
Aisya menatap kosong ke arah jendela, gadis itu membiarkan anak anak panti berkreasi dengan sendirinya. Hari ini Aisya memutuskan untuk berkunjung ke rumah panti, setelah dua hari belakangan ini- dirinya jarang menemui anak anak asuhnya.
Kesibukannya sebagai seorang istri, dan langkahnya tidak bisa sebebas dulu- membuat Aisya harus pintar mengatur waktu.
"Mom?"
Aisya tetap pada posisinya, gadis yang beberapa bulan lagi akan berusia 21 tahun itu tidak menyahut. Pandangannya tertuju ke arah luar jendela, menikmati hamparan pepohonan yang berjajar rapih di perbukitan.
"Mom, kita udah selesai,"
Aisya tersentak, gadis itu tertawa kecil saat melihat wajah kesal anak anak asuhnya. Karena melamun- dia sampai tidak mendengar panggilan mereka.
"Iya, ada apa? maaf tadi Mom Ais enggak dengar," ujar Aisya sedikit tidak enak.
Namun senyum Sang Bidadari Tuan Ranaspatih itu tidak luntur sedikit pun. Apa lagi saat melihat anak anak panti menghela napas pelan, Aisya yakin kalau dia sudah melamun terlalu lama tadi.
"Oh iya, gimana kalian udah bisa?"
Aisya segera mengalihkan pembicaraan, Sang Nyonya Ranaspatih mendekat- meraih beberapa buku gambar yang sudah terkumpul diatas tikar.
Senyuman manisnya terus saja terpatri, saat melihat beberapa gambar anak anak asuhnya. Terlihat unik dan begitu anak anak sekali, ada gambar pemandangan, rumah, bahkan bunga.
"Besok, Mom Ais mau bawa kalian jalan jalan sebagai hadiahnya. Gimana, kalian setuju?" ucap Aisya begitu bersemangat.
__ADS_1
Semua anak bersorak bahagia, bahkan mereka semua segera memeluk tubuh Aisya dengan erat.
"Terimakasih Mom Ais," ujar kesepuluh bocah itu serempak.
"Sama sama, sayang kalian banyak banyak," ujar Aisya begitu tulus.
🌴🌴🌴
Arion mengusap keringat di dahinya. Sore ini dirinya masih membantu Pak Nyoman dan Aslam di perkebunan.
Bahkan tanpa sungkan dan canggung, Arion ikut mengangkat beberapa kelapa yang baru saja di petik para pegawainya. Arion berbaur dengan mereka, tanpa menonjolkan kalau dia adalah owner perkebunan tempat para pegawainya mencari nafkah.
Entah kenapa, semenjak dia menikah dengan Aisya- sikap otoriter, angkuh, arogan, perfeksionis, serta bossy nya perlahan mulai pudar.
Bahkan karena terlalu apa adanya, Arion dengan berani mencintai seorang gadis berhati Bidadari milik keluarga Syarief. Mencintai sang Bidadari dengan apa adanya, Arion tidak pernah bersikap munafik- dengan menampilkan sikap sok alim dan baik di depan Keluarga Syarief.
Arion selalu bersikap apa adanya, karena memang itulah dirinya- untuk apa di tutupi oleh sesuatu yang bukan berasal dari hati.
"Pak Arion lebih baik istirahat dulu, biar kita yang lanjutin,"
Arion menghela napas pelan, kemeja baby blue yang di pakainya sudah tanggal sedari tadi. Menampilkan kaos putih polos pas body yang sudah basah karena keringat.
"Saya minum dulu ya Pak,"
__ADS_1
Pak Nyoman dan Pak Aslam mengangguk, keduanya menatap kagum pada atasan mereka. Lepas dari Pramono, membuat Arion bersikap lebih baik. Padahal dulu, Arion begitu mudahnya memecat karyawan- hanya karena kesalahan kecil.
Tapi sekarang, Arion bahkan sudi untuk membantu mereka secara langsung di perkebunan.
Arion mendudukkan diri di atas tumpukan buah kelapa, satu tangannya meraih satu botol air mineral- yang sudah di persiapkan Pak Aslam sebelumnya.
Kedua mata Arion memindai setiap sudut perkebunannya. Perkebunan yang sudah menjadi hak milik Istrinya- Aisya. Entah kenapa Arion merelakan perkebunan ini menjadi mas kawin pernikahan mereka saat itu. Bahkan beberapa hektar sawah, yang baru saja Arion beli- ikut masuk kedalam list mas kawin mereka berdua.
Otaknya tidak dapat mengingat janji yang pernah Arion ucapkan, tapi naluri serta hatinya berkata- kau memiliki sebuah janji saat menikahi gadis ini, dan janji mu adalah-,
"Maaf Pak Arion,"
Lamunan Arion pecah, pria berkucir satu itu menoleh setelah dia menegak habis air mineralnya.
"Ada apa?" tanyanya pelan.
"Ada seseorang yang mau bertemu sama pemilik perkebunan ini,"
**BIDADARI TUAN RANASPATIH😘😘😘
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA YA
__ADS_1
SEE YOU NEXT PART MUUUUAACCHH**