
Fany pun mulai memasak, sedangkan Derly melangkah menuju kamarnya untuk membersihkan badannya yang kini sudah terasa lengket.
Setelah membersihkan badan, Derly berjalan menuju kamar Zail. Derly melihat Zail yang sedang memakai baju.
"Wah... anak, Bunda. Kamu sudah mandi?" tanya Derly. Zail hanya mengangguk.
"Ya sudah, yuk keluar!" ajak Derly.
Mereka pun melangkah menuju ruangan keluarga. Terlihat Zaiden yang sedang terduduk sambil memainkan ponselnya.
Zail yang melihat ada mainannya langsung memainkan mainannya.
"Kamu lagi apa, Mas?" tanya Derly yang melihat suaminya sedang serius menatap layar ponsel.
"Mas lagi chatingan sama Riza," ucap Zaiden. Derly hanya mengangguk.
Malam pun kini sudah tiba, Derly, Zaiden dan Zail sedang berkumpul di ruang keluarga.
Tiba-tiba bel rumah.
Ding dong... ding dong... ding dong.
Fany pun membuka pintu, Fany mempersilahkan Riza masuk. Riza melangkah dibelakang Fany. Mereka pun kini sudah tiba di ruang tamu.
Fany menuju majikannya berada, Fany mengatakan bahwa Riza kini sudah berada di ruang tamu. Zaiden pun melangkah menuju Riza.
__ADS_1
"Sudah lama?" tanya Zaiden.
"Baru sampai, Pak. Ini berkas-berkas yang belum Pak Zaiden tanda tangan." ucap Riza sambil menyodorkan berkas-berkas.
Zaiden menerima berkas-berkas itu. Zaiden membolak-balikkan berkas dan membaca dengan teliti.
Setelah semua selesai ditanda tangani, Zaiden mengajak Riza untuk makan malam bersama. Riza hanya mengangguk menerima ajakan dari Zaiden.
Mereka berjalan bersama menuju ruang makan. Riza dan Zaiden pun kini sudah duduk disalah satu kursi yang berada di ruang makan tersebut.
"Fany. Tolong panggil Derly sama Zail ke sini. Ingetkan kalo disuruh ke sini buat apa?" ucap Zaiden. Fany hanya mengangguk dan meninggalkan mereka.
Fany berjalan menuju Derly dan Zail berada. Fany mengatakan bahwa makan malam sudah siap.
Derly dan Zail pun beranjak dari sofa dan menuju ruang makan.
"Makasih, Sayang." ucap Zaiden sambil menerima sepiring makanan itu. Derly hanya tersenyum.
Riza yang melihat betapa bahagianya manta kekasih yang sebenarnya Riza sendiri masih mencintainya. Riza pun akhirnya menghentikan rencana untuk merebut Derly dari Zaiden.
Mereka pun makan malam tanpa sepatah kata pun. Setelah makan malam, Riza memutuskan untuk pulang.
Derly membawa Zail untuk tidur. Derly membacakan dongeng kesukaan Zail. Tidak menunggu waktu lama, Zail akhirnya terlelap dan terbawa ke alam mimpi.
'Mimpi yang indah ya, Sayang.' batin Derly sambil mengusap pelan kepala Zail.
__ADS_1
Derly berjalan menuju kamarnya. Setelah tiba di dalam kamar, Derly melihat suaminya yang belum tidur. Derly mendekat dan duduk di samping suaminya yang kini sedang memainkan ponselnya dan menyender ke sofa.
"Mas..." panggil Derly.
"Ada apa, Yang?" tanya Zaiden.
"Kamu sibuk banget ya? Istrinya sekarang dianggurin terus." ucap Derly sambil memanyunkan bibirnya.
cup.
Zaiden mencium bibir Derly. Derly manatap tajam ke arah suaminya.
"Kamu tuh, mencari kesempatan dalam kesempitan ya." ucap Derly sambil mencubit pinggang Zaiden.
"Aduh... aduh.... Sakit udah dong jangan dicubitin terus," ucap Zaiden pura-pura meringis kesakitan.
Derly berjalan menuju karmar mandi untuk membersihkan badannya dan menggunakan piyama yang terlihat seksi.
Derly pun keluar dari kamar gantinya. Zaiden yang melihatnya langsung memeluk sang istri. Zaiden langsung menciumi ceruk leher jenjang Derly dan menggigit kecil.
Derly berjalan menuju kasur, tapi Zaiden masih tidak mau melepaskan pelukannya.
Zaiden membalikkan tubuh Derly. Kini mereka berdua bertatapan. Zaiden mendekati bibir Derly. Mereka kini saling berciuman. Ciuman yang tadi santai kini semakin panas, Zaiden membaringkan tubuh Derly dan menindihnya.
Mereka pun hanyut dalam sebuah hasrat yang membara. Zaiden terus mencium istrinya dengan rakus. Akhirnya mereka malakukan layaknya suami istri.
__ADS_1
..........................................................
Tinggalkan jejak ya kak, semakin hari semakin sedikit. Author jadi sedih😢.