Kiblat Cinta A

Kiblat Cinta A
Serangan Jantung


__ADS_3

Suara keras yang di hasilkan EKG terdengar begitu menyayat hati. Seorang pria tua terbaring lemah di ranjang rumah sakit, dengan berbagai macam alat penunjang kehidupan menempel di tubuhnya. membuat Arion membisu, kedua matanya terus saja menatap lurus tanpa berkedip.


Membiarkan dokter menjelaskan semua yang terjadi pada Kakeknya. Sementara salg satu tangannya tidak pernah lepas dari pinggang wanita yang ada di sisinya.


"Tuan Pramono terkena serangan jantung, ini yang ke tiga kalinya. Sepertinya ada hal yang membuat jantungnya kembali kambuh,"


Arion tidak menjawab, pria berambut gondrong itu menunduk- menatap map coklat yang ada ditangannya. Map yang sempat di berikan oleh sekertaris Pramono saat dirinya tiba di rumah sakit.


"Kalau Kakek mu sudah sadar, bicaralah dengannya!" ujar Sang Dokter lagi.


Arion mengangguk, dia menatap kepergian dokter yang selama ini menangani kesehatan Pramono. Pria sepuh itu memang memiliki riwayat jantung, tapi selama 3 tahun belakangan ini Pramono tidak pernah mengalaminya lagi.


Pria tua itu selalu terlihat sehat, bahkan sangat sehat untuk orang tua seusianya.


"Bang Rimba?"


Arion menoleh, pria itu menipiskan bibir saat melihat wajah khawatir istrinya. Tangan Arion menjauh dari pinggang Aisya, beralih menyentuh wajah cantik sang istri.


"Marina menjual semua aset milik Gibran," ujar Arion pelan.


Pria itu mendongakkan kepalanya, menghela napas pelan- lalu kembali beralih pada Pramono yang masih enggan membuka mata. Aisya sendiri terdiam, wanita itu tidak tahu harus berkata apa. Yang jelas, Aisya yakin kalau kakek mertuanya pasti begitu terkejut dan terpukul mendengarnya.


"Bahkan ternyata, Milka bukan anak biologis Gibran. Marina sengaja mengambil semua aset Gibran, karena dia tahu kalau Milka tidak akan mendapatkan sepeserpun- kalau sampai Kakek tahu," Arion menjeda, pria itu menghirup napas dalam untuk menetralkan emosinya.


Arion juga tidak menyangka, selain gila ternyata Marina juga serakah. Bahkan dia tega membohongi Pramono yang begitu membanggakan dan menyayanginya. Bukan hanya berbohong, Marina pun merampok semua aset yang bukan miliknya. Karena, apa yang di miliki oleh Gibran, semua itu masih menjadi tanggung jawab Pramono- karena pria sepuh itulah yang membangun pondasi serta tiang perusahan yang pernah di kelola oleh Gibran.


"Dan sekarang semuanya terbongkar. Abang sudah yakin kalau Kakek bakalan tahu cepat atau lambat. Dari dulu Marina memang perempuan serakah, Kakek sama Gibran aja yang buta." sambungnya.


Aisya menoleh, dahinya berkerut dalam- kedua matanya memicing pada suaminya.

__ADS_1


"Jadi Abang udah tahu dari dulu?"


Arion tersenyum samar, netra tajamnya menatap teduh dan lembut pada Aisya. Bahkan dengan gemas pria itu mencolek hidung istrinya, lalu menariknya pelan.


"Hm, tapi percuma juga Abang ngasih tau mereka. Jadi ya, lihat kedepannya, sama sekali enggak meleset,"


Aisya menghela napas pelan, dirinya tidak menyahut. Aisya lebih memilih mengalihkan pandangannya ke arah lain, menatap lekat pada kakek mertuanya. Ada seuntai doa yang Aisya sematkan untuk Pramono, wanita itu berharap kalau pria sepuh itu segera pulih.


Walaupun hubungan mereka tidak baik, tapi Aisya tidak pernah berpikir buruk apa lagi berdoa yang tidak baik. Aisya yakin, kalau suatu saat Pramono akan menerimanya.


'Semoga Kakek cepat sehat,' doanya dalam hati.


🌴


🌴


🌴


"Ayo dong Shaka, kenapa lemah banget sih!" gumamnya pelan.


Shaka menghela napas kasar, dia tengah menyemangati diri sendiri. Hari ini Shaka harus bisa mengutarakan niatnya, sendirian- tanpa bantuan siapa pun. Shaka belum berani membawa Alkan atau pun Cia- Bundanya. Shaka akan memastikan terlebih dahulu, kalau sang gadis masih menempatkan dirinya di hati serta otak cantiknya.


"Loh ada Shaka?"


Tubuh Shaka menegang, saat ini pria itu tengah membelakangi pintu masuk. Shaka terlihat memejamkan kedua matanya, tubuh tegap tingginya masih ragu untuk berbalik.


"Shaka, kenapa diam? apa ada yang bisa Tante bantu?"


Shaka menelan saliva susah payah. Dia tidak ingin di cap tidak sopan, maka dari itu Arshaka memutar tubuhnya- agar dapat melihat wanita setengah baya yang saat ini tengah menatap heran padanya.

__ADS_1


"Assalamualaikum Tante,"


"Waalaikumsallam, mau ketemu Om ya? ya udah ayo masuk!"


Shaka menggaruk tengkuknya gugup, entah kenapa kegugupannya bertambah 2 kali lipat, saat mendengar ucapan Nyonya Subagiyo.


Kenapa wanita berdarah Jepang ini tahu kalau dirinya ingin berbicara dengan suaminya? apa mungkin wanita bermata sipit yang ada dihadapannya ini bisa membaca pikiran dan isi hatinya?


Kalau memang seperti itu, bisa berbahaya bukan?


"Ayo! Tante baru saja bikin soto ayam kesukaan Om Aslam sama Rumi. Kita makan bareng, oh iya Rumi juga masih diluar- mungkin sebentar lagi dia pu- nah itu dia!"


Shaka yang sempat tidak dapat berkata apa pun, kini menoleh- mengikuti arah telunjuk wanita yang ada di hadapannya. Kedua matanya menatap dalam pada gadis berkaos putih, yang baru saja keluar dari dalam mobil sembari menenteng beberapa kantong belanjaan.


Disusul oleh pria bermata sipit yang pernah Shaka lihat beberapa hari yang lalu. Kedua tangan Shaka tergenggam erat, rahangnya menegang saat melihat Harumi tertawa kecil bersama pria Jepang itu.


'Enggak boleh lari! ayo pasti bisa. Anggap aja tuh lakik, Setan Jepang yang harus di Bom Atom!' sungut Shaka dalam hati.



SENENG YE BANG



**BRYAN DOMANI EMANG COCOK BANGET BUAT JADI KARAKTER ARION 😭😭😭


JANGAN LUPA FOLLOW IG BANG BRY


JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA

__ADS_1


SEE YOU MUUUAAACCHH😘😘**


__ADS_2