Kisah Cinta Derly

Kisah Cinta Derly
BAB 46


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Di sekolah Zail akan mengadakan wisata. Derly dan Zail tentu saja akan mengikuti wisata tersebut. Sekolah akan mengadakan wisata di kota Y.


"Bunda, kita ikut wisata kan?" Zail bertanya kepada sang bunda.


"Iya, Sayang. Pasti kita akan ikut," Derly menjawab sambil tersenyum.


"Hore...." Zail langsung melompat kegirangan.


"Sekarang kita pulang dulu yuk! Kita izin dulu sama ayah. Kalau ayah ngizinin pasti kita ikut," ucap Derly


"Ayo!" ucap Zail sambil menggandeng tangan Derly.


Zail dan Derly pun mulai melaju menuju rumah. Ditengah perjalanan Zail sudah terlelap dan masuk ke alam mimpinya.


Mereka kini sudah sampai di rumah, Derly menggendong Zail dan membaringkan tubuh Zail di kasur.


Derly berjalan menuju kamarnya. Duduk di sofa dan memainkan ponselnya. Derly kini merasa bosan, akhirnya Derly memutuskan untuk membersihkan badannya yang sudah merasa gerah.


Jam kini sudah menunjukan sore hari. Derly berjalan menuju kamar Zail.


Setelah tiba di kamar Zail, Derly melihat anaknya yang sudah segar dan menggunakan baju tidurnya.


"Wah... ternyata sudah mandi ya anaknya, Bunda. sudah wangi lagi." ucap Derly sambil menyium Zail.


"Iya dong, Zail kan sudah besar. jadi... harus mandiri," ucap Zail sambil tersenyum.

__ADS_1


"Maksudnya mandiri apa nih? Mandi sendiri atau makan sendiri?" Derly bertanya kepada Zail.


"Ih... Bunda. Mandiri itu yang sendiri semua," ucap Zail dengan nada kesalnya.


"Iya, iya. Yuk ke ruang keluarga!" Derly mangajak Zaiden dan berjalan mersama menuju ruang keluarga.


Mereka kini sudah duduk di sofa ruang keluarga. Tidak menunggu waktu lama, bel rumah pun berbunyi.


Ding dong... ding dong... ding dong.


Fany pun langsung berjalan membukakan pintu rumah. Fany mempersilahkan majikannya untuk masuk.


Zaiden berjalan menuju ruang keluarga, Zaiden duduk di samping istrinya.


Zail mendekat ke arah Zaiden dan duduk di pangkuan Zaiden. Zail memeluk ayahnya.


"Mau berpariwisata ke mana?" tanya Zaiden.


"Hmm. Ke mana ya? Bunda, kita mau berpariwisata ke mana ya?" Zail bertanya kepada Derly. Zail lupa tujuan pariwisatanya.


"Ke kota Y," ucap Derly singkat.


" Boleh ya, Ayah. Zail mau ikut jalan-jala," ucap Zail. Zaiden hanya mengangguk menandakan Zaiden memberi izin untuk anak dan istrinya berpariwisata.


"Terima kasih, Ayah." ucap Zail sambil mengeratkan pelukannya.


Mereka kini sudah berada di dalam kamar masing-masing. Derly menyiapkan barang-barang yang akan dibawa selama perjalanan menuju kota Y.

__ADS_1


Disisi lain.


Fany senang dengan adanya pariwisata tersebut, Fany bisa merencanakan hal yang lebih dari sebelumnya. Fany menelepon kekasihnya.


"Halo, Sayang." sapa Fany ketika teleponnya sudah tersambung.


"Halo, ada apa?" tanya kekasih Fany dari seberang telepon.


"Ada berita bagus di sini, majikanku yang perempuan akann berpariwisata dengan anaknya. Nanti yang bakal ada di rumah ini hanya aku dan majikan yang laki-laki saja." ucap Fany menjelaskan panjang lebar.


"Bagus dong. Telepon aku kalau semua orang yang berada di dalam rumah sudah tidak ada, ok?" ucap kekasih Fany yang mulai merencanakan sesuatu.


"Ok." Fany menjawab dengan singkat.


Panggilan pun terputus. Fany segera memasak untuk makan malam. Setelah selesai, Fany masuk ke dalam kamarnya.


"Berapa hari berpariwisatanya?" tanya Zaiden.


"Sekitar tiga hari," jawab Derly.


Karena sudah waktunya makan malam, mereka pun berjalan menuju ruang makan. Mereka makan tanpa sepatah kata pun.


Setelah makan malam mereka langsung memasuki kamar masing-masing. Mara Zail begitu berat, jadi Zail memutuskan untuk tidur lebih cepat.


..........................................................


Dilike ya teman-teman, mari dukung author dengan vote😊

__ADS_1


__ADS_2