
Mobil yang di kendarai Arion berjalan santai. Setelah Pramono memutuskan untuk pulang, tidak lama Arion pun mengikuti jejak Kakeknya. Arion memutuskan untuk pulang, kepalanya yang sedikit berdenyut- membuat pria itu mengakhiri pekerjaannya lebih cepat.
Arion sudah tidak sabar ingin membaringkan tubuh lelahnya ditempat tidur. Memejamkan kedua matanya- merasakan pijatan dan belaian lembut di kepalanya, menikmati ciuman yang di berikan Ai-,
CIITT!
Arion menginjak pedal remnya sekuat tenaga saat melihat sebuah mobil menyalipnya, lalu berhenti di depannya. Arion menghela napas kasar, ingin sekali dia mengumpati pengendara arogan itu- tapi Arion memilih untuk menahan emosinya.
Pria berkucir itu melepaskan sabuk pengamannya, Arion keluar dari mobil- dia ingin memastikan siapa yang sudah menghalangi jalannya.
Tok
Tok
Arion mengetuk beberapa kali, berharap sang pengemudi keluar dari dalam mobilnya. Tapi sepertinya sang pengendara tidak menggubris ketukan Arion. Kaca mobil yang gelap, menyulitkan Arion untuk melihat siapa pemilik mobil ini.
Tok
Tok
Tok
Ketukan yang Arion berikan semakin bertambah kencang, dia berharap kalau sang pengendara akan meresponnya.
"Siapa pun kau, keluarlah! jangan menjadi seorang pengecut!"
Arion sudah terlanjur kesal, selain mobil ini menghalangi jalannya- waktu yang Arion miliki pun terbuang percuma.
__ADS_1
"Kau dengar!" Arion kembali berujar.
Dengan kesal Arion menendang ban mobil yang menghalangi jalannya, dia memilih berbalik dan kembali ke arah mobilnya. Namun baru beberapa langkah Arion berjalan, pintu mobil itu terbuka- membuat Suami Aisya itu kembali berbalik dan,
JLEB!
Arion mematung, jakunnya naik turun saat merasakan benda dingin menusuk perut bawahnya. Kedua mata Arion berkedip lambat, saat melihat wajah orang yang menusuknya- bukan wajah melainkan kedua mata tajam penuh dendam padanya.
Bugh!
Bahkan tanpa perasaan orang bertopeng itu menghantam kepala Arion, menggunakan pegangan pisau belati yang sudah dia tarik dari perut Arion.
Kemeja yang Arion pakai sudah basah kuyup terkena darahnya sendiri, bahkan kepala Arion yang terkena hantaman semakin berdenyut.
Arion berusaha agar tetap sadar, satu tangannya menekan luka di perutnya- Arion mempertahankan kesadarannya agar dia tetap bisa hidup lalu pulang.
Dengan tanpa perasaan dia mendorong tubuh Arion hingga tersungkur, dan sekali lagi dia menghantam wajah Arion menggunakan tangan kosong.
"Aku akan menanti kabar kematian mu. Sepertinya tusukan yang aku berikan sudah cukup membuatmu kehilangan banyak darah- lalu mati."
Pria itu terkekeh, dengan gerakan lambat dia mengusap pisau belatinya. Tanpa peduli lagi dengan keadaan Arion, pria bertopeng itu kembali ke arah mobilnya dan segera meninggalkan korbannya sendiri.
Arion yang sudah berkeringat dingin, kedua kakinya melemas, bahkan detak jantungnya semakin menggila- karena luka yang ada di perut bawahnya semakin terasa.
Arion menghirup napas dalam, pria itu berusaha bangkit- sekuat tenaga Arion menegakan tubuhnya. Bahkan dia merangkak, agar bisa menjangkau mobilnya. Darah yang keluar dari luka tusukan itu semakin banyak, bahkan kemeja abu abu yang Arion pakai saat ini terlihat basah, hingga cairan merah itu menetes ke tanah.
"Aku kuat, ini bukan apa apa!" gumamnya.
__ADS_1
Arion menjangkau handle pintu mobilnya dengan susah payah, karena satu tangannya lagi dia gunakan untuk menekan lukanya- Arion meringis saat denyutan di kepalanya semakin terasa.
Arion meletakan kepalanya di kemudi, napasnya naik turun- Arion masih berusaha mempertahankan kesadarannya, minimal sampai rumah atau tempat ramai.
Kalau pun dia mati, akan ada orang yang menemukannya- kalau dia sampai selamat Arion akan lebih bersyukur.
"Aisya,"
Hanya satu nama itu yang mampu Arion panggil, sebelum pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi- setelah Arion melepaskan kemejanya untuk dia sumpalkan pada luka yang ada di perutnya.
Disaat Arion tengah bertaruh nyawa, Aisya terlihat melamun- bahkan wanita itu sampai tidak menyadari kalau air kran sudah penuh dan tumpah.
Hingga Aisya tersadar dan menyenggol mangkuk kaca yang tengah dia cuci.
"Astagfirullah," Aisya mengusap dadanya karena terkejut, reflek wanita itu menyentuh pecahan kaca- hingga akhirnya ujung jari telunjuk Aisya yang terluka.
Detak jantungnya semakin menjadi, hatinya terasa tidak nyaman- bahkan setelah Aisya berusaha menenangkan diri tapi tetap saja tidak berhasil.
"Ya Allah, jagalah orang orang yang aku sayangi," doa tulus Aisya.
**BUNGA PAIT ITU BANG ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
SEE YOU DI BAB BERIKUTNYA MUUAACHH**
__ADS_1