
Derly pun melangkah menuju suaminya, Derly merasa nyaman berada dirumah mertuanya.
Hari semakin siang, makanan yang disiapkan oleh Zora pun sudah siap dihidangkan. Zora mengetuk pintu Zaiden.
Tok… tok… tok.
Zaiden pun membukakan pintu tersebut. Zora berkata bahwa makan siang sudah siap. Zaiden kemudian masuk kedalam kamar untuk mengajak istrinya makan siang, mereka berjalan beriringan menuju meja makan.
"Wahh sepertinya enak nih," ucap Zaiden.
"Iya dong, kan yang masakin Mamah," ucap Zira.
"Ayo dimakan," ucap Zora. Derly hanya mengangguk.
Derly kemudian meraih piring yang ada di depan Zaiden untuk mengambilkan nasi serta lauk. Derly bertanya lauk apa yang suaminya inginkan, Zaiden pun menunjukkan apa yang ia inginkan. Kemudian Derly mengambilnya dan menyodorkan sepiring nasi serta lauk untuk suaminya.
Zora, yang melihat anak dan menantunya begitu romantis dan berdoa didalam hati semoga keluarga anaknya selalu bahagia.
Setelah mereka makan siang mereka kembali berkumpul di ruang keluarga.
"Aunty...," ucap Zira.
"Hemmm," sahut Derly sambil tersenyum kearah Zira.
"Aunty cantik deh kalo senyum," ucap Zaira sambil tersenyum.
"Makasih Sayang," ucap Derly.
Mereka mengobrol banyak, hingga sore hari. Tak lama Zaqi pun datang.
"Hai semuanya," ucap Zaqi.
"Hai," ucap mereka bersamaan.
"Eh ada menantu Papah." ucap Zaqi.
"Papah apa kabar?" tanya Derly.
"Alhamdulillah kabar Papah baik," ucap Abi.
"Kalian menginap disini?" tanya Zaqi.
"Iya Pah, kita nginap disini 3 hari," ucap Zaiden. Zaqi hanya mengangguk.
Mereka duduk di ruang keluarga. Zora dan Derly menyiapkan cemilan dan minuman.
"Mamah, Zira lapar," rengek Zira.
"Zira laper? Mamah mau masak dulu ya," ucap Zora sambil beranjak menuju dapur.
"Mau Derly bantu, Mah?" tanya Derly.
"Nggak usah, kamu disini jagain Zira ya," ucap Zora. Derly hanya mengangguk.
"Temenin Zira main di kamar yuk Aunty," ajak Zira.
"Zira emang mau main apa?" tanya Derly.
"Di kamar Zira ada banyak mainan Aunty," ucap Zira.
"Yuk ke kamar Zira!" ucap Derly.
__ADS_1
"Pah, Mas, Derly ke kamar Zira dulu ya," pamit Derly.
"Iya!" ucap mereka bersamaan.
Derly dan Zira pun beranjak meninggalkan dua laki-laki itu, Derly mengikuti Zira sampai kamar. Setelah sampai kamar Zira mengajak auntynya untuk masuk.
"Aunty ayo masuk!" ajak Zira. Derly hanya mengangguk.
Zira mengeluarkan mainannya. Zira membawa boneka kesayangannya.
"Wah mainan Zira banyak banget, bonekanya juga cantik kayak Zira," ucap Derly.
"Kalo Zira nggak ada kawan Zira selalu main boneka ini," ucap Zira.
"Kok sama kayak Aunty waktu masih kecil, dulu Aunty juga kalo gak ada temen mainannya boneka," ucap Derly.
"Wah benarkah Aunty?" ucap Zira. Derly hanya mengangguk dan tersenyum.
Makan malam kini sudah siap, Zaiden menghampiri istri dan adiknya yang masih berada di dalam kamar Zira. Zaiden mengetuk pintu kamar Zira.
Tok… tok… tok.
Zira mendengar ada yang mengetuk pintu kamarnya, Zira langsung membukakan pintu kamar itu.
"Zira, Aunty mana?" tanya Zaiden.
"Aunty ada di dalam kak," ucap Zira.
"Makan malam udah siap. Katanya kamu lapar, ajak Aunty keluar ya!" ucap Zaiden. Zira mengangguk dan menemui Derly.
"Aunty, kata Kakak makan malam udah siap. Ayo kita turun, Zira laper," ucap Zira.
Zaiden masih menunggu di depan kamar.
