
Zaiden menghampiri mereka, Zaiden menyuruh anak dan istrinya untuk ikut bergabung. Zaiden menggendong putri kecilnya yang sangat chuby, sedangkan tangan kanannya menggandeng istrinya.
Mereka menghampiri sekumpulan rekan bisnis Zaiden, dan disitu ada Riza.
Derly hanya terdiam dan berpura-pura tak mengenal Riza. Sedangkan Riza, selalu menatap Derly. Zaiden yang melihat Riza terus menatap istrinya, Zaiden mulai geram akan tatapan tersebut.
Derly sama sekali tak menatap Riza. Zaiden berfikir bahwa istrinya tak mengenali Riza sama sekali.
Zaiden menghampiri Riza dan membuyarkan tatapannya.
"Hai, Pak Riza," sapa Zaiden.
Tatapan Riza seketika membuyar dan menyapa balik Zaiden sambil tersenyum.
"Hai juga. Hai cantik, selamat ulang tahun ya," sapa Riza sambil memandang Liza sambil tersenyum.
Liza hanya tersenyum, sedangkan Zaiden hanya menatap heran ke arah Riza.
Riza yang menyadari tatapan itu, ia segera mengalihkan tatapannya.
Karena hari semakin larut, para tamu akhirnya sedikit demi sedikit mulai meninggalkan rumah Zaiden.
Luza sudah tertidur di gendongan Zaiden, Zaiden langsung membaringkan Liza di dalam kamarnya.
Derly langsung menuju kamarnya untuk berganti baju dan membersihkan badannya. Setelah membersihkan badannya, Derly langsung merebahkan badannya dan tertidur pulas. Zaiden yang melihat istrinya sudah terbawa ke alam mimpi, ia pun langsung tertidur.
Pagi harinya….
Zaiden memutuskan untuk mengambil libur, mereka akan berlibur di kota Y. Ya, kota yang terkenal akan candi.
Mereka memutuskan untuk berlibur selama, Derly menyiapkan banyak cemilan yang waktu itu dia beli.
"Semua sudah siap?" tanya Zaiden.
"Siap!" jawab Derly dan Liza kompak.
"Berang-berang warna coklat, berangkat!" ucap mereka kompak.
Mereka pun mulai berangkat menuju kota Y, Liza dan Derly bercanda ria. Sedangkan Zaiden, tetap terfokus mengendarai mobil. Begitu lama, sampai Liza terus mengeluh.
"Ayah, kapan kita sampai?" tanya Liza.
"Masih jauh, kamu tidur aja," jawab Zaiden.
Karena hari semakin malam, Derly dan Liza akhirnya tertidur. Begitu juga dengan Zaiden, sebenarnya mata Zaiden sudah mulai mengantuk. Tapi, ia tahan demi sampai ditempat tujuan.
Karena mata Zaiden tak bisa menahan kantuknya. Zaiden mengendarai mobil sambil mengantuk sedikit, dan tiba-tiba.
Tiiiit!
Tiiiit!
Suara klakson begitu besar, Liza dan Derly langsung terbangun.
"Awaaas!" ucap Liza dan Derly bersamaan.
__ADS_1
Brakh!
Zaiden langsung memutar setirnya ke arah pinggir, yang ternyata jurang. Mereka keluar dari dalam mobil, dan entah terpental kemana.
Tak menunggu lama, orang-orang disekitar pun membawa mereka ke rumah sakit terdekat.
Disis lain.
Derla sedang menyiram tanamannya di depan rumah, tiba-tiba ponselnya berdering. Ia langsung mengangkatnya.
"Halo," ucap Derla.
"Halo, apakah ini dengan keluarga ibu Derly?" tanya seseorang dari seberang telepon.
"Iya. Saya orang tuanya," jawab Derly.
"Anak anda mengalami kecelakaan. Kini mereka sedang berada di rumah sakit Y," ucap seseorang dari seberang telepon.
Sekujur tubuh Derla lemas, dan Derla menangis.
"Derly… hiks… hiks!" ucap Derla sambil menangis.
Derla langsung menuju kantor suaminya dan menyampaikan apa yang ia dengar dari telepon barusan.
Putra langsung kaget, mendengar anaknya kecelakaan. Mereka segera menuju rumah sakit Y, untuk memastikan benar atau tidaknya.
Setelah mereka sampai, mereka langsung bertanya kepada salah satu perawat yang kebetulan lewat.
Perawat pun memberitahu ruangan ketiga orang yang sedang berbaring di kasur rumah sakit tersebut.
Derla langsung menuju ruang rawat putrinya, Derla terus menangis melihat putrinya berbaring.
