
kini sudah beberapa minggu Derly masih saja belum terbangun dari koma-nya. Zail hanya menangis dan terus berdoa untuk kesembuhan sang Bunda.
"Ya Allah, sembuhkan Bunda Zail. Zail sayang sama Bunda, ya Allah," doa Zail di depan sang Bunda.
Zaiden terus berusaha menenangkan sang anak yang terus menangis setiap hari.
"Zail, pulang dulu yuk! Kita biarkan Bunda istirahat. Mungkin Bunda masih nyaman, kalau Bunda sudah kangen berat dengan Zail pasti Bunda akan segera bangun dari koma-nya," papar Zaiden.
Zail hanya mengangguk, lalu meninggalkan Derly yang masih berbaring lemah.
'Bunda, cepat bangun. Zail sungguh merindukan Bunda. Zail sayang sama Bunda. Cepat bangun,' batin Zail
Mereka berdua keluar dari ruang perawatan Derly. Zaiden menelpon salah satu mertua atau orang tua-nya.
Tidak menunggu waktu lama, Zora dan Derla pun kini sudah sampai di rumah sakit. Untuk menjaga Derly yang masih terbaring lemah tidak berdaya itu.
"Mah, Mom. Zaiden sama Zail pamit pulang dulu. Zail harus istirahat," pamit Zaiden.
"Iya, kalian pulang-lah. Di sini ada Mamah dan mertua kamu. Jaga Zail baik-baik selama di rumah," ucap Zora.
Zaiden menggendong tubuh Zail yang habis menangis seharian. Saat menggemdong ternyata berat badan Zail menurun.
"Zail, kok kamu tidak berat kayak dulu? Kamu jarang makan? Nanti di rumah makan yang banyak, ya?" tanya Zaiden.
Zail hanya mengangguk lemah. Rasa kangen pada sosok bunda terus menyerangnya.
Mobil pun berlalu meninggakan rumah sakit. Diperjalanan Zail tertidur pulas. Zaiden tidak tega untuk membangunkan sang anak.
__ADS_1
Kini mobil sudah memasuki area rumah yang di tempatinya. Zaiden hendak menggendong Zail. Namun Zail menolaknya. Zail akan berjalan sendiri, karema dia tidak mau membebankan sang Ayah.
Mereka berdua memasuki rumah dan berjalan menuju ruang makan. Zaiden mengambilkan sepiring nasi serta lauk pauknya yang sudah tersedia di atas meja.
"Makan yang banyak ya, Sayang. Nanti kalo bunda lihat anak kesayangannya makannya sedikit bunda akan merasa sedih," bujuk Zaiden.
"Tapi, Ayah, Zail mau disuapi sama bunda lagi. Zail kangen Bunda," lagi-lagi air mata Zail lolos dari pelupuk matanya.
"Makanya, Zail harus banyak-banyak makan supaya bunda nggak.sedih pas lihat Zail," ucap Zaiden. "Zail mau lihat bunda sedih pas lihat Zail yang kurus?" lanjut Zaiden.
Zail langsung menggeleng-gelengkan kepalanya. Zail langsung menyendok nasi serta lauk ke dalam mulutnya.
Setelah makanannya habis, Zail langsung berdiri menuju kamarnya. Karena rasa kantuk mulai menyerangnya lagi.
Tiba-tiba suara bel rumah berbunyi.
Ting ... tong ... ting ... tong.
"Assalamalaikum," sapanya.
"Wa'alaikumussalam, cari siapa, Pak?" tanya Zaiden.
"Apakah benar ini rumah Derly?" dia bertanya.
"Iya benar. Saya suaminya. Bapak ada perlu apa dengan istri saya?" lagi-lagi Zaiden melepar pertanyaan. Karena Zaiden sama sekali belum melihat orang ini.
"Saya Ravi. Paman Derly," jawabnya.
__ADS_1
Ternyata Ravi—paman Derly yang tidak menghadiri acara pernilahan mereka.
Zaiden pun mempersilahkan untuk masuk terlebih dahulu. Mereka mengobrol di ruang tamu.
"Maaf karena saya tidak datang ke pernikahan kalian. Waktu itu saya sibuk dengan pekerjaan saya yang menumpuk." Paparnya.
"Tidak apa-apa, Pak," ucap Zaiden.
"Jangan panggil saya Bapak. Panggil saja Paman," ucapnya.
"Iya, Paman."
Tiba-tiba ponsel Zaiden berbunyi nyaring. Menandakan bahwa ada yang menelponnya sekarang.
"Maaf, Paman. Saya mau mengangkat telepon dulu," pamit Zaiden. Ravi hanya mengangguk.
Nama kontak tertera 'Mamah' Zaiden buru-buru mengangkatnya.
"Assalamualaikum, Mah." Salam Zaiden ketika sambungan terlepon tersambung.
"Wa'alaikumusslam. Zaiden kamu cepat ke mari. Derly mengalami sesuatu!" ucap Zora dengan nada tergesa-gesa.
Zaiden langsung mematikan sambungan teleponnya. Zaiden meminta pertolongan kepada Ravi, untuk menjaga Zail yang masih tertidur pulas. Dan Ravi hanya mengangguk.
Zaiden langsung mengambil kunci mobil dan langsung menuju rumah sakit.
————————————————————
__ADS_1
Ada apa dengan Derly?
Ikuti terus kisahnya ya😊