Kisah Cinta Derly

Kisah Cinta Derly
BAB 26


__ADS_3

Lalu Zira dan Zaiden melanjutkan makan malamya. Setelah selesai makan malam, Zaiden menyiapkan sepiring nasi dan lauknya.


"Nih Zira kamu kasih ke Aunty ya," ucap Zaiden sambil menyodorkan sepiring.


Zira langsung berjalan menuju kamar Derly. Setelah sampai di kamar Derly, Zira mengetuk pintu kamar tersebut.


Tok… tok… tok. Suara ketukan pintu.


"Aunty ini Zira. Zira bawain Aunty makan malam," ucap Zira sambil terus mengetuk pintu kamar Derly.


Derly langsung membukakan pintu kamarnya.


"Ayo masuk Zira," ucap Derly sambil menerima sepiring nasi yang ada di tangan Zira.


Zira pun langsung masuk kedalam kamar Derly. Zira melihat mata auntynya begitu sembab, ia mengerti bahwa auntynya habis menangis.


"Aunty. Aunty makan dulu ya," ucap Zira.


Derly hanya terdiam entah kemana pikiran dan jiwanya. Derly hanya  melihat Zira dengan tatapan kosong. 


Zira langsung mendekat dan mengambil sesendok nasi.


"Ayo Aunty, makan dulu terus Aunty tidur ya," ucap Zira sambil memasukkan sesendok nasi ke mulut Derly.


Derly mulai membuka mulutnya. Hingga makanan kini sudah habis, Zira langsung mengambil minuman untuk Derly.


"Aunty minum dulu ya," ucap Zira sambil menyodorkan segelas minuman.


Derly pun mulai minum. Setelah selesai makan dan minum, Zira memanggil salah satu art untuk membereskan piring dan gelas.


"Ini sudah malam, Aunty tidur ya." ucap Zira yang masih berada disamping Derly.


"Zira tidur disini ya temenin Aunty," pinta Derly. Zira hanya mengangguk.


Tak menunggu lama mereka pun sudah terbawa ke alam mimpi.


Zaiden tak bisa tidur, ia selalu memikirkan bagaimana ia akan menjelaskan kesalah pahaman ini.


Hingga pagi pun datang, Zaiden masih belum tidur. Ia berangkat ke kantor dengan kantung matanya yang berwarna hitam.


Semua karyawan menatap Zaiden dengan heran. Tapi mereka tak berani menanyakan apa yang terjadi dengan CEOnya.


Zaiden terus berjalan menuju ruangannya tanpa memperdulikan semua mata yang menatapnya.


Zaiden duduk di kursi kerjanya dan mulai membuka laptop.


Kiana mendekatkan diri dan menawarkan secangkir kopi untuk Zaiden. Zaiden hanya mengangguk.


Secangkir kopi pun sudah jadi, Kiana langsung mengantarkan kopi itu.


"Pak Zaiden kenapa?" tanya Kiana.


"Aku tak apa-apa," ucap Zaiden singkat.


Zaiden mulai melanjutkan pekerjaannya. Hari kini semakin siang Zaiden dan Kiana memesan makanan online, karena Zaiden malas untuk keluar mencari makanan.

__ADS_1


"Pak, Pak Zaiden kenapa? kok kaya gak fokus?" tanya Kiana.


"Istri saya salah paham, dia mengira saya selingkuh," akhirnya Zaiden memberitahu apa yang terjadi dengannya.


Senang? tentu saja Kiana senang mendengar kabar itu. Tapi ia berpura-pura merasa bersalah.


"Ini semua salahku ya Pak?" tanya Kiana.


"Sepertinya ini bukan salah kamu, ini hanya kesalahpahaman saja," ucap Zaiden.


"Bapak yang sabar ya, nanti juga kebenarannya akan terungkap," ucap Kiana berpura-pura bersikap baik.


Zaiden hanya mengangguk. Makanan pesanan mereka akhirnya sampai, Kiana makan di ruangannya dan Zaiden makan di sofa yang berada di ruang kerjanya.


Disisi lain.


Derly ingin melupakan apa yang sudah terjadi, ia berusaha memaafkan suaminya. Walaupun  tak tahu kebenarannya seperti apa.


"Apa ini memang salah paham?" batin Derly.


"Aku harus memaafkan suamiku sendiri," batin Derly lagi.


Ia keluar dari kamar dan mulai menjalankan aktifitas seperti biasanya.


"Aunty sudah sarapan?" tanya Kiana.


