
Setelah sampai di ruang makan mereka pun langsung memakan makan malamnya tanpa sepatah katapun.
Setelah makan mereka kembali ke kamar. Hari kini semakin larut, mereka pun akhirnya tertidur dengan lelap.
Disisi lain yaitu Kiana. Kiana merencanakan ingin merebut Zaiden dari Derly walaupun Kiana belum terlalu kenal dengan Derly.
Ia menyusun rencana untuk merebut Zaiden dengan perlahan dan berpikir untuk tidak gegabah. Karena hari semakin larut Kiana pun tertidur dan memimpikan Zaiden.
Pagi harinya Derly sudah menyiapkan kemeja dan jas kerja buat suaminya. Setelah menyiapkan pakaian Derly berjalan menuju taman bunga, ia selalu melihat taman bunga di pagi hari dan sore hari.
Tiba-tiba ponsel Derly berdering, Derly langsung mengangkatnya.
*Panggilan on*
"Halo," (Derly)
"Hai," (Umi)
Ya yang menelpon Derly pagi-pagi adalah ibu mertua Derly.
"Ada apa Mah?" (Derly)
"Kamu sudah pindah rumah?" (Zora)
"Alhamdulillah sudah Mah," (Derly)
"Rencananya Mamah nanti siang mau ke rumah baru kamu baren Zira," (Zora)
"Boleh Mah, Derly tunggu ya Mah," (Derly)
"Iya, udah dulunya Mamah mau masak dulu," (Zora)
"Iya." (Derly)
*Panggilan off*
Salah satu art menghampiri Derly ia mengatakan bahwa sarapan sudah siap.
Derly langsung berjalan ke arah ruang makan. Derly melihat kekanan dan kekiri, Derly tidak melihat keberadaan suaminya.
"Mas Zaiden, mana?" tanya Derly kepada salah satu asisten rumah tangga.
"Tuan belum kesini Nyonya," ucap asisten rumah tangga.
Derly pun langsung menuju kamar untuk melihat suaminya.
"Mas kok belum sarapan?" tanya Derly.
"Sebentar lagi, ini Mas lagi masang dasi." ucap Zaiden sambil terus memasangkan dasi pada lehernya.
Setelah selesai memasang dasi mereka pun menuju ruang makan.
Setelah makan Zaiden langsung berangkat ke kantor. Setibanya di kantor Zaiden melihat sudah ada Kiana di depan ruangannya.
"Pagi, Pak," sapa Kiana.
"Pagi," ucap Zaiden singkat.
Zaiden langsung duduk di kursi kerjanya. Zaiden langsung membuka laptopnya. Kiana mendekati Zaiden dan bertanya.
"Pak Zaiden mau kopi?" Kiana bertanya.
"Boleh. Tapi jangan manis-manis," ucap Zaiden.
__ADS_1
Kiana langsung membuatkan kopi untuk Zaiden. Ia menakarkan kopi dan gula yang menurutnya pas. Lalu ia menyerahkan kopi itu.
"Ini, Pak kopinya." ucap Kiana sambil menyodorkan kopi yang ia buat untuk Zaiden.
"Iya makasih," ucap Zaiden yang masih terfokus pada layar laptopnya. Kiana langsung keluar ruangan dan duduk di kursinya.
Disisi Derly. Hari semakin siang, ia menunggu mertuanya datang. Tak disangka yang ia tunggu pun akhirnya datang.
Salah satu asisten rumah tangga langsung mempersilahkan Zora masuk dan bertemu dengan Derly.
"Hai, Aunty," sapa Zira.
"Hai, eh ada adiknya Aunty. Sini-sini duduk bareng Aunty, Mamah juga silahkan duduk," ucap Derly.
"Rumahnya besar banget," ucap Zora sambil melihat disekitar.
"Iya, awalnya Derly juga gak nyangka Mah," ucap Derly.
"Aunty, Zira mau nginep disini boleh?" tanya Zira.
"Boleh dong, emang Zira kapan mau nginep disini?" tanya Derly.
"Hari ini aunty," ucap Zira.
"Tadi Zira rengek-rengek sama Mamah, dia minta nginep disini," ucap Zora.
"Boleh dong, kan Aunty sudah bolehin Zira nginep disini waktu Aunty tinggal di rumah Zira," ucap Derly.
"Makasih aunty," ucap Zira.
"Iya sama-sama," ucap Derly.
Derly memanggil salah satu asisten rumah tangga untuk mengantar Zira ke kamar yang sudah disiapkan, Zira dan art itu pun berjalan menuju kamar Zira.
