
"Saya akan ke lokasi hari ini. Siapkan saja semuanya, saya yakin Pak Aslam sudah paham. Baik terimakasih atas segala bantuannya,"
Arion mengakhiri percakapannya, dia menjauhkan benda pipih itu dari telinganya. Wajahn yang datarnya sangat terlihat sekali, namun saat Arion mengalihkan pandangannya ke arah lain- raut wajahnya perlahan melembut kala melihat seorang gadis berhijab tengah menyiram bunga di halaman rumahnya.
Arion menatapnya begitu dalam, bahkan tanpa berkedip sedikit pun. Pesona sang gadis secara perlahan mulai mengalihkan dunianya. Entah kenapa Arion merasa tidak asing dengan posisi saat ini, rasanya dia pernah mengalami hal ini.
Menatap seorang gadis dari jarak yang lumayan jauh, bahkan tempat mereka berpijak saat ini terpisahkan oleh jalan dan pagar besi. Namun rasanya Arion enggan sekali untuk mengalihkan pandangannya, hingga akhirnya sekelebat bayangan muncul.
Seorang pria berseragam abu abu putih yang diam diam menatap seorang gadis dengan seragam yang sama. Arion memejamkan kedua mata, dan meremas kepalanya kala rasa sakit dan denyutan itu semakin tidak dapat dia tahan.
"Aaakhhh!"
Akhirnya Arion berteriak cukup kencang, membuat Sang Gadis menoleh- bahkan Nenek Imma pun terlihat tergesa keluar dari rumah.
"Rion! kamu kenapa Nak?" panik Sang Nenek.
Arion tidak menjawab, pria berkemeja hitam itu masih memegangi kepalanya erat. Ingin rasanya Arion membenturkan kepalanya pada dinding, agar rasa sakitnya segera menghilang.
"Aaakkhhh!"
Teriakan Arion kali ini,berhasil membuat Sang Gadis segera berlari ke arahnya, meninggalkan pekerjaannya yang belum selesai- dengan raut wajah khawatir.
"Bang Rimba?" Sang Gadis segera berjongkok, tangannya berusaha mencegah Arion agar tidak menjambak rambutnya sendiri.
__ADS_1
"Bang Rimba ini Ais, lepasin jambakannya, oke! jangan kayak gini, nanti kepalanya tambah sakit." bujuknya.
Arion masih memejamkan erat kedua matanya, denyutan di kepalanya membuat dia ingin sekali muntah- namun sekuat tenaga dia menahannya.
"Lupakan! jangan berusaha mengingat kalau Bang Rimba memang tidak sanggup. Enggak apa apa kalau memang Bang Rimba enggak ingat lagi sama Ais, sama kita di sini. Jangan pernah memaksanya, Ais takut Bang Rimba kesakitan kayak gini, Ais sa-,"
Ucapan Aisya terputus, gadis itu mengigit lidahnya sendiri agar dapat menahan segala rasa yang hampir saja keluar tanpa dapat dia kontrol.
"Ayo Ais bantu berdiri!" Aisya dan Nenek Imma berusaha membangunkan Arion, dan mendudukkannya di sofa ruang tamu.
Aisya bahkan tidak sadar kalau dia sudah melakukan kontak fisik, yang selama ini dia hindari saat bersama pria yang bukan mahramnya. Karena panik, atau mungkin karena rasa nyaman dan tidak ada keraguan di hatinya.
Padahal Aisya tidak pernah mau ada pria selain Ayah dan Kedua Kakaknya- menyentuh permukaan kulit mulusnya.
Aisya segera meninggalkan Arion bersama Nenek Imma. Arion yang masih bersandar lemah di sandaran sofa, terus saja memijat kepalanya pelan. Denyutan dan rasa sakit di kepalanya berangsur mulai hilang, namun Arion masih belum bisa membuka kedua matanya.
Bayangan gadis berseragam abu abu putih, terus saja berputar di kepalanya- membuat Arion kembali mengerang kecil.
'Siapa gadis itu? kenapa aku tidak bisa melihat wajahnya?' batin Arion penuh tanya.
"Ini minumnya,"
Nenek Imma menoleh, wanita sepuh itu tersenyum haru pada Aisya- sembari meraih gelas berisi air ditangan Sang Gadis.
__ADS_1
"Rion, ayo minum dulu!"
Dengan bantuan Nenek Imma, Arion sedikit menegakkan tubuhnya- agar dapat meminum air yang dibawakan oleh Aisya.
"Apa kepala Bang Rimba masih sakit?" tanya Aisya lembut.
Gadis itu terlihat sendu, satu tangannya terulur untuk mengusap pelipis Arion, dan memberikan semacam minyak angin di bagian itu. Aisya berharap rasa sakit yang Arion derita akan berkurang- walau sedikit.
"Tidak apa apa, nanti juga akan hilang sendiri," sahut Arion terlihat tak acuh.
Membuat Aisya tersenyum kecut, dia berpikir kalau Arion mungkin tidak akan pernah mengingatnya lagi. Aisya tidak akan sanggup melihat Arion kesakitan hebat- kala pria itu mencoba mengingat atau memikirkan masa lalunya.
"Bang Rimba istirahat ya, Ais pulang dulu. Assalammualaikum, Nenek Bang Rimba," pamit Aisya.
Bahkan kedua mata Arion segera terbuka saat mendengarnya. Mulutnya hendak memanggilnya- namin terlambat, Aisya sudah keluar dari rumahnya.
'Kita akan bicara nanti, Ai.' ucapnya dalam hati.
PELAN PELAN AJA BANG, JANGAN BURU BURU BIAR ENAK
__ADS_1
KATA AKU JUGA PELAN PELAN AJA