Kiblat Cinta A

Kiblat Cinta A
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Braak!


Aisya mengernyitkan dahi saat mendengar suara pintu mobil tertutup keras. Wanita bergamis mocha rumahan itu segera membilas tangannya, lalu berlari menuju depan.


Aisya yakin kalau suaminya, tapi kenapa Arion kembali lagi? apa ada sesuatu yang tertinggal?


Aisya berpikir berat sembari terus saja berjalan menuju ruang tamu. Bahkan Nenek Imma yang baru saja keluar dari dalam kamar, terlihat mengikuti langkah cucu menantunya.


"Kenapa Rion pulang lagi, apa ada yang ketinggalan?"


Aisya sedikit terperanjat saat mendengar suara Nenek Imma dari belakang tubuhnya. Wanita berhijab Navy itu menggelengkan kepalanya pelan, Aisya juga tidak tahu kenapa Arion pulang lagi.


Tapi saat Aisya membuka pintu, kedua wanita beda usia itu membatu di tempat- saat melihat siapa yang berkunjung kekediaman mereka.


Seorang pria paruh baya, dengan penampilan mewah- jas mahal, kemeja, sepatu hingga celana yang dipakainya, tidak bisa dikatakan murah.


Jangan lupa dengan kaca mata hitam yang terpasang di kedua matanya. Pria sepuh itu menggulirkan kedua matanya liar, sepertinya dia tengah memindai tempat yang tengah dia jejaki saat ini.


Belum hilang rasa terkejut Aisya dan Nenek Imma, saat melihat kedatangan pria tua- mereka kembali di kejutkan oleh seorang wanita yang baru saja keluar dari dalam mobil, sembari menggandeng balita perempuan.

__ADS_1


"Pramono," gumam Nenek Imma, tapi gumamnya itu masih dapat Aisya dengar.


"Marina," kini giliran Aisya yang bergumam, tapi Nenek Imma tidak mampu mendengarnya.


Aisya mencengkram unjung gamisnya, saat melihat Marina dan pria paruh baya itu mendekat. Keduanya terlihat sangat angkuh terkesan arogan. Bisa dilihat dari cara mereka saat menatap area rumah Nenek Imma, terlihat begitu merendahkan.


"Selamat pagi menjelang siang, Imma," sapa Pramono.


Nenek Imma tidak menjawab, wanita sepuh itu menatap tajam pada besannya. Nenek Imma masih mengingat jelas, bagaimana Pramono memperlakukan Rizal dulu.


"Mau apa kamu kesini?" tanya Nenek Imma sinis.


Dia benar benar tidak suka dengan pria tua sombong dan haus akan harta ini. Sedari dulu Pramono menghalalkan segala cara demi tercapai semua keinginannya- termasuk merusak kebahagian putri semata wayangnya- Chintya.


"Kalian tidak mau menawarkan kami duduk, atau beginikah cara orang kampung saat menyam-,"


"Maaf, silahkan masuk!" sela Aisya cepat.


Wanita berhijab itu tidak ingin mendengar pria tua yang ternyata Kakek dari suaminya ini, mengeluarkan kata kata yang bisa menyakiti hati Nenek Imma.

__ADS_1


Pramono mengalihkan pandangannya pada Aisya, kedua mata pria tua itu memindai Sang Bidadari Ranaspatih dari bawah hingga atas.


"Jadi kau wanita yang sudah membuat cucu ku berani melawan kakeknya sendiri?" tanya Pramono datar.


Nenek Imma yang melihat besannya mulai mengintimidasi cucu menantunya, terlihat semakin mendekat pada Aisya. Wanita sepuh itu berdiri tepat di depan wajah Pramono, menjadi tameng hidup bagi Aisya.


"Jangan pernah berani mengganggu cucu cucu ku! aku tidak akan membiarkan kamu berbuat seenaknya Tuan Pramono!" tukas Nenek Imma.


"Belajarlah dari pengalaman hidup mu. Kau pernah kehilangan sesuatu yang katanya paling berharga didalam hidupmu, karena keangkuhan dan keegoisan mu sendiri!" sambung Nenek Imma tak kalah tajam.


Aisya yang ada di belakang tubuh renta itu hanya mampu mengusap lengan Nenek Mertuanya, agar wanita sepuh itu tenang. Aisya tidak ingin melihat darah tinggi yang di derita Nenek Imma kembali kumat, karena kedatangan tamu tidak di undang.


"Aku hanya ingin bertemu dengan cucuku! jadi jangan pernah halangi aku, Imiyatun!" tegasnya.


Setelah mengatakan hal itu Pramono melangkah masuk, tanpa meminta izin terlebih dahulu dari Aisya dan Nenek Imma- diikuti oleh Marina dan seorang balita perempuan, yang sedari tadi menatap kearah Aisyah.



**SENYUMIN AJA DOLO

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA


SEE YOU NEXT PART MUUUUAAACCHH**


__ADS_2