Tak menunggu waktu lama, Derly sadar dari pingsannya. Derly melihat dinding putih dan kedua orang tuanya.
"Mom, Dad. Aku ada di mana?" tanya Derly.
"Kamu ada di rumah sakit," jawab Derla.
Derly teringat akan kejadian kecelakaan itu, Derly mulai menanyakan keberadaan Zaiden dan Liza.
"Mas Zaiden sama Liza di mana, Mom?" tanya Derly.
Sejenak Derla terdiam. Bingung harus jawab apa. Karena Putra melihat istrinya yang terdiam, akhirnya Putra mengatakan.
"Suami kamu ada di ruangan sebelah. Kalo anak kamu….," ucap Putra menggantungkan ucapannya.
"Ada apa dengan, Liza?" tanya Derly yang mulai panik.
"Liza, sudah meninggal dunia" ucap Putra merendahkan suaranya.
Mata Derly kini berkaca-kaca mendengar bahwa putri kecilnya meninggal. Derly langsung hendak bangun dari kasur rumah sakit.
"Kamu mau kemana, Sayang?" tanya Derla.
"Aku mau lihat, Liza," jawab Derly.
__ADS_1
"Kamu jangan ke mana-mana," ucap Putra.
Derly tak menggubris ucapan orang tuanya, ia terus berjalan menuju ruang jenazah.
Zaiden terbangun ketika mendengar berontakan Derly dari dalam kamar, ia langsung menuju ke luar ruangan. Zaiden melihat Derly sedang terburu-buru menuju kamar jenazah. Zaiden pun mengikuti mereka dari belakang.
Derly menangis sesenggukan melihat anaknya yang sedang berbaring tak bernyawa.
"Liza, bangun nak. Bunda ada di sini," ucap Derly.
"Yang, kamu yang sabar ya. Kamu yang tenang dan ikhlaskan kepergian Liza," ucap Zaiden.
Mereka memakamkan Liza, Derly terus menangis mengingat tingkah lucu anaknya. Setelah pemakaman selesai, mereka pulang.
Derly terus menangis selalu teringat tingkah lucu anaknya. Menangis sambil memeluk foto Liza.
Zaiden menghampiri Derly yang sedang menangis. Memeluk dan mengusap kepala istrinya dengan lembut.
"Ikhlaskan, Liza. Biarkan dia pergi dengan tenang. Jangan banjiri ia dengan air mata mu," ucap Zaiden.
Derly langsung memeluk erat tubuh Zaiden. Derly menangis terisak-isak, sungguh bayangan Liza tak bisa hilang dari pikiran Derly.
"Mas, aku belum bisa melepaskan, Liza," ucap Derly.
"Lepaskan ia secara perlahan, biarkan Liza pergi dengan tenang," ucap Zaiden.
Derly terus memeluk tubuh Zaiden, Zaiden pun membalas pelukan sang istri. Hingga akhirnya Derly tertidur, karena kelelahan menangis sepanjang hari.
Zaiden membaringkan tubuh Derly di kasur. Zaiden sebenarnya merasa kehilangan putrinya, kalau bukan karena keteledorannya mungkin kejadian ini gak akan terjadi.
Kini hari silih berganti, Derly hanya berdiam diri. Melamun dan terus teringat selalu mendiang anaknya. Zaiden terus berusaha menghibur Derly agar tak melamunkan diri. Namun, usahanya sia-sia. Derly tak merespon apapun.
Malam kini telah tiba, Derly terlelap dan terbawa ke alam mimpi. Derly memimpikan Liza.
"Bunda," panggil Liza.
Derly ingat betul dengan suara itu, Derly mencari ke arah sumber suara. Ketika mata mereka bertatapan, Liza tersenyum.
"Liza, Sayang. Sini peluk Bunda. Bunda kangen sama kamu, Nak," ucap Derly sambil meneteskan air matanya.
Liza mendekat dan memeluk sang bundanya. Liza menghapus air mata Derly dengan jari mungilnya.
"Bunda, jangan nangis lagi ya. Bunda harus rela, Liza pergi," ucap Liza.
"Kalo Bunda sayang sama Liza, Bunda harus merelakan Liza. Supaya Liza, bisa meninggalkan Bunda dengan tenang," sambung Liza.
Sebenarnya Derly tak rela, namun apa boleh buat. Sang ilahi telah membawa putrinya untuk pulang.
Dengan perlahan, Liza menjauh dari Derly. Liza melambaikan tangan dan berpamitan.
Air mata Derly tak berhenti menetes, Derly terus menangis melihat anaknya yang semakin menjauh.
.......................................................................
Hai semuanya, jangan lupa like, komen, dan rate😊
__ADS_1