Kiblat Cinta A

Kiblat Cinta A
Malam Yang Mengejutkan


__ADS_3

Waktu sudah menunjukan pukul 21.15 malam. Hujan gerimis mengiringi perjalan pulan Arion dan Aisya, sepasang suami istri itu saling memberikan ketenangan lewat tatapan mata. Arion mengisyaratkan kalau mereka akan segera sampai di rumah sebelum hujan turun lebih deras.


Suasana jalanan yang sepi, membuat Aisya sedikit was was. Padahal jalanan ini sering dia lewati, mungkin karena malam ini hujan- walaupun hanya gerimis, para warga enggan keluar rumah.


Aisya hanya dapat melihat sorot lampu dari sebuah mobil yang berada di belakang mereka. Aisya meyakini kalau mobil itu juga baru pulang, sama sepertinya dan Arion.


Duk!


Tubuh Aisya hampir saja terhuyung kedepan, kalau saja Arion tidak menghalangi dahinya menggunakan telapak tangan- mungkin Aisya sudah terbentur dasboard mobil.


"Ada apa?" tanya Aisya khawatir, saat mobil yang mereka naiki berhenti ditengah jalanan sepi.


"Kamu tunggu di sini, kayaknya ban mobil kita bocor," Arion mengusap pipi istrinya, guna menenangkan kalau semuanya akan baik baik saja.


"Tapi diluar hujan," cegahnya.


Aisya mencengkram lengan suaminya saat melihat Arion hendak keluar dari dalam mobil. Kondisi saat ini tidak memungkinkan Arion untuk mengganti ban mobil, selain gelap- hujan pun terlihat mulai turun deras.


"Kamu tunggu di dalam, ingat jangan keluar. Abang bakalan cepat, jangan membantah suami,"


Aisya yang baru saja ingin membuka mulutnya hendak protes, terkatup kembali. Wanita itu hanya menatap ragu dan khawatir pada suaminya, tapi melihat Arion tersenyum yakin- Aisya juga yakin kalau semuanya akan baik baik saja.


"Jangan lama lama," pintanya.


"Enggak sayang, janji. Tunggu didalam, jangan keluar!"


Aisya mengangguk pelan, perlahan dia melepaskan cengkramannya. Membiarkan Arion keluar dari mobil, setelah pria itu membuka kemeja yang di pakainya- dan hanya menyisakan kaos polos berwarna putih.


Aisya mencengkram erat kemeja suaminya, mendekapnya erat untuk mencari kehangatan tubuh Arion.


Bermodalkan senter ponsel dan payung, Arion berjalan menuju ban mobil belakangnya. Pria berambut gondrong itu mende*sah kasar saat melihat kondisi ban mobilnya. Kedua ban mobil bagian belakangnya kempes. Kenapa bisa janjian seperti ini? apa mereka tidak tahu kalau ini bukan kondisi yang pas untuk kempes.

__ADS_1


"Gimana gantinya? kalau cuma satu sih enggak masalah, lah ini dua duanya. Mana ban serep cuma bawa satu lagi," gerutu Arion.


Mulutnya yang sedari menggerutu kini mulai terdiam, karena dia haris mengigir ponselnya- sedangkan kedua tangannya sibuk meraih ban cadangan yang ada di bak mobil Stradanya.


Payung kecil yang tadi Arion pegang, kini sudah berada diantara leher dan pundaknya.


Arion sibuk dengan ban mobil, sementara Aisya tengah sibuk dengan pikirannya sendiri. Hujan semakin deras, membuat Aisya semakin mengkhawatirkan suaminya. Sebenarnya Aisya ingin sekali keluar untuk membantu Arion, tapi dia tidak ingin di cap sebagai istri pembangkang- akhirnya Aisya hanya dapat memeluk kemeja Arion erat.


Menghirup aroma tubuh Arion yang menempel kuat disana. Aisya bahkan memejamkan kedua matanya, membiarkan rasa dingin mengantarkannya ke alam mimpi.


Namun baru saja Aisya terlelap, kedua telinganya menangkap suara pintu mobil terbuka. Dia yakin kalau Arion sudah menyelesaikannya, Aisya pun mutuskan untuk kembali membuka mata.