"Belum. Aunty belum sarapan. Kalo Zira sudah sarapan belum?" Derly bertanya balik.


"Zira sudah sarapan, tadi makanannya diantar sama mba asisten rumah tangga," ucap Zira.


Derly hanya mengangguk dan tersenyum. Mereka pun mulai berjalan menuju ruang makan.


Mereka kembali bersenang-senang seolah tidak terjadi apa-apa. Mereka kembali bercanda ria dan memulai kembali aktivitas seperti biasa.


Hari semakin siang, mereka memakan makan siang bersama. Setelah makan siang, mereka menuju ruang baca.


Derly mengajar Zira untuk belajar membaca, menghitung dan menggambar.


"Aunty kita mau ngapain ke ruangan ini?" tanya Zira.


"Aunty mau mengajarkan Zira membaca. Zira mau membaca gak?" tanya Derly.


"Mau. Zira mau belajar baca Aunty," ucap Zira dengan senang.


Derly mulai mengajarkan Zira untuk membaca. Hingga sore hari, mereka masih berada di dalam ruang bacaan. Zira merasa sudah lelah, ia pun mulai terdiam.


"Kok Zira berhenti? kenapa?" tanya Derly.


"Aunty. Zira lelah, kita istirahat aja ya. Ini sudah sore," ucap Zira.


"Yaudah kita sampai sini dulu." ucap Derly.


Mereka pun mulai berjalan menuju ruang keluarga dan menonton tv.


"Aunty. Kapan papah sama mamah pulang?" tanya Zira yang mulai merindukan kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Zira sabar ya, mungkin pekerjaan papah masih banyak. Nanti kita telepon ponselnya mamah ya," ucap Derly.


"Zira rindu mamah. Zira kangen mamah," rengek Zira.


Derly tahu bahwa Zira sangat merindukan kedua orang tuanya. Karena, ia pernah mengalami betapa rindunya ketika ditinggal oleh orang tuanya.


disisi lain.


Karena hari sudah semakin sore Zaiden pun memutuskan untuk pulang. 


"Kiana, kamu selesaikan yang belum kelar. Saya mau pulang," ucap Zaiden.


"Baik Pak," ucap Kiana.


Zaiden mulai meninggalkan kantornya dan menuju rumahnya. Ia selalu memikirkan apakah istrinya sudah keluar dari kamarnya atau masih terdiam.


Setelah sampai rumah, Zaiden mulai melangkah memasuki ruangan demi ruangan. Ia melihat istri dan adiknya sedang bercanda ria di ruang keluarga.


Derly tahu suaminya pulang, ia berjalan mendekat ke arah suaminya.


"Maafin aku ya Mas, soal kemarin," ucap Derly.


"Udah gak apa-apa. Yang seharusnya minta maaf Mas, bukan kamu. Jadi, mas minta maaf ya," ucap Zaiden.


"Iya Mas, sudah aku maafin kok," ucap Derly sambil tersenyum.


Derly berusaha melupakan semua. Ia berpikir pasti positif, ia tidak ingin mempunyai sifat suudzon terhadap suaminya.


"Mba, tolong mandiin Zira ya," ucap Derly menturuh art.


Art dan Zira pun melangkah menuju kamar mandi yang berada di kamar Zira. Begitu juga dengan Derly dan Zaiden, mereka menuju kamar.


Setelah mereka selesai mandi, mereka berkumpul di ruang makan. Selesai makan mereka kembali ke kamar masing-masing.


Derly memainkan ponselnya, sedangkan Zaiden sudah mulai mengantuk akibat tidak tidur semalaman.


Derly mendekati Zaiden yang sudah tertidur, ia duduk di samping suaminya.


"Kamu pasti gak tidur semalaman ya Mas?" batin Derly.


Tak menunggu waktu lama Derly pun akhirnya ikut terbawa dalam dunia mimpi.


Pagi harinya Zaiden terlihat lebih segar dari kemarin dan sudah tidak ada kantung mata di matanya.


"Pagi," sapa Zaiden.


"Pagi juga Mas," Derly menyapa balik.


Zaiden mandi terlebih dahulu, sembari menunggu suaminya mandi Derly menyiapkan baju kerja untuk Zaiden.


.......................................................................


Hai semuanya. Terimakasih sudah mampir, aku senang jika kalian menyukai ceritaku.


Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Like, komen, vote, dan rate.

__ADS_1


Ditunggu bye bye😊


__ADS_2