"Mas kok disini?" tanya Derly.
"Mas lagi nungguin kalian, ayo kita ke ruang makan!" ucap Zaiden. Derly hanya mengangguk.
Mereka pun berjalan menuju meja makan, Zora dan Zaqi bahagia melihat anak dan menantunya selalu bersama. Apa lagi ditengah-tengahnya ada Zira, mereka pasti lebih bahagia kalau ada seorang bayi bersama mereka.
"Ayo Zira sini duduk dipinggir Mamah!" ucap Umi.
Zira pun duduk dipinggir Zora. Derly seperti biasa, mengambilkan nasi serta lauk untuk suaminya. Mereka pun makan malam tanpa sepatah katapun. Setelah mereka makan malam Derly dan Zaiden masuk ke kamarnya.
"Mas," panggil Derly.
"Hemmm," sahut Zaiden masih terfokus pada laptopnya.
"Mas, kok waktu kita nikah Zira nggak ikut?" tanya Derly.
"Waktu itu Zira dititipin ke tetangga," ucap Zaiden.
"Kenapa dititipin?" tanya Derly lagi.
"Waktu itu nggak mau ikut, jadi ya dititipin aja," ucap Zaiden. Derly hanya mengangguk.
Hari semakin larut, Derly dan Zaiden pun tidur. Pagi harinya merela sarapan, setelah sarapan Zaiden dan Zaqi berangkat kerja ke kantor mereka masing-masing.
Kini tinggal Derly, Zora dan Zira.
"Mamah, Zira mau beli mainan baru," rengek Zira.
__ADS_1
"Mainan Zira masih banyak yang belum dibuka, kenapa mau beli mainan lagi?" tanya Zora.
"Zira bosan Mah, Zira mau mainan baru boleh ya Mi?" rengek Zira.
"Jangan mainan lagi ya, kita beli baju aja gimana?" tanya Zora.
"Boleh, Mah," ucap Zira dengan senang hati.
"Ayo Derly kita pergi ke Mall!" ajak Umi.
"Ya sudah Derly siap-siap dulu ya" ucap Derly.
Derly pun beranjak menuju kamar untuk bersiap-siap. Setelah Derly selesai, Derly menuju mertua dan adik iparnya.
"Ayo Mah kita berangkat, tuh Aunty udah siap!" ucap Derly.
Kemudian mereka pun berangkat menuju Mall terdekat. Setelah mereka sampai, mereka memasuki butik baju anak.
Zira memilih baju untuknya. Zira terpana melihat baju yang cantik dan indah menurutnya.
"Aunty… baju itu cantik, Aunty Zira mau gamis yang itu," rengek Zira.
Derly memanggil pelayan untuk mengambilkan baju yang Zira inginkan.
"Ini nona baju yang anak anda inginkan" ucap pelayan itu.
Derly yang mendengar kata anak kini Derly hanya terdiam.
"Aunty ini bagus ya," ucap Zira membuyarkan lamunan Derly.
"Iya Sayang ini bagus, Zira mau yang ini?" tanya Derly.
"Iya Aunty Zira mau yang ini," ucap Zira.
"Mba… saya mau beli yang ini," ucap Derly memanggil pelayan butik.
Pelayan itu pun langsung membungkus baju yang diinginkan Zira.
"Ini non, terimakasih sudah berkunjung ke butik kami!" ucap pelayan itu. Derly hanya tersenyum.
"Kita mau kemana lagi?" tanya Zora.
"Mah, Zira mau beli ice cream," rengek Zira.
"Ya udah kita beli ice cream," ucap Zora.
Mereka pun menuju kios ice cream terdekat. Derly menanyakan rasa apa yang diinginkan oleh Zira, Zira pun menjawab ia ingin rasa cokelat. Derly langsung memesan ice cream rasa coklat yang diinginkan oleh adik iparnya.
Setelah mereka membeli ice cream, mereka memutuskan untuk pulang karena hari sudah semakin sore.
Setelah tiba di rumah Zora dan Derly saling memandang, karena sudah ada dua mobil yang berada di bagasi mobil. Umi dan Derly tahu bahwa mobil itu milik suami mereka. Umi mulai mengetuk pintu rumah.
Tok… tok…. tok.
"Hai, Pah," ucap mereka bersamaan.
.......................................................................
Hai semuanya, mohon maaf ya kalo aku telat up.
Jangan lupa tinggalkan jejak😊.
__ADS_1