
Arion memperhatikan seksama para pekerja di perkebunan kelapanya. Orang orang tangguh itu begitu gesit saat memanen ratusan buah kelapa, seakan tidak kenal lelah- padahal waktu sudah menunjukan pukul 11.45 siang.
Matahari hampir mencapai ubun ubun, dan artinya sebentar lagi akan memasuki waktu makan siang dan sholat Dzuhur.
"Ini sudah waktunya istirahat, Pak Nyoman tolong beritahu semua pekerja untuk beristirahat!" Arion melirik jam di tangannya.
Pria berkemeja abu abu itu menepuk pundak Sang Mandor, sebelum dia pergi menuju sa'ung atau pondok kecil yang menjadi tempat beristirahat para pekerja perkebunan.
Arion membuka dua buah kancing kemejanya, hari ini cuaca cukup terik. Membuat Arion meneguk air mineralnya rakus, entah sudah berapa banyak air mineral yang dia minum siang ini.
Semilir angin tidak mampu membuat rasa panas di tubuhnya berkurang. Arion malah membayangkan kalau dia berendam di bak mandi, atau di sungai kecil yang dia lewati bersama Aisya tadi.
"Pak Arion mau makan siang? kalau berkenan saya akan carikan dulu mak-,"
"Tidak usah Pak Nyoman, nanti makan siang saya akan diantar kesini," sela Arion.
Pria paruh baya yang bernama Nyoman itu mengangguk pelan, sebelum dia pergi untuk mengambil jatah makan siangnya di Camp.
Sedangkan Arion, pria muda itu memilih untuk berbaring diatas tikar lusuh tanpa risih. Merasakan semilir angin yang menerpa wajah dan tubuhnya, entah karena nyaman atau lelah- Arion perlahan memejamkan kedua matanya.
Arion terlihat nyaman dengan posisinya sekarang, bahkan saking nyamannya dia tidak menyadari kalau ada seseorang tengah mendekat padanya. Terbersit senyum di bibirnya, saat melihat Arion tengah memejamkan kedua mata. Perlahan dia duduk di tempat kosong yang Arion tiduri dengan nyaman.
Satu tangannya terulur untuk menyentuh wajah tenang dan lelah Arion. Sentuhan lembut seringan bulu, membuat Arion terusik- dan perlahan membuka kedua matanya.
Pria berkucir satu itu menyunggingkan senyum tipis, saat melihat siapa orang yang ada disisinya.
"Kamu sudah sampai, Ai." Arion menegakan tubuhnya dengan sempurna. Dia mengabaikan kepalanya yang sedikit berdenyut karena tidurnya terganggu.
__ADS_1
"Bang Rimba capek ya? sampai ketiduran disini," ucapan Aisya begitu lembut dan terselip rasa khawatir di dalamnya.
Arion mengusap wajahnya pelan, sebenarnya dia tidak lelah- hanya kepanasan. Cuaca siang ini begitu menyengat, entah kenapa tidak seperti biasanya.
"Cuacanya panas, jadi Abang milih tidur disini. Lumayan sedikit sejuk, kalau berendam di air mungkin lebih segar."
Arion kembali membuka kancing kemejanya beberapa butir, memperlihatkan dada polos yang pelukable, membuat Aisya memalingkan wajahnya.
Wajahnya memerah, bukan karena cuaca yang panas- tapi pemandangan panas di hadapannya yang membuat wajah cantik bersemu merah.
"Ini makan siang Abang,"
Arion menoleh, pria itu menaikan sebelah alisnya saat melihat Aisya tidak mau menatap ke arahnya. Pria yang sudah membuka seluruh kancing kemejanya itu, menatap geli pada istrinya. Wajah bersemu Aisya terlihat begitu menggemaskan untuknya. Hingga tanpa sadar, Arion mengulurkan tangannya- untuk menyentuh wajah Aisya.
"Kenapa menghindar? Abang disini, bukan disana Ai,"
"Malu ih," rengeknya.
Aisya menepis pelan tangan Arion di dagunya, bukan karena tidak mau di sentuh oleh Arion- tapi karena dia malu.
Dan Arion pun terlihat tidak tersinggung atau pun marah. Arion malah mencubit hidung Aisya dengan gemas- membuat gadis itu terpekik kecil.
"Bang Rimba,"
Arion tergelak saat melihat Aisya menatap kesal padanya, bahkan tanpa canggung gadis itu memukul dan membalas cubitannya dua kali lipat. Peringatan untuk kalian para cowok, jangan pernah berani menyakiti cewek, kalau tidak mau di balas lebih dari itu.
"Aaww! sakit Ai,"
__ADS_1
Arion semakin menggoda Aisya, saat gadis itu mencubit perut serta dada telanjangnya. Sedangkan Aisya, dia semakin di buat kesal oleh suaminya, yang terus saja menjahilinya tanpa henti.
Hingga, canda tawa mereka terhenti- saat keduanya mendengar sayup sayup suara dua orang manusia mendekat ke arah mereka.
"Kenapa Pak Aslam tidak bilang kalau jalannya jauh! kalau tahu jauh kenapa tidak pakai mobil saja!"
Suara seorang wanita yang tengah mengomel, membuat Arion mendekat pada Aisya. Arion tahu betul itu suara siapa, maka dari itu dia harus memastikan kalau wanita itu tidak macam macam di perkebunannya, terutama pada Aisya.
Tapi kenapa wanita itu bisa ada di sini? ada perlu apa dia jauh jauh ke perkebunan kelapanya.
"Namanya juga kebun Nona Marina, kalau mau memakai mobil, lebih baik anda pergi ke Ragunan atau Taman Bunga saja,"
Marina berdecak tidak suka mendengar ucapan Aslam. Janda beranak satu itu mempercepat langkahnya, sedikit kesusahan karena heels tinggi yang dia pakai.
"Itu siapa Bang? kenapa sama Pak Aslam?" tanya Aisya pelan.
***AAAIIHHH BANG RIMBA BIKIN DEDE AIS TREMOR πππ
MAMPIR YUK GAESπππ
SEE YOU NEXT TOMORROW
BABAYY MUUAACCHH***
__ADS_1