Kisah Cinta Derly

Kisah Cinta Derly
BAB 54


__ADS_3

Karena hari semakin malam, Zaiden memutuskan untuk segera mandi. Kata orang kalau mandi malam bisa mendatangkan penyakit.


Sedangkan Derly masih melanjutkan filmnya. Asik menonton hingga tidak sadar lagi, bahwa Zaiden sudah selesai mandi.


"Yang ... yuk tidur!" ajak Zaiden.


Derly pun mematikan layar ponselnya dan menaruhnya di atas nakas. Merebahkan tubuhnya di samping Zaiden.


"Mas ... nanti besok jadi?" tanya Derly.


"Jadi apa?" Zaiden bertanya balik.


"Jadi beli kasur, lemari sama yang lainnya?" ucap Derly mengingatkan.


"Jadi kok. Makanya ayo tidur, biar besok beli lemari sama kasurnya nggak ngantuk." ucap Zaiden dengan memejamkan matanya.


Derly dan Zaiden pun terbawa ke alam mimpi masing-masing.


Pagi hari....


Derly bangun pagi-pagi untuk membantu mertuanya masak. Menu kali ini seperti biasa nasi goreng dan telur mata sapi.


"Mah, boleh minta tolong nggak?" tanya Derly.


"Minta tolong apa? Kamu mau ke luar?" tanya Zora.


"Sebenarnya Derly sama Mas Zaiden mau beli kasur sama lemari. Derly minta tolong ya, Mah. Anterin Zail sekolah," ucap Derly.


"Itu mudah. Yang lama juga boleh kok," ucap Zora.


"Mamah bisa aja deh," ucap Derly.

__ADS_1


Zora pun menuju mobil yang akan mengantar Zail sekolah. Sedangkan Zail bingung, biasanya sang bunda yang mengantarkan sekolah. Tapi sekarang Neneknya.


"Bunda mana, Nek?" tanya Zail.


"Bunda sama Ayah sibuk. Jadi Nenek yang nganterin kamu sekolah," jawab Zora.


Zail hanya mengangguk tanda bahwa Zail mengerti apa yang diucapkan sang Nenek.


Supir pun melaju menuju sekolah di mana Zaiden menuntut ilmu.


Zaiden dan Derly pun bersiap-siap untuk mengunjungi salah satu penjual lemari dan kasur.


Mereka membeli beberapa kasur dan lemari serta wallpaper dinding. Mereka memilih wallpaper bermotiv batik.


Setelah mereka membeli semuanya, Derly dan Zaiden mengunjungi pusat perbelanjaan. Membeli beberapa baju, aksesoris dan lain-lainnya.


Karena hari sudah siang, Zail sudah pulang sekolah dan mencari kedua orang tuanya. Namun nihil, Zail tidak menemukan keberadaan mereka. Zail pun bertanya kepada neneknya yang sedang duduk santai di taman belakang.


"Bunda sama ayah lagi ke luar, katanya lagi beli beberapa lemari lagi," ucap Zora santai.


"Kok bunda sama ayah tega sih nggak ngajak Zail. Zail mau ikut," rengek Zail.


"Bentar lagi juga pulang kok, Nenek mau masak dulu, buat makan siang. Zail mau ikut bantu Nenek?" ajak Zora.


"Mau, Nek. Ayo," ucap Zail.


Mereka pun menuju dapur. Zail belajar memotong sayuran dengan pisau khusus sayuran yang tidak terlalu tajam.


Sedangkan Zora mempersiapkan bumbu dapur yang lainnya. Setelah selesai memotong sayuran, Zail menaruhnya di samping Zora.


"Nenek masak dulu ya, Zail duduk saja di kursi," ucap Zora. Zail hanya mengangguk.

__ADS_1


Sedangkan disisi lain, Derly dan Zaiden mengunjungi salah satu rumah makan. Mereka memesan beberapa makanan.


"Zail gimana ya, apa sudah makan siang?" tanya Derly lirih.


"Kan ada mamah, pasti mamah yang jagain kok. Sudah lama juga kita nggak keluar berdua kaya gini," ucap Zaiden sambil tersenyum. Derly hanya membalasnya dengan senyuman.


Pesanan mereka datang. Tanpa basa-basi, mereka langsung memakannya karena perut sudah minta diisi.


Setelah makan mereka memutuskan untuk pulang. Barang-barang yang mereka beli sudah sampai di rumah duluan.


Setelah mereka tiba di rumah, Derly langsung mencari anaknya. Ternyata sedang tidur siang.


Derly menghampiri Zora. Duduk di sampingnya dan mengobrol santai.


"Zail sudah makan siang, Mah?" tanya Derly.


"Sudah, kalau belum makan siang mana bisa Zail tidur," ucap Zora.


"Terima kasih ya, Mah. Maaf merepotkan," ucap Derly.


"Santai saja, lagian Zail itu cucu Mamah." ucap Zora.


"Derly ke kamar dulu ya, Mah. Derly juga sudah ngantuk," pamit Derly.


Zora mengangguk. Derly pun langsung berjalan menuju kamarnya dan merebahkan tubuhnya yang sudah lelah.


Sedangkan Zaiden melihat laptopnya untuk memantau perusahaannya, juga mengawasi rumah.


Ternyata kini rumahnya sudah sembilan puluh sembilan persen jadi. Tinggal memasang semua perabot rumah tangga.


Zail memanggil beberapa orang kepercayaannya untuk membawa semua ke rumah baru yang kini hampir sudah jadi sepenuhnya.

__ADS_1


__ADS_2