Kiblat Cinta A

Kiblat Cinta A
Risau


__ADS_3

"Jadi, apa kamu kenal dengan orang yang itu?"


Arion yang sedari tadi bersandar di bahu istrinya, dan mengabaikan Nagara serta yang lainnya- terlihat menoleh.


Wajah pucat Arion masih terlihat, walaupun kata dokter pria itu sudah membaik.


"Ada dua kemungkinan sih. Orang itu suruhan saingan bisnis ku, atau saingan cinta ku,"


Ucapan Arion terdengar santai, namun begitu mendeskripsikan seseorang. Hanya ada dua orang didalam otak Arion, Haris dan Jeffri.


Tapi dia tidak ingin menuduh tanpa bukti, bisa saja orang yang menusuknya itu bukan suruhan mereka.


"Siapa?" Nagara terus mencecar cucu menantunya.


"Aku belum bisa memastikannya, Opa,"


Kedua mata abu abu itu menyorot tajam pada Arion. Terlihat begitu serius dan tidak sabaran, Nagara terlihat ingin segera menyelesaikan semuanya.


Saat ini pikirannya tengah bercabang, dilain sisi cucu menantunya terkena musibah- sementara di rumah sakit berbeda Papa Ilham tengah dirawat.


Nagara merasa tidak tenang, dia ingin menemani sang Papa- tapi juga ingin membantu sang cucu menyelesaikan masalahnya.

__ADS_1


"Baiklah Opa akan menyelesaikan semuanya, lekaslah sembuh- Eyang Ilham ingin bertemu dengan kalian secepatnya!"


Ucapan Nagara, sontak membuat Aisya menegang. Wanita itu menatap Opanya dalam, seakan ingin mengetahui apa yang sedang terjadi pada Eyang Buyutnya.


"Eyang kenapa, Opa?" tanya Aisya sendu.


Aisya tahu kalau Eyang Ilham sudah tidak muda lagi, pria sepuh itu bahkan sudah memiliki banyak cucu serta cicit. Tapi karena gaya hidup Eyang Ilman yang sehat, pria sepuh itu jarang sakit atau pun mengeluhkan kesehatannya.


Itulah yang membuat Aisya terkejut, pantas saja Bunda dan Ayahnya- bahkan kedua kakaknya tidak ada disini untuk menemaninya, ternyata mereka semua pergi untuk menjenguk Eyang Ilham.


"Gimana keadaan Eyang, Opa?" tanya Aisya lagi.


Kedua matanya berembun, bahkan untuk menelan salivanya sendiri saja Aisya tidak bisa. Rasanya ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya, apa lagi saat mendengar ucapan Nagara yang amnigu.


Nagara mengusap kepala Aisya, lalu menepuk bahu Arion pelan. Setelah itu, Nagara segera melangkah keluar- dia harus segera menyelesaikan semuanya. Agar dia merasa tenang, dan bisa menemani Maminya di rumah sakit.


Walaupun disana sudah ada Lovyna dan yang lainnya, Nagara masih merasa was was dengan kondisi Sang Papa. Karena dokter sudah menyuruh mereka untuk mengikhlaskan Eyang Ilham.


Selepas Nagara pergi, suasana ruangan rawat Arion hening. Arion melanjutkan kegiatannya, memeluk tubuh Aisya dengan posesif- sementara Aisya sendiri pikirannya tengah berkecamuk.


Rasa khawatir mulai merasukinya, bukan hanya khawatir tapi juga rasa sedih. Dia sedih karena tidak bisa melihat Eyangnya, karena kondisi suaminya sendiri baru sadar.

__ADS_1


"Besok kita jenguk Eyang," gumam Arion.


Pria itu mengerti apa yang tengah di rasakan oleh Aisya. Istrinya pasti tengah bimbang dan sedih saat ini. Arion akan menguatkan diri demi Aisya, walaupun bekas operasi di perutnya masih berdenyut dan sakit ketika dia duduk- Arion akan menahannya.


"Abang belum sehat," gumam Aisya dengan suara seraknya.


Wanita itu tidak kuat lagi untuk menahan air matanya. Pikirannya berkecamuk hebat, jiwanya serasa terbagi dua membuat kepalanya sedikit berdenyut.


"Tidurlah Sayang, jangan di pikirkan. Disana Eyang sudah banyak yang menemani, kita akan kesana besok. Abang udah kuat kok, kita doain aja semoga Eyang cepat pulih lagi,"


Aisya hanya bisa mengangguk pelan di dalam dekapan Arion, walaupun dekapan mereka tidak bisa menempel erat- karena Aisya takut menekan luka di perut suaminya.


Arion menghela napas pelan, saat mendengar sesegukan istrinya. Walaupun Aisya sudah tertidur lelap, tapi sisa tangisannya masih bisa Arion dengar.


Perlahan, pria berambut gondrong memejamkan kedua mata- menyusul Aisya kedalam mimpi.



**PELUK SUAMI ENAK KAYAKNYA YAK 😭😭


JANGAN LUPA LIKE VOTE KOMEN HADIAH DAN FAVORITNYA

__ADS_1


MUUUAAACCHH😘😘**


__ADS_2