
Shaka memilin jarinya karena gugup. Diam diam sudut matanya melirik pada pria berwajah oriental yang saat ini tengah sibuk dengan ponselnya.
"Kamu mau bicara apa sama Om Ka? kemarin buru buru pulang, kenapa?"
Shaka tersentak, pria itu menoleh pada pria paruh baya yang terlihat tengah menatap menyelidik padanya.
"Eem- kemarin aku kebelet Om, hehe maaf," kilah Shaka.
Aslam mengernyitkan dahi, namun tak urung pria setengah baya itu mengangguk paham dengan alasan yang di berikan Shaka.
"Jadi, sekarang?"
Shaka melirik pada Harumi yang tengah asik memakan kuaci, kedua mata sipit sang gadis terus saja terarah ada ponsel yang di pegang pria Jepang itu.
"Aku mau ajak Rumi ke rumah!"
"Uhuk!"
Ucapan Shaka spontan membuat Harumi tersedak kuaci. Bahkan pria Jepang yang sedari tadi hanya fokus pada ponselnya, terlihat khawatir kala melihat wajah memerah Harumi.
"Harumi-chan, pelan pelan saja!"
Kenziro memberikan jus sayur miliknya pada Harumi, berharap kalau gadis itu akan lebih baik.
Semua interaksi Harumi dan Kenziro tidak lepas dari mata tajam Arshaka. Salah satu tangan pria itu mengepal erat, manik mata tajamnya terus saja terarah para dua sejoli yang terlihat begitu dekat.
'Tahan Shaka tahan!'
__ADS_1
"Shaka, kenapa kamu mau ajak Rumi ke ru-,"
"Aku mau minta Ayah buat lamar Rumi!" tegas Shaka.
Pria berdarah Syarief itu menatap lekat pada Aslam. Terlihat begitu serius dan tidak main main. Bahkan Shaka terlihat belum memperdulikan Harumi yang kembali tersedak jus yang diminumnya.
"Izinkan aku bawa Rumi ke rumah sebentar Om!" sambungnya lagi.
🌴
🌴
🌴
Arion menatap sendu pada Pramono. Lima belas menit yang lalu pria tua itu siuman. Pramono yang masih lemah, bahkan alat penunjang kehidupan masih melekat di tubuhnya.
Oksigen yang terpasang di lubang hidungnya membuat Pramono sedikit bisa bernapas lega. Satu tangan lemahnya terulur, berusaha meraih tangan Arion. Tatapan sendu penuh penyesalannya terus saja tertuju pada Arion.
Bahkan Pramono harus tergagap, mata sendunya berkedip lambat. Senyum tipisnya mengembang kala Arion meraih uluran tangannya.
"Aku sudah maafin Kakek. Istirahat, kata dokter Kakek enggak boleh banyak pikiran- nanti collapse lagi,"
Arion meletakan tangan Pramono di balik selimut rumah sakit yang membungkus tubuh ringkih Sang Kakek. Dalam hati Arion tengah memanjatkan banyak doa untuk kesembuhan Kakeknya, berbanding terbalik dengan sikap cueknya saat ini.
"Ma-afkan Kakek," ujar Pramono lagi.
Arion yang sedari tadi sudah mati matian menahan air matanya, kini dia tidak sanggup menahannya. Pria berambut gondrong itu segera memeluk tubuh tua, pria yang selalu egois dan bersikap diktaktor padanya.
__ADS_1
Arion menangis tanpa suara, mau bagaimana pun Pramono tetap kakek kandungnya. Dia memang sempat marah dan kecewa, tapi saat melihat pria tua egois itu tidak berdaya- jiwa melankolis Arion seketika muncul.
Bahkan Arion melupakan Aisya, wanitanya yang saat ini tengah ikut terisak kecil- tidak jauh dari ranjang pesakitan kakek mertuanya.
"Sam-paikan pa-da istrimu, Kakek min-ta maaf,"
Pramono memejamkan kedua matanya, sesak di dadanya kembali terasa karena pria sepuh itu harus menahan tangisannya. Mata tuanya berkedip pelan, saat melihat seorang wanita berhijab mendekat padanya.
Air mata sang wanita yang terus mengalir, membuat Pramono mematung. Wanita muda ini menangisinya, menangisi keadaannya, setelah apa yang pernah dia lakukan.Terbuat dari apa hatinya?
"Kakek bisa bicara sendiri pada Aisya,"
Arion melepaskan pelukannya, pria itu menyeka air matanya kasar. Bahkan Arion memalingkan wajahnya ke arah lain, saat melihat Aisya mendekat.
"Ai-syah?"
Aisya menipiskan bibirnya, tanpa ragu wanita itu meraih tangan lemah Pramono lalu menciumnya takzim.
"Kakek cepat sehat," ujar Aisya bergetar.
Pramono tersenyum getir, betapa jahatnya dia dulu- saat dirinya memisahkan kedua sejoli ini. Hanya karena harta dunia, dirinya menghalalkan segala cara- termasuk memisahkan Arion dari kehidupan masa lalunya dan gadisnya.
"Ka-kek ti-tip Ari-on, maafin Kakek Aisya," lirihnya susah payah.
Aisya tidak bersuara, wanita muda itu mengangguk- senyuman dan air matanya terus saja mengalir dan terbit secara bersamaan. Sampai akhirnya Arion terlihat panik, saat melihat Pramono kembali lemah dan tidak sadarkan diri.
__ADS_1
**OTHOR JAHARA IH SAMA AKI PRAM
SEE YOU MUUUAAACCHH😘😘😘**