
"Ayo masuk!" ucap Zaqi.
Mereka pun masuk kedalam rumah.
"Derly, suami kamu ada di kamar," ucap Zaqi.
Derly pun langsung menuju kamar, Derly masuk ke dalam kamar. Ternyata benar Zaiden sedang duduk disamping kasur dan memainkan ponselnya. Derly duduk di pinggir suaminya.
"Kamu habis kemana?" tanya Zaiden yang masih memandang ponselnya.
"Aku habis ke Mall," ucap Derly.
"Kok habis ke Mall nggak bawa belanjaan?" tanya Zaiden.
"Iya, aku habis beli baju buat Zira," ucap Derly.
"Awas kalo kamu bohong!" ucap Zaiden sambil menaruh ponselnya di samping tempat tidur.
"Aku gak bohong kok, Mas," ucap Derly.
"Mas mau makan atau mandi dulu?" tanya Derly.
"Mas mau mandi dulu," ucap Zaiden.
"Ya udah aku siapin airnya dulu ya, Mas," ucap Derly. Zaiden hanya mengangguk.
Derly pun beranjak meninggalkan suaminya, setelah airnya sudah siap Derly memanggil suaminya untuk segera mandi.
Sembari menunggu suaminya mandi Derly pun memasak makanan kesukaan suaminya. Setelah memasak Derly menyiapkan air minum dan semua alat makan.
Makan malam sudah siap Derly memanggil semua orang yang berada di rumah.
kedua mertua Deely dan Zira sudah berada di meja makan. Derly dan Zaiden pun muncul.
"Ini semua masakan Mamah?" tanya Zaiden.
"Ini bukan masakan Mamah," jawab Zora.
"Makanan ini banyak banget Mah," ucap Zira.
"Ini semua masakan Aunty" jawab Zora.
"Wah Aunty masakannya banyak banget," ucap Zira, Derly hanya tersenyum.
"Ayo dimakan semuanya," ucap Derly.
Mereka semua memakan makanan yang sudah disiapkan oleh Derly. Setelah sarapan mereka berkumpul diruang keluarga.
"Oh iya Mamah mau bicara nih sama kalian berdua," ucap Zora.
__ADS_1
"Mau bicara apa Mah?" tanya Zaiden.
"Derly sudah hamil belum?" tanya Zora.
Derly hanya terdiam ketika mertuanya menanyakan tentang kehamilan, Derly sadar bahwa dirinya belum siap untuk hamil.
Zaiden yang melihat wajah Derly berubah kini dia yang akan menjawab pertanyaan mamahnya.
"Kita baru nikah satu bulan Mah, jadi belum. Sabar ya Mah, kan ada Zira yang masih kecil," ucap Zaiden.
"Apa hubungannya sama Zira?" tanya Zora.
"Nanti Mamah, repot kalo ngurus anak Zaiden sama ngurus Zira" ucap Ziaden.
Derly hanya terdiam dan menundukkan kepalanya. Derly sadar bahwa ia belum menyerahkan sepenuhnya untuk Zaiden.
"Ini sudah larut malam Mah, kita ke kamar duluan ya. Ayo Sayang kita istirahat dulu!" ajak Zaiden.
Derly berjalan disamping suaminya. Ia selalu memikirkan pertanyaan yang mertuanya katakan. Setelah sampai kamar Derly masih terdiam.
"Yang, udah dong jangan dipikirin terus perkataan mamah tadi," ucap Zaiden. Derly hanya melirik Zaiden sekilas.
"Maaf ya Mas, aku belum sepenuhnya menjadi istri yang kamu inginkan," ucap Derly.
"Istri yang aku inginkan bukan seperti yang kamu bayangkan," ucap Zaiden.
"Istri yang aku inginkan itu orangnya baik, nurut sama suami, dan penyayang" ucap Zaiden.
"Aku buka termasuk semua itu mas" ucap Derly.
"Kamu itu termasuk apa yang Mas inginkan. Tapi…." ucap Zaiden menggantungkan perkataannya.
"Tapi apa Mas?" tanya Derly heran.
"Kalo Mas pulang kerja pasti kamu nggak ada di rumah," ucap Zaiden sambil mencubit kecil pipi Derly.
"Hehehe, maaf ya Mas" ucap Derly sambil cengengesan.
