Kiblat Cinta A

Kiblat Cinta A
Habis Tak Bersisa


__ADS_3

"Saya hanya ingin bertemu dengan Arion! saya kakeknya, kalian berani sekali menghalangi saya masuk!"


Suara keributan dari luar membuat Arion mendongak. Pria yang tengah membolak balikan beberapa lembar kertas- menaikan sebelah alisnya. Arion yakin kalau itu adalah suara Pramono- kakeknya.


Pria berkucir itu bangkit, setelah dia melepaskan kaca mata bacanya. Tungkai panjang yang terbalut celana bahan hitam itu melangkah cepat, Arion memastikan kalau Pramono tidak akan membuat ulah di tempatnya.


"Apa kalian tuli huh!"


Suara keras Pramono membuat Arion tergesa, bahkan pria itu hampir saja tersandung saat hendak membuka pintu.


"Kakek!" panggil Arion pelan, dia berusaha sopan pada pria yang memang turut berperan penting di kehidupannya selama 6 tahun terakhir.


Walaupun Arion merasa bukan sebagai cucu satu satunya, melainkan robot berbentuk manusia yang di kendalikan penuh oleh Pramono.


Katakan saja Arion bodoh.


"Kamu menyuruh orang orang ini menghalangi Kakek, huh? kamu benar benar tidak tahu diri ya Arion. Kamu harus ingat, kalau kamu bisa seperti ini karena saya,"


Arion menghela napasnya pelan, pria itu mengisyaratkan pada satpam untuk pergi meninggalkan mereka berdua. Termasuk pada para karyawannya, yang terlihat sangat ingin tahu.

__ADS_1


Sebenarnya Arion tidak memerintahkan siapa pun untuk menghalangi Pramono masuk, Arion hanya menyuruh pak satpam dan karyawannya untuk menghimbau pada siapa pun agar tidak mengganggunya hari ini. Kebetulan Pramono hari ini ingin menemuinya, tanpa sepengetahuan Arion- jadi pria tua itu di larang masuk.


"Apa yang ingin Kakek bicarakan dengan ku?" Arion tidak ingin berbasa basi lagi, pria berkemeja abu abu itu mempersilahkan Pramono masuk kedalam ruangannya.


"Marina mengambil semua surat surat berharga milik Gibran."


Gerakan tangan Arion terhenti di udara, saat dia akan menuangkan satu gelas teh tubruk tawar untuk Pramono. Dahinya berkerut mendengar ucapan Kakeknya, namun perlahan senyuman tipisnya terbit.


Arion berjalan mendekat pada Pramono sembari membawa dua cangkir teh. Dengan sopan dan pelan, karena mau bagaimana pun Arion harus tetap menghormati pria tua ini.


Sebagai Ayah dari Almarhumah Mamanya.


Pria berkucir itu menyesap tehnya, tanpa ingin mengalihkan pandangannya dari Pramono.


Pramono mendengus pelan, sepertinya pria tua itu enggan berbicara untuk saat ini. Pramono lebih meminum tehnya, wajah tuanya terlihat lelah- membuat Arion sedikit iba.


"Cucu menantu mu itu sudah kabur?"


Pramono mendelik, dari nada suara yang dia dengar- dia yakin kalau Arion tengah mengejeknya.

__ADS_1


"Marina membawa semuanya. Dia tidak menyisakan sedikit pun, dan kabarnya Marina menjual seluruh aset Gibran pada seorang pengusaha di Aussie. Semuanya habis Arion, dan semua ini gara gara kamu yang tidak mau menerima Marina!" sungut Pramono.


Pria itu menatap nyalang pada cucunya, sedangkan Arion hanya mengernyitkan dahi mendengar ucapan kakeknya.


Pria tua ini menyalahkan dirinya? setelah di rampok oleh cucu menantu kesayangannya. Bolehkan Arion tertawa kali ini?


Arion semakin menaikan sudut bibirnya, senyuman sinis dan remehnya kembali hadir bahkan semakin jelas.


"Kenapa kakek malah menyalahkan ku. Bukankah Kakek tahu kalau aku sudah menikah- ya walau aku belum menikah, tidak akan mau menikahi cucu menantu kesayangan mu itu," ucap Arion cukup tenang, dia berusaha tidak emosi.


Arion mencoba memahami perasaan pria tua ini, mungkin Pramono saat ini tengah patah hati- karena di tinggalkan pergi jauh oleh berkas berkas penting milik Gibran.


"Kenapa bukan Kakek saja yang menikahi wanita itu? dengan begitu Kakek bisa memiliki keduanya bukan? cucu lalu cicit kesayangan, dan harta kebanggaan yang Kakek inginkan." sarkas Arion, kali ini dia tidak dapat menahan lidahnya sendiri.



**YA ALLAH LAKIK MU AI 😫😫😫😫


SEE YOU DI BAB BERIKUTNYA BABAYY MUUAACCHH😘😘**

__ADS_1


__ADS_2