Kiblat Cinta A

Kiblat Cinta A
Berharap


__ADS_3

"Apa?!" teriaknya panik.


"Inalilahiwainailhi rojiun," sambungnya lagi.


Aisya menutup mulutnya karena terkejut, air matanya luruh seketika saat mendengar cerita Sang Bunda dari telepon.


Saat ini Aisya tengah berada di rumah, tepatnya di sisi Arion yang tengah tertidur. Waktu sudah menunjukan pukul 3 sore, saat ponselnya berdering- untung saja Aisya sudah bangun dari tidur siangnya.


Dan kini wanita itu terisak pelan, saat mendapat kabar mengejutkan dari Sang Bunda. Sahabatnya, temannya, gadis yang selalu berharap bisa menjadi kakak iparnya, dinyatakan hilang- karena pesawat yang ditumpanginya hilang kontak.


Padahal baru tadi pagi Harumi berpamitan padanya untuk berkunjung ke negara Mamanya, karena ada suatu hal yang harus dia selesaikan.


"Bunda tenang ya, Ais bakalan ke rumah sekarang! Bunda jangan nangis, kita doain semuanya baik baik aja," Aisya mencoba menenangkan Cia, walaupun sebenarnya di dalam hatinya tidak setenang nada bicaranya.


Ais segera mematikan ponselnya, pikirannya menjadi kalut. Terlebih lagi Sang Bunda mengatakan kalau Arshaka- Abangnya, nekat menyusul ke bandara untuk memastikan.


"Kamu kenapa, Ai?"


"Astagfirullah!" Aisya terperanjat kaget, saat mendengar suara Arion.

__ADS_1


Saking kalutnya dia sampai tidak menyadari kalau Arion sudah terbangun. Aisya segera memeluk tubuh suaminya erat, wanita itu terisak pelan di dada Arion.


Rasa sesak dan sakit tengah Aisya rasakan saat ini. Dia kembali teringat pada kejadian yang menimpa Arion 6 tahun yang lalu.


"Ssstt- ada apa? kenapa kamu nangis?"


Arion mengusap pelan surai indah milik istrinya, bahkan pria yang masih mode muka bantal itu membubuhkan banyak kecupan disana.


"Pe-pesawat yang Rumi naikin, hilang kontak. Ayo kita ke rumah Bunda, Bunda lagi nangis sendiri di rumah. Abang Shaka lagi pergi ke bandara buat masti'in," isakan Aisya semakin menjadi, bahkan Arion pun ikut terkejut mendengarnya.


                          🌴🌴🌴


Shaka berlari menuju area dalam bandara seperti orang gila. Dia tidak peduli dengan orang orang yang menatap aneh padanya. Bahkan Shaka sesekali menubruk tubuh pengunjung lain, saat dia berlari.


Arshaka terlihat berlari menuju kerumunan manusia. Jantungnya kembali bertalu dengan kencang, saat mendengar ucapan salah satu penumpang yang terpaksa delay.


"Semoga saja pesawatnya mendarat darurat di bandara lain,"


"Semoga saja, soalnya belum ada yang melaporkan pesawat tujuan Indonesia Jepang itu jatuh. Hanya dinyatakan hilang kontak, semoga saja memang hanya hilang kontak,"

__ADS_1


Kedua tangan Shaka terkepal erat, perlahan kedua kakinya melangkah lunglai. Pandangannya semakin berkabut saat melihat beberapa anggota keluarga penumpang terlihat berharap cemas.


Ada pula yang menangis saat salah satu petugas memberitahukan hal ini pada mereka. Petugas pun belum berani menyatakan pesawat tujuan Indonesia Jepang itu jatuh, karena belum ada laporan valid yang masuk.


"Saya harap anggota keluarga penumpang bersabar. Tim kami dan pihak terkait sedang berusaha mencari titik terakhir, saat kami kehilangan pesawat tujuan Indonesia Jepang," penjelasannya panjang lebar.


"Belum ada warga sipil melaporkan ada pesawat jatuh di perairan, atau pun di daratan. Kami semua berharap kalau para penumpang dan kru pesawat dalam keadaan baik baik saja," sambungnya lagi penuh harap.


Shaka yang tidak bisa berbuat apa pun, hanya bergumam dalam hati. Dia juga berharap kalau para penumpang pesawat itu baik baik saja- terutama Harumi dan keluarganya.


Kedua tungkai kokoh itu melemas, didalam pikirannya saat ini hanya ada Harumi Harumi dan Harumi. Isi otak Shaka hanya penuh dengan nama Harumi. Bahkan saat tadi dia berpas-pasan dengan Salma- gadis berhijab yang selama ini dia suka, Shaka sama sekali tidak menoleh atau memberi kode lewat klakson.


Shaka terus saja menatap lurus ke arah jalan, dengan tatapan cemas dan khawatir.


'Cepat pulang setan Jepang' lirihnya dalam hati.



**GUE TAGIH BESOK JANJI LU YA BANG

__ADS_1


SEE YOU TOMORROW


BABAYYY MUUAACCHH**


__ADS_2