Kisah Cinta Derly

Kisah Cinta Derly
BAB 51


__ADS_3

Zaiden pun menyuruh bawahannya untuk membeli semua alat dan bahan untuk membuat rumah yang sederhana dan simple itu. Sedangkan Derly menjaga dan menemani Zail ke sekolah.


Semuanya sudah dibeli, Zaiden memilih arsitek yang berpengalaman lama dan tau situasi di sekitar rumah yang akan Zaiden bangun.


Tanpa menunggu waktu lama, arsitek dan para pegawainya pun langsung melaksanakan tugas masing-masing.


Membuat rumah memang tak semudah membuat bangunan yang lain. Rumah pun harus diperhatikan dari segi lingkungan dan segi bahan bangunannya.


Kini sudah dua bulan berlalu, rumah pun kini sudah jadi sembilan puluh persen. Derly dan Zaiden setiap minggu pasti memastikan dan mengawasi perkembangan rumahnya.


Tidak lupa, mereka selalu membawa Zail. Zail merasa senang melihat bagaimana rumah dibangun. Zail melihat banyak bahan bangunan, seperti pasir, batu bata, semen, dan lain sebagainya.


"Bunda, ini semua buat bikin rumah?" Zail bertanya, karena melihat beberapa alat lainnya.


"Iya, ini semua alat dan bahan buat bikin rumah," Derly menjawab pertanyaan Zail dan tersenyum.


"Zail pengen buat rumah sendiri, yang besar. Kayak rumah kita yang dulu," ucap Zail.


"Jangan besar-besar. Yang penting indah dan enak dipandang," ucap Zaiden.


Zail hanya mengangguk dan melihat disekitarnya, orang-orang yang sedang melaksanakan tugas masing-masing.


Karena hari sudah semakin sore, mereka pun memutuskan untuk pergi kesuatu tempat terlebih dahulu sebelum pulang.


Derly yang tidak tahu bahwa mereka akan kesuatu tempat pun merasa bingung.


"Mas, kita mau ke mana?" tanya Derly.


"Kita mau makan malam dulu. Sudah lama kita tidak makan malam di luar," ucap Zaiden santai dengan pandangan mata yang terus melihat di depan.


Derly hanya diam dan tersenyum.


Tidak menunggu waktu lama, akhirnya mereka sampai di rumah makan yang terkesan tradisional.


Mereka masuk bersama, Zail yang belum pernah lihat pemandangan yang tradisional, Zail pun menganga dan tidak berhenti melihat ke sana dan ke mari.

__ADS_1


Zaiden memanggil pelayan untuk segera datang ke meja yang mereka duduki. Pelayan pun menghampiri mereka.


"Silahkan Tuan, Nyonya. Dipilih dulu." ucap pelayan itu sambil menyodorkan buku menu makanan yang sudah disediakan oleh rumah makan tersebut.


"Mas pilih gudeg, kamu pilih apa? Zail mau pilih apa?" Zaiden bertanya kepada istri dan anaknya.


"Aku empal gentong, Zail mau pilih apa, Sayang?" Derly bertanya.


"Zail mau pilih rendang saja," ucap Zail.


"Gudeg, empal gentong, sama rendang. Minumnya mau apa?" tanya pelayan.


"Es teh manis tiga," ucap Zaiden.


"Ditunggu sebentar ya, Tuan, Nyonya." ucap pelayan sambil melangkah meninggalkan mereka bertiga.


Tidak menunggu waktu lama, pesanan pun datang dengan beberapa pelayan yang membawa makanan dan minuman.


Mereka langsung manyantapnya dengan khidmat. Menikmati setiap rasa makanan tradisional yang mereka pesan masing-masing.


Pagi hari....


Hari ini hari senin, namun sekolah Zail libur.


Zail bermain di kamarnya pagi ini. Sedangkan Derly dan Zora berada di ruang keluarga sambil memakan cemilan.


"Bagaimana perkembangan rumahnya?" tanya Zora.


"Alhamdulillah, Mah. Rumahnya sudah sembilan puluh persen." jawab Derly.


"Terus kapan kamu mau beli perlengkapan rumah?" Zora bertanya.


"Hmm, Derly belum berpikir ke situ. Karena rumahnya belum jadi hehe," ucap Derly.


"Kita beli sekarang saja, kalo beli nanti bisa berabeh. Setidaknya seperti menabung," usul Zora.

__ADS_1


"Nanti aku bilang dulu sama mas Zaiden ya, Mah." ucap Derly sambil melangkah menuju kamarnya untuk mengambil ponsel dan menghubungi Zaiden.


Derly mencari kontak suaminya dan segera menyambungkannya.


"Halo, assalamualaikum," ucap Derly saat sambungan telepon .


"Iya, wa'alaikumussalam. Ada apa?" tanya Zaiden dari seberang telepon.


"Mas, aku mau minta izin buat beli isi rumah hari ini boleh?" tanya Derly.


"Kenapa nggak nanti saja, rumahnya juga belum jadi total," ucap Zaiden.


"Mamah ngajakin beli isi rumah hari ini, aku juga bosen di rumah terus," ucap Derly.


"Kemarin kita jalan-jalan lho, masa kamu lupa. Apa mau jalan-jalan lagi hari ini?" tanya Zaiden.


"Bukan gitu lho, Mas. Maksud aku... aku mau jalan-jalan sama mamah." ucap Derly dengan nada kesalnya


"Iya, Mas izinkan kamu beli isi rumah. Nanti kalau kurang kamu bisa telepon lagi," ucap Zaiden.


"Makasih ya, Mas," ucap Derly.


"Iya sama-sama. Sudah dulu ya, Mas masih ada kerjaan nih," ucap Zaiden.


"Ok, assalamualaikum," salam Derly.


"Wa'alaikumussalam." jawab Zaiden sambil menutup panggilan tersebut.


Derly pun segera mengambil tas dan ponselnya.


Derly dan Zora pun kini menaiki mobil menuju toko furniture Derly membeli sofa yang sederhana dan tidak lupa dengan satu set meja makan.


Setelah membeli furniture, mereka menuju alat elektronik. Seperti televisi, sound sistem, kulkas, mesin cuci, dan sebagainya.


"Bunda, Zail haus," ucap Zail.

__ADS_1


"Ya sudah, kita beli minuman dulu. Tuh kayaknya di situ enak." ucap Zora sambil menunjukan bahwa ada kedai minuman yang sangat terlihat sejuk.


__ADS_2