Kiblat Cinta A

Kiblat Cinta A
Galau


__ADS_3

"Jadi kamu jadi ke Jepangnya?"


Langkah Shaka terhenti, saat melihat Sang Bunda tengah berbicara dengan seseorang di luar pagar.


Pria berkaos maroon itu mendekat, mengendap seperti seorang penguntit. Bahkan Shaka harus bergulat dengan semak bunga, agar dia dapat mendengar jelas obrolan Bundanya.


"Jadi Bun, mungkin besok kalau enggak lusa, Rumi bakalan berangkat ke Jepang,"


Kedua telinga Shaka bergoyang, saat mendengar suara gadis yang beberapa hari ini bersikap masa bodoh padanya.


Apa kata si Setan Jepang tadi?


Gadis itu akan pergi dari negara ini? besok atau lusa? Shaka mengeratkan kedua rahangnya. Entah kenapa dia tidak suka, saat melihat Harumi terus saja menghindar darinya selama beberapa waktu ini.


Terlihat sekali kalau gadis berwajah oriental itu memang hanya tidak ingin berbicara dengannya, buktinya Harumi masih ramah dan mau berbicara dengan Bunda bahkan anggota keluarganya yang lain.


"Ya udah, Bunda cuma bisa doain yang terbaik buat kamu. Bunda juga doain, semoga Rumi dapat cowok disana- yang ganteng, kaya, baik, dan pastinya peka," seloroh Cia, sepertinya wanita beranak tiga itu sengaja mengatakannya.


"Aamiin, makasih doanya Bunda," sahut Harumi mengamini.


Sedangkan Shaka, pria yang masih bersembunyi dibalik semak bunga, terlihat mengigit kecil ranting yang ada di tangannya. Ingin rasanya dia berteriak JANGAN sekencang mungkin, tapi rasa gengsi dan ego mengalahkan semuanya.

__ADS_1


"Ck, apa peduliku! bukannya kalau si Setan Jepang itu enggak ada, hidup Arshaka akan damai," celotehnya pelan.


Semua kata kata yang keluar dari mulutnya saat ini, sangat berbanding terbalik dengan isi didalam hatinya.


Shaka memungkirinya, yakinlah suatu saat pria itu pasti akan menyesali semuanya.


"Sudahlah, kenapa aku kayak orang kurang kerjaan. Salma pasti udah nunggu! gara gara- ck nyusahin aja sih!"


Entah kenapa Shaka malah misuh misuh sendiri, padahal hari ini dia sudah bertukar janji dengan Salma- gadis yang dia sukai selama 3 tahun belakangan. Tapi setelah dia tidak sengaja mendengar ucapan Bundanya dan Harumi, moodnya anjlok seketika.


🌴🌴🌴


Gadis- ralat, wanita berhijab instan itu berjalan menuju dapur. Waktu sudah menunjukan pukul 05.20 pagi, selepas mandi junub [wajib] lalu sholat subuh, Aisya memutuskan untuk menyiapkan sarapan. Wanita itu membiarkan Arion melanjutkan tidurnya, setelah sholat subuh berjamaah.


Aisya sedikit meringis saat merasakan sakit dan tidak nyaman, di bagian bawah tubuhnya. Aisya tidak menyangka, kalau pengalaman pertamanya akan mengesankan seperti ini.


Arion mempelakukannya begitu lembut, bahkan saat dia merasa kesakitan- dan meneteskan air mata, Arion sempat menawarkan untuk berhenti. Tapi karena dia tidak ingin membuat Arion kecewa, di malam pertama mereka yang tertunda- Aisya menggeleng, meminta Arion untuk lanjut hingga akhir.


Dan kini Aisya harus merasakan efeknya. Nikmat tapi begitu sakit, apa mungkin akan selalu sakit saat nanti Arion kembali meng-,


"Jangan melamun,"

__ADS_1


Aisya tersentak saat merasakan dua tangan besar, yang tadi malam memanjakannya- kini tengah melingkar indah di pinggangnya. Bahkan tubuhnya sedikit meremang, saat salah satu tangan itu mengusap lembut perut ratanya.


"Abang harap, mereka cepat tumbuh,"


Wajah Aisya memerah hingga telinga mendengarnya. Jujur dia masih malu dan risih saat membahas hal sensitif seperti ini, tolong mengertilah wahai pria.


"A-abang kenapa bangun?" tanyanya gugup.


"Kangen,"


Aisya menelan salivanya susah payah mendengar suara serak suaminya, ingin rasanya dia menenggelamkan diri di bawah selimut.


"Kalau boleh, Abang mau minta lagi. Buat sarapan pagi,"



BOLEH BWUUAAANGG


SEE YOU NEXT TOMORROW BABAYYY MUUUUAACCHH


__ADS_1


__ADS_2