
Aisya terus saja menggenggam tangan suaminya. Sudah hampir 30 menit lamanya Arion keluar dari ruang operasi, dan kini dia sudah ditempatkan diruang rawat inap.
Aisya terus saja menggumamkan banyak doa, agar suaminya segera sadar. Walaupun dokter yang menangani Arion sempat mengatakan, kalau Arion kehilangan banyak darah- Aisya merasa bersyukur Tuhan memberikan kemudahannya, tim medis mudah mendapatkan apa yang Arion butuhkan.
Kalau saat ini Aisya tengah bergumul dengan pikirannya- yang terus saja mengkhawatirkan Arion. Lain lagi dengan para pria yang ada di luar ruang rawat Arion, mereka terlihat serius- saat mendengarkan Opa Nagara berbicara.
"Tidak ada saksi mata, tapi Papi akan berusaha mencari siapa orangnya," Nagara menjeda, auranya tetap sama- dingin saat tidak bersama Lovyna.
Karena Lovyna saat ini tengah berada di kediaman mereka. Nagara tidak mengizinkan istrinya ikut, karena Nagara tidak ingin melihat istrinya khawatir. Maka dari itu Nagara meminta Lovyna agar tetap dirumah bersama Crystal dan cucu perempuannya yang masih remaja.
"Siapa orang itu? apa selama ini Arion punya musuh?"
Nagara menoleh pada Shaka, begitu pula yang lainnya. Ucapan Shaka memang masuk di akal, tapi siapa orang yang menjadi musuh Arion? bukankah Arion baru beberapa bulan ini dia kembali. Apakah ada sangkut pautnya dengan perkebunannya? atau-,
"Apa Arion pernah berurusan dengan seseorang?" Nagara kembali bertanya.
Pria yang usianya tidak lagi muda itu menatap pada anak, menantu dan cucunya secara bergantian.
"Aku akan menanyakannya pada Ais," semua orang menoleh pada Aska. Pria yang sedari tadi diam dan memperhatikan interaksi mereka, kini mulai angkat bicara.
Bahkan Aska segera bangkit, pria yang sedikit pendiam itu masuk kedalam ruang rawat adik iparnya.
"Kita tunggu, apa yang Aska dapatkan dari Ais," semuanya mengangguk, mendengar ucapan Nagara.
Aska mengedarkan pandangannya, pria yang usianya hanya beda beberapa menit dari Aisya itu menghela napas pelan- saat melihat adik kembarnya tertidur di telapak tangan Arion. Sementara di sofa, ada Sang Bunda juga juga tengah tertidur lelap- terlihat nyaman walaupun hanya di sofa.
__ADS_1
Perlahan Aska mendekat pada Aisya, satu tangan terulur untuk menyentuh kepala adiknya yang terbalut jilbab.
"Dek?" panggilnya lembut.
Bahkan Aska tidak segan berjongkok, agar dapat mensejajarkan tinggi mereka. Aska berusaha membangunkan Aisya dengan hati hati, Aska menyentuh wajah Aisya- menyelipkan beberapa anak rambut yang keluar dari jilbabnya.
"Dek, Kakak mau tanya sama kamu, boleh?"
Entah kenapa Aska sangat yakin kalau Aisya belum tertidur. Aisya tidak akan tidur nyenyak saat melihat keadaan Arion yang belum membaik.
"Kakak mau tanya apa?" sahut Aisya pelan, suaranya serak karena terlalu lama menangis.
Wanita itu menegakan tubuhnya, kedua matanya yang sembab tidak dapat Aisya tutupi. Bahkan saat sudut matanya tidak sengaja melihat Arion, yang masih terbaring di tempat tidur- air matanya kembali menggenang.
"Apa Arion punya masalah sama orang? apa kamu tahu sesuatu? ceritakan sama Kakak sekarang," Aska terus saja mencecar.
Aska yang pendiam, akan terlihat semakin menakutkan saat marah atau mengintimidasi lawan bicaranya.
"Ais?"
Aisya menelan saliva kasar, saat mendengar Aska memanggilnya dengan nada rendah.
"Be-beberapa waktu yang lalu, Bang Rimba memang berantem sama Mas Jeffri," ujar Aisya sedikit ragu.
Jujur dia tidak ingin mencurigai orang, tapi kalau sudah seperti ini Aisya pun tidak dapat berbuat apa pun- selain menceritakan semua yang dia tahu.
__ADS_1
"Jeffri? cowok yang pernah kamu tolak itu?"
Aisya mengangguk, dia mengiyakan ucapan Aska- tapi Aisya tidak ingin berburuk sangka dulu pada pria itu.
"Bang Rimba pernah berantem sama dia. Waktu Mas Jeffri tidak percaya kalau Ais sudah nikah. Bahkan Mas Jeffri bikin Bang Rimba marah, waktu dia bilang mau nunggu jandanya Ais,"
Dahi Aska semakin mengernyit mendengar penuturan adiknya. Apa boleh dia berpikir kalau Jeffri yang melakukannya? atau mungkin ada pihak lain, dan bukan pria itu pelakunya.
"Itu yang Ais tahu, selebihnya Ais enggak pernah tanya sama Bang Rimba," sambung Aisya.
Aska terus saja bergumul dengan pikirannya, entahlah Aska belum bisa mengetahui siapa pelakunya. Selain tidak ada barang bukti dan saksi, Arion pun belum sadarkan diri.
"Ya sudah, kamu istirahat lagi ya. Kakak sama yang lainnya ada di ruang sebelah, kita tidur disana,"
Aisya mengangguk pelan, kedua matanya terpejam saat Aska mengecup pucuk kepalanya- sebelum pria itu berlalu. Tapi saat Aska melewati Cia, pria muda itu berhenti- Aska mendekat pada Bundanya dan memberikan satu kecupan di dahi wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya itu.
"Aska keluar dulu ya Bun," bisiknya.
Selepas kepergian Aska, Aisya kembali memeluk lengan Arion yang terbebas dari jarum infus. Wanita itu kembali memejamkan kedua mata, mencoba untuk mengistirahatkan hati, raga serta pikirannya.
"Abang cepat sadar ya,"
**YA AWOH LAKIK ORANG 😫😫😫
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA YAAAAAA**