
Semua barang-barang sudah dimuat, tanpa sepengetahuan Derly. Zaiden juga ikut menyusun tata letak semua barang-barangnya. Seperti letak sofa, meja makan, dan lain-lainnya.
Sebelum meletakkan semuanya, terlebih dahulu memasang wallpaper bermotivkan batik. Setelah semua ruangan sudah dipasang wallpaper, selanjutnya tinggal memasang berbagai aksesoris dinding yang lainnya Seperti Foto keluarga, lukisan, dan sebagainya.
Semua kini sudah tersusun rapi, Zaiden pun membayar gaji mereka.
"Gaji kalian nanti saya transfer satu-satu," ucap Zaiden.
Semua arsitek dan pegawai mereka masing-masing membereskan barang-barangnya
"Baik, Pak. Kami tunggu gaji kami," ucap salah satu dari mereka.
"Kalian tenang saja. Sebelum saya pulang, saya akan mampir ke ATM terlebih dahulu untuk mengirim gaji kalian masing-masing," ucap Zaiden.
Mereka mengangguk dan meninggalkan Zaiden. Sesuai dengan perkataan Zaiden. Zaiden mampir ke salah satu ATM. Mengirim gaji mereka dan bonusnya.
Setelah selesai Zaiden langsung pulang. Setelah sampai Zaiden langsung duduk, karena hari semakin sore Zaiden pun membersihkan badannya.
Setelah dia sampai kamar, Zaiden melihat Derly yang sedang berada di depan meja rias Zaiden mendekat dan memeluk dari belakang.
"Mas kira kamu belum bangun, ternyata sudah wangi," ucap Zaiden.
"Ini kan sudah sore, pastilah aku sudah mandi. Sekarang giliran kamu gih sana mandi," ucap Derly.
"Sebentar lagi ya, nanti juga Mas mandi kok," ucap Zaiden.
__ADS_1
"Mas, aku mau masak buat makan malam. Lepasin ya, terus Mas mandi sono," ucap Derly.
Zaiden pun melepaskan, Derly meninggalkan Zaiden dan menuju dapur.
Sedangkan Zaiden langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Makanan kini sudah siap di meja makan. Derly memanggil suaminya.
"Mas, ayo makan malam!" ucap Derly.
"Iya, nanti Mas ke meja makan. Kamu duluan saja," ucap Zaiden.
Derly meninggalkan kamarnya dan menuju kamar Zail. Memanggil Zail untuk segera menuju ke meja makan.
Zail dan Derly berjalan bersama menuju meja makan. Mereka duduk berdampingan. Derly mengambilkan sepiring nasi serta lauk untuk sang anak.
Setelah mengambilkan sepiring nasi untuk anaknya, kini Derly mengambilkan untuk suaminya. Setelah mengambilkan untuk anak dan suaminya kini giliran Derly mengambil untuk dirinya sendiri.
Mereka pun langsung melaksanakan makan malam. setelah makan malam mereka berkumpul di ruang keluarga.
"Sebenarnya Zaiden mau mengatakan sesuatu," ucap Zaiden saat mereka sudah duduk rapi di ruang keluarga.
"Mau bilang apa? Kayaknya serius?" tanya Zaqi.
"Iya Mas, kamu mau ngomong apa?" Derly melontarkan pertanyaannya, pasalnya Derly pun tidak tahu apa yang akan Zaiden katakan.
__ADS_1
"Rumahnya sudah jadi seratus persen, dan sekarang dapat ditempati," ucap Zaiden.
"Kamu serius, Mas? Pantesan aku tadi liat semua barang-barangnya sudah tidak ada. Kapan kamu membawa barang-barang semuanya?" tanya Derly.
"Waktu kamu tidur," jawab Zaiden
"Cepet banget, perasaan aku tidur nggak lama," lirih Derly.
"Terus kapan kalian pindah?" tanya Zaqi.
"Kira-kira lusa kita pindah," ucap Zaiden.
"Ayah serius, kita pindah lusa?" tanya Zail yang tidak percaya.
"Iya Ayah serius, kamu nggak mau kita pindah? Apa Zail mau tinggal di sini sama Kakek dan Nenek?" tanya Zaiden.
"Zail mau kita segera pindah. Tapi kasihan Nenek sama Kakek nggak ada temen. Tante Zira ke laut kota," ucap Zail.
"Nenek sama Kakek nggak masalah kok. Nanti Kakek sama Nenek sering-seringain ke rumah baru Zail." ucap Zora sambil memeluk cucunya.
Hari semakin larut, mereka kembali ke kamar masing-masing, Zail sebenarnya masih betah tinggal di rumah nenek dan kakeknya, namun Zail juga pengen punya rumah baru.
Pagi hari....
Zaiden dan Zaqi tidak berangkat ke kantor, mereka merencanakan untuk bermain golf di lapangan.
__ADS_1
Sedangkan Derly, Zail dan Zora ke pasar untuk berbelanja sayuran. Mereka akan mengadakan syukuran mendirikan rumah, dan berbagi kepada anak yatim piatu.