"Ada urusan bisnis ya Mah?" tanya Derly. Zora hanya mengangguk.
"Mamah minta tolong, tolong kamu jagain Zira selama mamah, diluar kota ya," ucap Zora.
"Iya Mah, pasti Derly jagain kok," ucap Derly sambil tersenyum.
Waktu makan siang tiba, seperti biasa salah satu art datang dan memberitahu bahwa makan siang sudah siap.
"Ayo Mi, kita makan dulu," ajak Derly.
Mereka pun berjalan bersama menuju ruang makan. Zira pun diberi tahu bahwa makan siang sudah siap. Zira mengikuti art sampai di ruang makan.
"Ayo Zira, kita makan dulu," ajak Derly.
"Iya Aunty," ucap Zira.
Mereka pun makan tanpa sepatah katapun.
Disisi Zaiden. Zaiden biasanya makan siang bersama asisten lama, dan kini ia bersama asisten barunya. Rasanya beda sekali asisten lama dengan asisten baru.
"Pak Zaiden, mau pesan apa?" tanya Kiana.
"Aku pesen steak aja sama jus jeruk," ucap Zaiden.
Kiana langsung memanggil salah satu pelayan untuk segera menyiapkan pesanannya.
Tak menunggu lama pelayan pun mengantarkan makanan yang dipesan oleh Kiana. Zaiden langsung memakan makan yang ia pesan tanpa sepatah katapun. Tapi Kiana selalu bertanya disaat Zaiden sedang makan. Zaiden pun terbatuk-batuk.
"Maaf Pak, ini minum dulu." ucap Kiana sambil menyodorkan jus jeruk.
__ADS_1
"Kalo saya lagi makan jangan diajak ngobrol," ucap Zaiden.
"Iya Pak, maaf," ucap Kiana sambil menundukkan kepalanya.
Zaiden langsung melanjutkan makanannya. Di dalam hati Kiana ia merasa semakin susah mendapatkan hati Zaiden. Ia harus lebih sopan dalam bicara dan harus membuat siasat.
Setelah selesai makan siang Zaiden bertanya jadwal selanjutnya. Dan Kiana menjawab siang ini akan ada rapat dengan duta besar di Prancis.
Zaiden kembali mengerti, ia menunggu duta dari Prancis itu ruangannya. Tak menunggu lama duta besar dari Prancis pun datang.
Duta besar itu mengatakan bahwa ada beberapa masalah di Prancis, Zaiden harus segera melihatnya.
Kiana yang mendengar bahwa Zaiden akan ke Prancis ia berharap dirinya ikut dan ia akan memikirkan rencana untuk memisahkan Zaiden dengan Derly.
Zaiden memikirkan bagaimana caranya agar Derly tidak ikut ke Prancis, secara ia sudah menjanjikan akan membawa istrinya pergi ke negara itu lagi.
"Kiana, kamu nanti ikut saya ke Prancis," ucap Zaiden.
"Kapan Pak?" tanya Kiana berpura-pura gak tahu.
"Lusa kita berangkat," ucap Zaiden.
"Baik pak," ucap Kiana.
Hari semakin sore, Zaiden pun memutuskan pulang. Setelah sampai rumah Zaiden langsung mencari keberadaan istrinya. Zaiden melihat ternyata ada Umi dan adiknya.
"Assalamualaikum," sapa Zaiden.
"Waalaikumsalam," ucap mereka serempak.
"Kakak…," ucap Zira.
"Hai adik kakak," ucap Zaiden.
"Zaiden, Mamah titip Zira dulu ya. Mamah sama papah mau keluar kota," ucap Zora.
"Iya Mah," ucap Zaiden.
Ini kesempatan Zaiden untuk alasan ia akan kembali keluar negeri.
"Yaudah, Mamah pulang dulu ya," ucap Zora.
Derly dan Zaiden hanya mengangguk.
"Zira, Mamah pulang dulu ya. Zira jangan nakal," ucap Umi.
"Iya, Mah," ucap Zira singkat.
Zora pun meninggalkan mereka. Zira kembali ke kamarnya. Malam semakin larut, mereka pun makan malam dan langsung ke kamar masing-masing.
"Nanti lusa Mas, mau ke Prancis lagi," ucap Zaiden.
"Ikut dong Mas," rengek Derly.
"Tapi nanti Zira gimana?" tanya Zaiden.
"Dibawa aja Mas," usul Derly.
"Gak bisa, Zira masih terlalu kecil," ucap Zaiden.
.......................................................................
Hai semuanya. Terimakasih sudah mampir😊.
__ADS_1