
Kedua mata bulat itu menatap heran pada Arshaka. Bahkan gadis berwajah oriental itu mengerutkan dahinya dalam, kala melihat pria yang ingin dia lupakan- semakin melebarkan senyumannya.
"Bang Shaka mau apa lagi? awas deh aku mau pergi!" sang gadis mulai jengah, dia sudah siap untuk melepaskan Arshaka, namun pria itu malah berbalik mengejarnya.
Dia tidak tahu apa maunya Shaka, bukankah pria itu pernah berkata kalau tidak mau melihatnya lagi, lalu kenapa sekarang Shaka malah mengejarnya seperti orang gila.
Apa ini yang di namakan karma?
Entah kenapa bibir Harumi berkedut saat membayangkannya. Shaka jadi budak cinta seorang Harumi? bukannya itu sangat menarik. Pria savage ini akhirnya termakan ucapannya sendiri.
"Ayo kita ke rumah, Abang mau ngomong sesuatu sama orang tua kamu,"
Kerutan di dahi Harumi semakin berlipat, kedua matanya memicing tajam pada Arshaka.
"Mau apa?" tanya Harumi terkesan malas, walaupun didalam hatinya ada rasa penasaran yang begitu besar.
"Abang mau ngomong serius sama Om Aslam,"
"Oh- ya udah, Papa lagi dirumah tuh- kebetulan masih cuti. Habis pulang dari Jepang kemarin Papa belum kerja," ujar Harumi dengan nada ceria dibuatnya.
Gadis itu segera menyingkirkan tangan Arshaka yang menghalangi pintu mobilnya. Namun Harumi kembali tertahan, saat Shaka sengaja mengganjal pintu mobil dengan sepatunya.
Harumi yang sudah gemas hanya dapat menghela napas sabar. Perlahan gadis itu menghirup udara sebanyak mungkin, lalu menghembuskannya perlahan. Kedua sudut bibirnya dia tarik ke atas, membentuk sebuah senyuman terpaksa dan di buat sealami mungkin.
"Ada apa lagi wahai yang mulia Arshaka?" gemas Harumi.
Ingin sekali dia menendang kaki besar yang menghalangi pintu mobilnya, tapi rasanya tidak sopan melakukan hal itu pada orang tua- iya orang tua, bukannya Shaka 1 tahun lebih tua darinya jadi tidak salahkan.
"Kamu mau kemana?"
Harumi menggaruk lengannya yang tidak gatal, kenapa pertanyaan yang Shaka ajukan, terdengar seperti seorang kekasih yang ingin tahu kemana dirinya akan pergi.
__ADS_1
"Bandara, aku mau jemput seseorang. Ya udah, aku pergi dulu- kalau Bang Shaka mau ketemu sama Papa ya ke rumah aja. Maaf kakinya bisa di singkirin dulu enggak, aku gak bisa tutup pintunya,"
Harumi mengangkat tali sepatu Shaka, lalu menurunkannya dari pintu mobilnya. Setelah itu Harumi segera menutupnya cukup keras, membuat Shaka terlonjak kaget.
Pria berambut sebahu itu menendang udara kosong, kala melihat Yaris merah Harumi melaju kencang meninggalkannya. Bahkan Shaka mengusap rambutnya kasar, karena telah gagal membujuk Harumi, padahal dulu gadis itulah yang selalu membujuknya dan mencari perhatiannya. Tapi sekarang? Shaka menghela napas kasar. Tatapannya beralih ke arah rumah berlantai dua yang tidak jauh darinya.
🌴
🌴
🌴
Hampir satu jam lamanya Harumi menunggu di bandara, kini dia sudah berada di dalam mobilnya kembali. Kali ini Harumi tidak sendirian, melainkan bersama seorang pria bermata sipit yang tampan rupawan, seperti orang Asia Timur kebanyakan.
Selama diperjalanan Harumi sesekali mengobrol dengan pria yang ada disampingnya. Karena pria itu sudah fasih berbahasa Indonesia, Harumi tidak terlalu repot saat mengajaknya mengobrol.
Bahkan Harumi jarang memaki bahasa asli Sang Mama, gadis itu lebih suka memakai bahasa Indonesia- bahasa negara asal Sang Papa.
"Ayo! Mama sama Papa sudah nunggu!" ajaknya.
Harumi segera menarik lengan sang pria, bahkan sesekali mereka tertawa kecil. Bahkan saat keduanya sudah di depan pintu utama, tawa Harumi belum juga surut. Tawa kecil sang gadis terus saja terdengar, bahkan celotehan Harumi berhasil membuat ketiga orang yang ada di ruang tamu menoleh.
"Nah, itu Rumi udah datang,"
Tawa Harumi terhenti, bahkan senyuman manisnya luntur seketika- saat melihat orang yang saat ini tengah duduk berhadapan dengan orang tuanya.
"Kalian sudah sampai!" seru Nyonya Subagiyo antusias.
Wanita setengah baya itu segera bangkit, menyambut kedatangan putrinya dan pria muda yang ada di hadapannya.
"Iya Ma, tadi Rumi cuma nunggu sebentar. Rumi kira pesawat Kenzi bakalan delay ternyata enggak," ujar Harumi pelan.
__ADS_1
Gadis itu berusaha mengabaikan tatapan pria yang tengah berhadapan dengan Sang Papa, tatapan datar dan sulit dia artikan- tertuju pada lengan yang tengah dia apit mesra.
"Ah Kenzi-chan, bagaimana kabar mu?"
Pria yang bernama Kenzi itu tersenyum, lalu memeluk tubuh wanita Jepang yang ada di hadapannya.
"Baik- Mom," sahutnya.
Harumi yang mendengar panggilan Kenzi pada Sang Mama, hanya bisa mengerutkan dahi. Sudut matanya mengarah pada Shaka yang terlihat bangkit dari duduknya.
"Saya pulang dulu ya Om, mungkin lain kali kita ngobrol lagi- Assalamualaikum,"
Belum sempat Aslam mencegah, Shaka sudah terlebih dahulu berpamitan. Bahkan Shaka melewati Harumi begitu saja, tanpa ingin melirik apa lagi melihat ke arah sang gadis.
'Bang Shaka kenapa?' hati Harumi bertanya tanya.
Gadis itu mengedikan bahunya abai, Harumi menarik lengan Kenzi menuju sofa.
"Kenzi chan, selamat datang di Indonesia," sambut Aslam penuh kehangatan.
Pria yang bernama Kenzi itu tersenyum, menyambut pelukan Aslam yang penuh kehangatan.
Sementara diluar sana, Shaka terlihat mengepalkan kedua tangan- bahkan memejamkan kedua matanya sebelum dia keluar dari kediaman Subagiyo.
**SIAPA TUH BANG, CIIEEE CEMBOKUR YE
JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA
MUUUAAAACCHH😘😘**
__ADS_1