Wanita berhijab itu mengembangkan senyum tipis, namun senyumannya perlahan luntur- saat melihat siapa yang ada di sebelahnya. Detak jantung Aisya menggila, bahkan rasanya persendian di tubuhnya melemas saat melihat pria yang tengah tersenyum padanya.


Senyuman tipis yang terlihat seperti seringai, bahkan Aisya juga mencium bau anyir darah dari tubuh sang pria.


"Halo, Aisya," sapanya pelan.


"M-Mas Jeffri?" gumamnya pelan.


Reflek, Aisya menendang tubuh pria itu saat hendak mendekat. Aisya segera membuka pintu mobil, namun tertahan saat lengannya ditahan seseorang.


"Mau kemana, Sayang," Jeffri menyeringai, saat melihat wajah ketakutan wanita yang dia sukai ini.


"Mas Jeffri kenapa disini? apa yang,"


"BANG RIMBA!" pekiknya.


Aisya menjerit, saat melihat Jeffri di seret paksa oleh seseorang. Tubuh Aisya bergetar, dengan cepat wanita itu meraih ponsel yang ada di dalam tasnya.


Sedangkan Jeffri, pria gila itu tersungkur kedalam genangan air- saat satu bogeman keras yang dilayangkan Arion mengenai wajahnya. Arion terlihat sudah bertelanjang dada, sedangkan kaos polos yang tadi dia pakai, sudah membelit perutnya.

__ADS_1


Sepertinya luka Arion kembali berdarah, dan pria itu sengaja membalutnya menggunakan kaosnya.


"Urusan mu dengan ku brengsek, jangan pernah berani mengusik istriku!" tekan Arion.


Bugh!


Arion meringis, kala merasakan tendangan diarea lukanya. Bahkan kalau saja tubuhnya tidak siap, mungkin dirinya juga sudah tersungkur kebelakang.


"Aisya itu hanya milik ku, selamanya akan menjadi milik ku. Tapi kalau aku tidak bisa memilikinya, maka enggak akan ada orang yang bisa miliki dia!" kekeh Jeffri.


Pria bertubuh tinggi itu tertawa seperti orang gila di tengah guyuran hujan. Terlihat sekali kalau Jeffri tidak main main dengan ucapannya, pria berkaos hitam itu bangkit- menyeka darah yang keluar dari hidung dan sudut bibirnya.


Jeffri terlihat mengeluarkan sebuah pisau dari balik kaosnya. Sudut matanya melirik pada Aisya yang sudah berdiri di dekat pintu mobil. Wanita itu basah kuyup, tapi sepertinya tidak peduli. Yang Aisya khawatirkan saat ini adalah suaminya, dia tidak ingin Arion kembali terluka.


"Kau akan kehilangannya, sama seperti ku," ujarnya lagi.


Arion segera berlari menuju istrinya, saat melihat Jeffri menargetkan Aisya kali ini. Arion memeluk tubuh Aisya secara sempurna, dia berharap kalau pun Jeffri berhasil melayangkan tusukannya, hanya tubuhnya yang akan terluka.


Kedua mata manusia itu tertutup, dekapan mereka mengerat. Sekian detik merasakan sesuatu yang akan menimpa mereka, ternyata tidak ada yang terjadi. Hanya ada suara erangan seseorang yang tidak jauh dari mereka berdua.


Arion membuka kedua matanya, menatap Aisya khawatir dan tidak ingin kehilangan- lagi. Sedangkan Aisya, wanita itu membuka mulutnya lebar saat melihat Jeffri tersungkur di lumpur- karena salah satu kakinya di hadiahi timah panas oleh pengendara mobil, yang ada di belakang mereka tadi. Tanpa bersuara, tembakan itu meluncur begitu saja tepat di betis Jeffri.


"Anda tidak apa apa, Nona? Tuan Besar memberi saya tugas untuk mengawal anda sampai ke tempat tujuan dengan selamat, maaf kalau saya sedikit terlambat," ujarnya pelan, sembari menundukkan tubuhnya pada Aisya.



KAGET NENG AIS BANG


**HOLLA MET MALAM EPRIBADEH


JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN DAN HADIAHNYA

__ADS_1


MUUUUUAAAACCCHHHH😘😘😘😘**


__ADS_2