sepuh itu tahu siapa gadis yang bersama cucunya, gadis yang menjadi masa lalu Arion.


Dan kini takdir malah mempertemukan keduanya, padahal Pramono dengan susah payah untuk menjauhkan keduanya.


"Sepertinya Tuan Muda dan gadis berhijab itu pernah memiliki hubungan di masa lalu?"

__ADS_1


Pramono membanting ponsel ditangannya ke dinding, amarahnya sudah mencapai ubun ubun. Tanpa di beritahu pun dia sudan mengetahuinya, kalau Arion dan gadis itu memang dekat dari mereka kecil.


"Dan kabarnya, malam ini Tuan Muda melamarnya," sambung pria yang selama ini menjadi mata matanya di perkebunan kelapa Arion.


Dan ucapannya berhasil membuat Pramono mendelik tajam ke arahnya. Pria sepuh itu menyapu bersih apa yang ada di atas meja kerjanya. Arion sudah membuat amarahnya kembali meledak. Ternyata keterdiamannya selama ini di anggap sepele oleh sang cucu. Tidak! Pramono tidak akan membiarkan Arion semakin jauh dari kendalinya, kalau Arion lepas kendali- Pramono tidak bisa menjalankan segala rencananya.


Rencana untuk memindahkan seluruh aset Gibran dari tangan Marina, ke tangannya melalui Arion.


Pramono menghela napas pelan, kedua matanya terpejam erat. Napasnya mulai teratur, detak jantungnya pun sudah kembali normal. Namun pria tua itu masih setia memejamkan kedua mata, sampai tidak menyadari kalau Marina sedari tadi sudah menguping pembicaraannya.


Wanita beranak satu itu mengepalkan kedua tangannya. Giginya gemerutuk menahan emosi, tapi dia harus tenang- ya harus tenang.


"Aku akan ke perkebunan Arion besok pagi!" gumamnya.



**DUH MANTEN BALU EHEM


YUHUU JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA

__ADS_1


SEE YOU NEXT TOMORROW


BABAYY MUUAACCHH**


__ADS_2