"Iya nggak apa-apa, tapi lain kali jangan diulangi lagi ya," ucap Zaiden.
"Iya Mas" ucap Derly.
"Yaudah sekarang kita tidur dulu hari sudah semakin malam!" ucap Zaiden. Derly hanya mengangguk dan tersenyum.
Pagi harinya Derly bangun lebih pagi dan memasak sarapan nasi goreng dan telur mata sapi untuk suami dan yang lainnya.
Mereka pun sarapan tanpa suara, Zaqi dan Zaiden pun berangkat ke kantor. Zora, Derly dan Zira menonton tv.
"Aunty jadikan nanti malam tidur di kamar Zira?" tanya Zira.
__ADS_1
"Mmmm, nanti aunty pikirin dulu ya," ucap Derly.
"Waktu kemarin Aunty bilang mau tidur di kamar Zira malam ini," ucap Zira dengan merajuk.
"Iya Sayang, Aunty mau izin dulu sama kakak Zira ya," ucap Derly.
"Ok Aunty." ucap Zira.
"Derly tolong jagain Zira sebentar ya, Mamah, mau beli sayuran dulu didepan," ucap Umi.
"Iya, Mah." ucap Derly.
Umi pun meninggalkan mereka berdua. Kini tinggal Derly dan Zira yang sedang asik menonton tv.
"Sini Zira duduk disamping Aunty," acap Derly.
Zira pun duduk disamping Derly. Zira masih saja terfokus dengan pada acara kartun.
Zira kemudian beranjak duduk dipangkuan Derly, Derly dengan senang hati menyambut Zira untuk duduk nyaman di pangkuannya. Derly berpikir mungkin kalo ia punya anak nanti pasti lebih menjadi keluarga yang lengkap, namun dirinya masih tergolong usia muda.
Bagaimana tidak tergolong usia muda, ia menikah di usia 19 tahun. Derly pun tak menyangka ia akan menikah secepat ini setelah ia tak lama putus dengan Riza.
Derly sebenarnya masih ragu akankah ia siap memiliki anak atau sebaliknya. Ia berpikir, bahwa ia akan memiliki anak di usianya yang sudah mantap untuk memiliki anak. Ia sekaligus bersyukur memiliki suami yang pengertian walau ia tidak membicarakan tentang masalah anak.
Zaiden mungkin menginginkan sosok bayi muncul di tengah-tengah keluarganya, tapi Zaiden manahan apa yang ia inginkan demi apa yang istrinya inginkan terlebih dahulu atau menunggu istrinya benar-benar siap memiliki sesosok anak.
Tak menunggu waktu lama, Umi pun pulang membawa sayuran yang akan mereka makan siang atau makan malam. Umi dan Derly memasak beberapa menu makanan yang terlihat lezat.
Mereka bertiga memakan makan siang bersama. Setelah makan siang mereka bertiga memilih untuk kembali ke kamar masing-masing. Zira kembali ke kamar untuk tidur siangnya, umi kembali ke kamar untuk beristirahat, dan Derly ke kamar untuk membaringkan badannya dan memainkan ponselnya.
Hari semakin larut, suara mobil dari terdengar jelas. Derly kemudian beranjak turun untuk menyambut suami dan mertuanya, Derly dan Zaiden kembali ke kamar mereka berdua.
"Mas mau mandi atau mau makan dulu?" tanya Derly.
"Mas mau mandi dulu," jawab Zaiden.
"Mas mau mandi air hangat atau air yang biasa?" tanya Derly lagi.
"Air hangat saja supaya Mas badan Mas bisa enakan sedikit," jawab Zaiden.
"Oke, aku siapin airnya dulu ya Mas," ucap Derly sambil beranjak untuk menyiapkan air mandi. Zaiden hanya mengangguk.
Setelah airnya sudah siap Derly menyuruh agar suaminya segera mandi. Sembari menunggu suaminya mandi Derly menuju dapur dan membantu mertuanya untuk menyiapkan makan malam.
Setelah makan malam siap mereka pun mulai menyantap makanan tersebut tanpa sepatah kata pun.
.......................................................................
Hai teman-teman maaf ya kali ini aku telat up. Jangan lupa tinggalkan jejak, aku sedih karena kalian lupa meninggalkan jejak. Hari ini mohon tinggalkan jejak ya😊.
__ADS_1