
"Kita makan siang dulu, nanti habis makan siang kita beli mainan sama baju yang baru buat Liza," ucap Derly.
Liza hanya nurut pada Derly, Liza juga baru melihat tempat yang begitu besar.
Setelah membeli mainan dan baju, mereka pun pulang.
Hari semakin senja. Zaiden pulang dan mencari anaknya.
"Liza….," panggil Zaiden.
Liza pun langsung lari dan memeluk Zaiden. Zaoden menggendong Liza. Mereka duduk di ruang keluarga, sedangkan Derly kembali mamainkan ponselnya.
"Bunda kemana?" tanya Zaiden.
"Ada, Yah. Nda lagi tidulan di kamalnya," ucap Liza.
"Nih, Ayah tadi beli makanan buat Liza, Liza mau gak?" tanya Zaiden.
"Mau, Yah," ucap Liza.
"Ayah, panggil bunda dulu ya," ucap Zaiden. Liza mengangguk.
Zaiden pun berjalan menuju kamarnya, ia mengajak Derly bergabung dengan anak dan dirinya. Mereka pun sudah berkumpul di ruang keluarga.
"Wah, Liza lagi makan apa?" tanya Derly.
"Agi makan ini, Nda," ucap Liza sambil memakannya.
"Wah ada pizza, kamu beli dimana, Mas?" tanya Derly.
"Mas, beli di restoran," jawab Zaiden.
Setelah mereka kenyang, Derly memandikan anak kesayangannya. Setelah memandikan anaknya, Derly membersihkan dirinya.
Hari semakin malam, Derly malas masak. Jadi mereka memutuskan untuk mencari makanan untuk makan malam mereka.
Setelah makan malam, mereka pulang. Ditengah perjalanan Liza sudah terbawa ke alam mimpinya dan di pangku oleh Derly.
Mereka bertiga pun sudah sampai, Derly membaringkan tubuh Liza di kamar Liza. Setelah itu Derly menuju kamarnya. Ia melihat disekitar kamarnya, ternyata suaminya sedang berada di kamar mandi.
Derly bergegas meminum pil KB, ia takut jika suaminya tahu pasti akan membuang pil KBnya.
Zaiden keluar, Derly langsung menyembunyikan. Zaiden mendekat ke arah Dery.
"Kamu lagi apa?" tanya Derly.
Jantung Derly berdetak dengan cepat, ia takut ketahuan. Muka Derly langsung gugup dan tak bisa mengatakan sesuatu.
Zakden melihat ada segelas air putih dibelakang Derly, ia langsung mengira Derly habis minum.
"Oh, kamu habis minum. Ayo sekarang kita tidur, udah malem. Gak baik tidur malem-malem," ucap Zaiden.
Kini perasaan Derly lega ketika suaminya tidak mengetahui hal yang sebenarnya.
__ADS_1
Zaiden mulai membaringkan tubuhnya di kasur, Derly menyusul Zaiden. Mereka kini sudah membaringkan tubuhnya melepas lelah sepanjang hari.
Pagi hari…
Derly bangun pagi sekali, ia segera memasak untuk sarapan suami dan anaknya. Setelah sarapan selesai, Derly menuju kamarnya untuk membersihkan dirinya.
Mereka kini sudah berada di meja makan, mereka langsung memakan sarapannya. Setalah sarapan Zaiden pamit berangkat ke kantor.
Derly akan mengunjungi orang tuanya, sebelum mengunjungi orang tuanya. Derly mengajak Liza ke toko snack.
Setibanya di toko snack, Derly memilih beberapa snack kesukaannya. Derly meletakkan Liza ke keranjang troli.
"Liza, kamu mau yang mana?" tanya Derly sambil menyodorkan beberapa snack dengan rasa yang berbeda.
"Iza, mau yang kentang, Nda," jawab Liza.
Derly langsung memasukkan snack yang dipilih anaknya ke dalam karena hari semakin siang, Derly memutuskan untuk membayar di kasir.
Setelah mereka membeli banyak snack, Derly kembali melajukan mobilnya menujutroli. Mereka mengelilingi toko tersebut, rumah orang tuanya.
Tak menunggu waktu lama, mereka kini sudah sampai di halaman rumah yang dulu menjadi saksi masa kecilnya.
Derly pun mengetuk pintu rumah orang tuanya.
Tok… tok… tok.
Tak menunggu lama, pintu pun terbuka.
"Hai, ini cucu Nenek?" sapa Derla sambil bertanya pada Liza.
