Kiblat Cinta A

Kiblat Cinta A
Ikhlas


__ADS_3

Aisya mendorong kursi roda suaminya perlahan, saat ini keduanya sudah berada di salah satu rumah sakit swasta yang merawat Eyang Ilham.


"Abang jalan aja," pinta Arion untuk kesekian kalinya.


Sedari tadi Arion menolak untuk menaiki kursi roda. Tapi Aisya menggelengkan kepalanya tegas, wanita itu tidak mengizinkan Arion untuk berjalan.


Ayolah, Arion hanya operasi- bukan lumpuh, dia masih sanggup untuk berjalan. Arion tidak ingin membuat istrinya kesusahan apa lagi sampai kelelahan.


"Jahitan di perut Abang masih basah! diam, dan duduk dengan tenang!" titah Aisya tidak ingin di bantah.


Arion menghela napasnya lelah, sudah berkali kali dia memohon- tapi Aisya tidak mau mengabulkannya.


"Tapi kamu nanti kecapekan, Abang enggak mau kamu sakit. Abang belum pulih, nanti kalau kamu sakit siapa yang ngerawat,"


Aisya menunduk, kedua sudut bibirnya tertarik keatas mendengar ucapan manis suaminya. Entah kenapa Aisya merasa selama dua hari ini sikap Arion terkesan lebih manis dan manja. Bahkan terkesan genit dan nakal, sama seperti sikap Arion dulu- sebelum pria ini hilang dan lupa ingatan.


Apa mungkin?


Aisya menggelengkan kepalanya pelan, bolehkah dia berpikir kalau ingatan Arion sudah kembali sempurna, tapi suaminya sengaja menyembunyikan semua ini darinya.


"Sayang?" panggil Arion lembut.


Bahkan tanpa canggung Arion meraih satu tangan Aisya, lalu mengecupnya pelan- saat wanitanya berhenti melangkah dan tertanam di tempat.


"Kamu kena-,"


"Enggak apa apa, aku dorong lagi ya,"


Aisya menyela ucapan Arion, dia harus mengabaikan rasa penasarannya kali ini. Karena yang paling penting sekarang, mereka berdua harus segera sampai di ruang rawat inap Eyang Ilham.

__ADS_1


Aisya segera menuju lift, wanita itu mendorong kursi roda Arion sedikit kuat, agar mereka tidak ketinggalan. Untung saja suasana lift sedang sepi, hanya ada satu perawat wanita yang ada didalam lift- itu membuat kursi roda Arion tidak mengganggu tempat untuk orang lain.


"Sini!"


Aisya menunduk, saat Arion meraih jemari tangannya. Lewat isyarat matanya, Arion menyuruh Aisya untuk duduk di pangkuannya.


"Sini!" Arion menepuk kedua pahanya.


Namun Aisya masih diam ditempat, wanita itu merasa tidak enak pada perawat wanita yang sedari tadi melirik lewat sudut matanya.


"Sayang?" panggil Arion lagi, kali ini dia mendongak untuk melihat wajah istrinya.


Aisya memalingkan wajahnya, wanita itu menghela napas pelan- lalu membungkukan tubuhnya agar dia bisa berbisik pada suaminya.


"Abang diam jangan banyak gerak!" ucap Aisya penuh peringatan.


Sebenarnya dia ingin mengikuti permintaan suaminya, tapi karena rasa malu masih bisa Aisya rasakan- dia enggan mematuhi kemauan Arion. Terlebih lagi, perawat wanita yang berdiri tepat di sebelahnya terus saja melirik diam diam padanya dan Arion.


Aisya segera mendorong kursi roda suaminya saat pintu lift terbuka, langkah Aisya sedikit tergesa- membuat Arion mengusap lembut lengan istrinya agar tenang.


"Slow Babe," gumamnya pelan.


Arion khawatir kalau kursi rodanya terjungkal ke depan, mungkin rasa sakitnya tidak akan terlalu- tapi malunya yang tidak bisa dia hindari.


"Ruang Eyang ada di pintu VVIP nomor 9," ujar Arion.


Aisya mengangguk, wanita itu berjalan memutar- Aisya menghela napas lega saat melihat nomor ruangan yang sedari mereka cari.


Tanpa menunggu lagi Aisya segera mendekat, namun langkahnya terhenti saat dia mendengar suara isak tangis dari dalam ruang inap Eyang Ilham.

__ADS_1


Kedua tungkai Aisya melemas, bahkan untuk melanjutkan langkahnya saja dirinya tidak kuat.


"Kamu harus ikhlas dan kuat, ayo kita masuk!"


Arion segera menumpu tubuh Aisya yang sedikit goyah. Netra keduanya bertemu, satu tangan Arion terulur untuk mengusap air mata istrinya yang jatuh begitu saja.


Dengan langkah yakin, keduanya pun masuk. Arion dan Aisya terpaku saat melihat pemandangan di depannya. Beberapa orang tengah mengerubungi Eyang Ilham, bahkan para tim medis sudah melepaskan alat penunjang hidup pria sepuh itu.


"Eyang," lirih Aisya.


Wanita itu segera berlari menuju ranjang yang di tempati Eyang Ilham. Air matanya yang sudah menganak sedari tadi, semakin tidak terkendali lagi. Terlebih saat melihat wajah Eyang buyutnya yang terlihat bahagia, walaupun dalam keadaan menutup mata.


"Eyang ini Ais, maaf Ais baru datang. Ais kangen sama Eyang, Bang Rimba juga ikut sama Ais," Aisya terus saja berceloteh, tubuhnya yang lemas dan tidak bertenaga kini bertumpu pada Aska yang segera mendekapnya.


"Kak, Eyang kenapa enggak mau ngomong sama Ais? apa Eyang marah, gara gara Ais jarang main?"


Tangisan Aisya semakin menjadi, bahkan melebihi tangisan Lovyna dan Reina. Sedangkan para pria, mereka terlihat tegar saat melihat Alkan terus saja membimbing Eyang Ilham dalam membaca syahadat terakhirnya.


"Ikhlaskan Eyang ya, biar Eyang bisa pergi dengan tenang," bisik Aska.


Bisikan pelan yang mampu membuat seluruh persendian Aisya melemas, hingga dia harus mendekap erat tubuh Kakak kembar keduanya.


"Eyang, Ais udah ikhlas," gumamnya pelan.



**BANG RIMBA TEPAR GARA GARA AIS


SEE YOU TOMORROW

__ADS_1


BABAYY MUUUAAACCHH**


__ADS_2