
"Kenapa lihatin kayak gitu banget sih? udah sana, ngapain masih di sini. Bantuin juga enggak, cuma ngelihatin tanpa niat bantu," ketus Harumi.
Gadis berwajah oriental itu berusaha tak acuh pada pria pujaan hatinya, walau pun sebenarnya, didalam lubuk hati Harumi yang terdalam- tidak ingin kalau Shaka sampai pergi.
Dia melalukannya hanya ingin melihat, apakah saat dirinya abai dan acuh tak acuh- Shaka akan lebih peka pada perasaannya selama ini.
"Ketus banget sih! lagi PMS?" sahut Shaka nyolot.
Gerakan tangan Harumi terhenti, ingin rasanya dia membuka mulutnya lebar saat mendengar ucapan Shaka. Pria menyebalkan yang sayangnya dia cintai sepenuh hati ini, malah mengajaknya berdebat. Harumi menghela napas kasar, kalau saja Bunda Cia mengizinkan dia untuk memukul kepala Shaka dengan kunci Pas yang saat ini di pegangnya- dengan senang hati akan Harumi lakukan.
Shaka amnesia mungkin itu akan lebih baik bukan. Harumi akan membuat Shaka jatuh cinta padanya, dan melupakan gadis yang menjadi rival terberatnya.
Sepertinya itu bukan ide yang buruk, patut di coba bukan? bilang saja kalau Shaka mengalami kecelakaan di perjalanan.
Muueehheeee...
Tawa jahat Harumi menggema didalam hatinya, seringai kecil dibibirnya perlahan terbit. Harumi mengeratkan genggamannya pada kunci besi yang dipegangnya. Memantapkan hati, untuk melakukan suatu hal yang akan sangat berharga untuk masa de-,
"WOI! malah ngelamun! kesambet setan irigasi tau rasa,"
Harumi tersentak, dia benar benar sangat terkejut. Bahkan dirinya tidak menyangka akan memikirkan rencana jahat pada Shaka.
'Ya Tuhan maafin Rumi,' gumamnya dalam hati.
__ADS_1
"U-udah deh, Bang Shaka pergi aja sana!" usirnya secara terang terangan.
Shaka mendelik horor pada Harumi, pria berwajah tampan itu kembali mendekat pada gadis yang berkali kali dia tolak cintanya.
"Wah wah wah, lama lama gak tau diri nih bocah. Awas sana, benerin dari tadi gak bisa bisa! sok sok'an ngusir orang lagi!" sungut kesal Shaka.
Pria berambut hitam itu menggeser tubuh Harumi dengan cara menarik kerah gaun bagian belakangnya dengan kasar. Membuat tubuh sang gadis terseret menjauh dari mobil.
Harumi menghentakan kedua kakinya kesal, namun kedua matanya tidak dapat berbohong kalau saat ini dirinya begitu bahagia.
'Bagaimana caranya, biar aku benci sama kamu. Berkali kali kamu mematahkan hatiku, tapi aku tetap saja bodoh dan malah semakin mencintaimu begitu dalam, Arshaka.' gumamnya dalam hati.
🌴🌴🌴
Langkah Pramono terhenti, saat mendengar suara Marina. Wanita beranak satu itu melangkah cepat ke arah Pramono.
"Ada apa?"
Marina terdiam sejenak, wanita itu terlihat menghela napasnya perlahan sebelum berbicara kembali.
"Apa benar Arion sudah menikah?" tanyanya penuh tuntutan.
"Apa benar Arion menikahi gadis dari masa lalunya? kenapa Kakek diam saja, kalau itu benar terjadi, lalu bagaimana dengan rencana-,"
__ADS_1
"Aku pastikan Arion akan kembali ke rumah ini, secara baik baik atau pun dengan sedikit paksaan," sela Pramono cepat.
Pria sepuh itu meyakinkan Marina, kalau Arion akan kembali ke kekediamanannya. Meninggalkan rumah gubuk dan istri miskinnya. Pramono yakin Arion akan menyerah, saat Arion merasakan bagaimana rasanya hidup susah- dan merintis usaha dari nol.
Akan butuh waktu dan uang, Pramono yakin kalau Arion akan kembali padanya- saat cucu semata wayangnya itu membutuhkan bantuan darinya.
"Aku pegang janji Kekek, kalau sampai meleset- perjanjian kita batal!" ancam Marina pada Pramono.
Janda beranak satu itu meninggalkan Pramono begitu saja, tanpa ingin menoleh lagi.
Sementara Pramono, pria sepuh itu mengumpat berkali kali didalam hatinya. Menyumpah serapahi Marina dan cucu angkatnya- Gibran. Kalau bukan karena Gibran yang ceroboh dan buta karena cinta, separuh asetnya tidak akan pindah tangan pada si wanita sialan itu.
PUNYA BANG RIMBA
MARINA AAWWW
**SEE YOU TOMORROW
BABAYY MUUAACCHH**
__ADS_1