
Aisya melipat bibirnya dalam, walaupun dalam hatinya ingin sekali dia bertanya banyak hal pada suaminya. Saat ini Aisya dan Arion tengah menikmati kelapa muda, yang Aisya inginkan tadi pagi.
Sementara Marina- wanita itu sudah pergi tanpa berucap apa pun, setelah mendengar ucapan Arion. Aisya dapat melihat kalau wanita yang bernama Marina itu, begitu tidak suka saat keduanya saling tatap.
"Ada yang ingin kamu tanyakan?"
Aisya sedikit tersentak, saat Arion melampirkan pashmina nya yang terjuntai, hampir menyentuh air kelapa mudanya.
"Emm- tadi itu siapa?" tanya Aisya hati hati.
Gadis itu menatap lamat suaminya, kedua matanya berkedip pelan saat melihat Arion membalas tatapannya. Bahkan Aisya dapat melihat senyuman tipis Arion, sembari memakan daging kelapa muda yang baru saja dia keruk menggunakan sendok.
"Istri Almarhum Gibran, cucu angkat Kakek," sahut Arion tenang.
Sangat tenang, membuat Aisya semakin menatap dalam pada suaminya.
"Kamu pasti sudah dengarkan cerita Nenek waktu itu. Pramono- Ayah dari Almarhumah Mama pernah mengadopsi seorang anak, demi Mama. Agar Mama marah dan kembali pada Kakek, tapi bukannya marah- Mama malah bersyukur karena Kakek memiliki teman," ujar Arion lagi.
"Dan akhirnya Gibran meninggal karena sakit." sambungnya.
Arion kembali menikmati kelapa mudanya, sementara Aisya- gadis itu hanya mengangguk pelan. Sebenarnya bukan itu yang ingin dia dengar. Aisya ingin tahu, kenapa wanita yang bernama Marina itu memanggil Arion dengan sebutan Papa. Sedekat apakah Arion dengan anak dari mantan kakak ipar angkatnya itu?
"Terus Milka Milka itu anak mereka?" tanya Aisya lagi.
Kedua mata indahnya berharap banyak pada Arion, mengharapkan jawaban yang bisa membuat hatinya tenang.
"Iya, Milka anak Gibran dan Marina," sahut Arion santai.
__ADS_1
"Jangan di pikirkan, bukan Abang yang menginginkan panggilan itu. Marina dan Kakek yang pertama mengajarkan Milka memanggil Abang Papa. Abang sama sekali tidak menyukainya, mungkin kalau anak kita yang manggil Papa, Abang bakalan senang mendengarnya," lanjutnya lagi.
Arion tersenyum penuh arti pada Aisya, tatapan kedua matanya terlihat lain- saat melihat gadisnya salah tingkah dan malu malu.
"Ayo habiskan air kelapa hijaunya,"
Aisya mengangguk kaku, wajah putih mulusnya memerah saat mendengar Arion tertawa kecil. Dia yakin kalau pria itu tengah menertawainya saat ini.
'Nyebelin ih!' pekik Aisya dalam hati.
🌴🌴🌴
"Assalamualaikum, Bundaaaaa Ciaaaa! spadaaaaa permisi punten kulonuwun!"
Suara cempreng Arumi, membuat penghuni rumah segera bergegas menuju pintu masuk.
Harumi tersentak, kala melihat pintu rumah terbuka. Bahkan gadis yang berusia 20tahun itu sedikit mundur, saat melihat sang pemilik rumah keluar.
"Eh Bunda, Ais ada disini enggak Bun? tadi Rumi ke rumah Nenek Imma- Aisnya enggak ada,"
Cia tersenyum kecil mendengar celotehan gadis berdarah campuran itu. Gadis yang selama dua tahun ini berusaha mengejar salah satu putra tampannya.
"Enggak ada, tadi pagi sih Ais ngambil motornya kesini. Katanya mau ngantar Arion ke perkebunan, soalnya kepala Arion pusing lagi kata Ais,"
Harumi menghela napas pelan sembari mengangguk kecil. Bibirnya mengerucut beberapa centi, membuat Cia ingin sekali menariknya.
"Ya udah deh, Rumi pul-,"
__ADS_1
"Eh ngapain pulang, ayo bantu Bunda masak dulu. Tadi Salma juga kesini nyari Ais, katanya mau ikut ngajar di rumah panti,"
Dahi Harumi berkerut mendengar Bunda Cia menyebut nama Salma, ternyata anak pak RT itu sudah mendahuluinya.
"Terus sekarang dia kemana?" Harumi memberanikan diri untuk kembali bertanya, dia akan siap lahir batin walaupun jawaban Bunda Cia tidak sesuai ekspetasinya.
"Ada didalam, tadi Salma maksa buat bantuin Nenek Mar bikin kue ubi,"
Jawaban yang di berikan Bunda Cia membuat Harumi sesak. Gadis itu bahkan terlihat susah untuk sekedar menelan salivanya.
Dia tertinggal lagi satu langkah dari Salmafina. Harumi yakin kalau Shaka akan semakin menyukai Salmafina sampai tulang sumsumnya. Padahal Harumi sendiri, sudah mencintai Shaka sampai sel, tapi pria itu sama sekali tidak menyukainya- walau hanya sedalam kulit ari.
"Ayo, Bunda lagi masak nih!" ajak Bunda Cia.
Harumi menghela napas pelan, gadis berambut panjang itu mengangguk dan tersenyum tipis pada Calon Ibu Mertua dambaannya.
BANG SHAKA 😘😘😘
**MAS ASKA 😍😍😍
SEE YOU TOMORROW
BABAYYY MUUUAACCHH**
__ADS_1