Liza langsung sembunyi dibalik badan Derly. Derly langsung menatap Liza dengan lembut. Sehingga Liza tahu bahwa orang yang sedang berada di depannya bukan orang jahat.
Mereka pun masuk dan duduk di ruang keluarga, mengobrol banyak dan bersenang-senang.
"Cucu Nenek namanya siapa?" tanya Derla.
"Iza," jawab singkat Liza.
"Pipinya tembem banget." ucap Derla sambil mencubit gemas pipi Liza.
"Nda, cakit," Liza mengadu pada sang bunda.
"Sini, sini. Bunda usapin," ucap Derly memanjakan Liza.
Jam hampir menunjukkan waktu makan siang, Derla dan Derly pun memasak bersama.
"Mom, aku rindu banget. Masak bareng Mommy," ucap Derly.
"Iya. Mommy juga ridu. Makanya, kamu sering-sering kesini supaya kita bisa masak bareng," ucap Derla.
"Kan aku harus ngurus rumah sama keluarga ku, Mom," ucap Derly.
Tak menunggu lama, makanan pun sudah siap di hidangkan. Mereka mulai memakan makan siangnya. Setelah makan siang, Derly pamit pulang.
__ADS_1
Di perjalanan, Liza tertidur. Karena memang sudah jam tidur siangnya. Setelah sampai rumah, Derly menggendong Liza dan membaringkannya di kasur Liza.
Begitu juga dengan Derly. Ia kembali ke kamarnya dan memainkan ponselnya.
Hari semakin larut senja, Zaiden pun pulang. Sedangkan Derly berada di dapur untuk menyiapkan makan malam. Zaiden menghampiri Derly dan memeluknya dari belakang.
"Ish, Mas. Kamu tuh ngagetin aku aja sih," ucap Derly.
"Kamu butuh asisten rumah tangga gak?" tanya Zaiden.
"Kok tumben, kamu nawarin aku asisten? Kamu takut aku gak cantik lagi kayak dulu ya?" curiga Derly.
"Tenang aja, kamu tetep cantik kok," jawab Zaiden.
"Mas kamu mandi gih, makanannya udah jadi. Aku mau bangunin Liza dulu," ucap Derly.
"Oke." ucap Zaiden sambil berjalan menuju kamarnya.
Sedangkan, Derly berjalan menuju kamar Liza. Derly membangunkan Liza. Setelah Liza bangun, Derly memandikan anaknya.
Mereka kini sudah berada di ruang makan, mereka mulai memakan makan siangnya. Setelah makan siang, mereka berkumpul di ruang keluarga sambil menonton tv.
Karena Derly hari ini lelah, ia memutuskan untuk tidur lebih awal. Kini tinggal Zaiden dan Liza.
Karena hari semakin malam, Zaiden membawa Liza kedalam kamar dan menidurkannya.
Setelah Zaiden melihat putrinya tidur ia pun meninggalkannya.
Satu tahun kemudian…
Hari dimana Liza dilahirkan, Derly dan Zaiden merencanakan membuat pesta untuk putri nya. Liza begitu bahagia memiliki orang tua yang tak pernah bertengkar di hadapannya.
Karena memang Derly dan Zaiden selalu menghindari Liza ketika mereka ada masalah. Supaya, mental Liza tak rusak ketika buruknya hubungan orang tua.
Derly mengindang bayak para tamu, begitu juga dengan Zaiden. Zaiden mengundang banyak sekali rekan bisnisnya. Derly ternyata tak tahu bahwa suaminya mengundang mantan kekasih yang sudah lama tak pernah bertemu.
Ketika acara akan dimulai, mata Dely tertuju pada sosok pria yang sudah lama ia tak temui. Riza. Iya memang benar Riza mantan kekasaih Derly.
Zaiden langsung membuyarkan pandangan Derly. Derly langsung tersenyum melihat Zaiden.
"Kamu lagi mikirin apa sih?" tanya Zaiden.
"Aku gak lagi mikirin apa -apa kok," jawab Derly.
"Acara mau dimulai, yuk kesana!" ajak Zaiden. Derly hanya mengangguk.
Derly merangkul tangan Zaiden, mereka terlihat sangat romantis dimata para tamu undangan.
Acara tiup lilin berjalan dengan lancar, Zaiden bergabung dengan rekan bisnisnya. Sedangkan, Derly bersama anaknya.
.......................................................................
Hai semuanya. Terimakasih sudah mau mampir, jangan lupa tinggalkan jejak😊
__ADS_1