
Hari pun kini sudah pagi, Zaiden sedang mengemas barang-barang yang ia bawa. Setelah semua sudah terkemas, Zaiden menghampiri Derly.
"Sudah, Mas?" tanya Derly yang masing menggendong buah hatinya.
"Iya, semuanya sudah selesai," ucap Zaiden.
Ketika mereka hendak beranjak, ternyata kedua mertua dan orang tuanya menjemput mereka.
"Mamah, kok Mamah ke sini?" tanya Zaiden.
"Kita mau jemput kalian. Sudah bereskan?" tanya Zora.
"Iya semuanya sudah beres," ucap Derly.
Mereka pun mulai meninggalkan rumah sakit. Derly dan Zaiden memasuki mobil mereka, begitu juga dengan mertua dan orang tua mereka masing-masing.
Tidak menunggu waktu lama, mereka kini sudah sampai di rumah.
Baby Zail digendong Derla, Zaiden memapah Derly dengan hati-hati. Setelah sampai kamar, Zaiden langsung merebahkan tubuh Derly ke kasur untuk beristirahat.
"Kamu istirahat dulu, baby Zail biar Mamah, Mommy, dan Mas yang menjaganya," ucap Zaiden.
"Iya, Mas." ucap Derly sambil memejamkan matanya.
Derly pun kini sudah terlelap dalam dunia mimpinya lagi. Derly bermimpi kembali bertemu dengan Liza.
"Hai anak kecil," sapa Derly.
Sesosok anak kecil itu terus tertunduk dan menangis, tak menghiraukan keberadaan Derly.
"Kamu kenapa menangis?" Derly bertanya.
Suara isakan tangis pun semakin menjadi. Derly memeluk anak kecil itu dan kembali bertanya "Kamu kenapa?"
Anak kecil itu mendongak melihat wajah Derly. "Bunda, apakah Bunda lupa? Ini Liza," ucap Liza dengan wajah sedihnya.
"Liza, akhirnya Bunda bertemu Liza lagi. Bunda kangen banget sama, Liza." ucap Derly sambil memeluk erat tubuh mungil Liza.
"Bunda. Bunda jaga baik-baik adek Zail ya," ucap Liza.
Derly semakin terisak, bahagia karena mempunyai anak seimut Zail. Tapi, kesedihan kehilangan Liza tidak bisa ia pendam. Rasa sayang pada kedua anaknya itu sangat begitu besar.
"Iya, Sayang. Bunda akan jaga Zail dengan baik," ucap Derly.
__ADS_1
"Sekarang, Liza mau kembali," pamit Liza.
"Sayang, kamu jangan kembali. Bunda masih kangen," ucap Derly.
Liza kembali membalikkan badan dan menangkup wajah Derly dengan kedua tangannya. Sabil berkata "Bunda, Liza mau kembali dan tidak akan mengganggu, Bunda."
"Liza, Bunda masih mau bersama Liza," ucap Derly.
"Bunda. Liza kan sudah bilang. Ini terakhir Liza bertemu Bunda," ucap Liza.
Liza berjalan menjauh, Derly selalu memanggil anaknya. Tapi Liza menghiraukan panggilan itu dan terus berjalan menjauh.
Suara bayi terdengar dari dalam mimpi, Derly pun melihat sumber suara. Ternyata Zail lah yang menangis. Derly akhirnya terbangun dari tidurnya.
"Kenapa aku harus bermimpi seperti ini lagi." batin Derly
Suara tangisan bayi semakin kencang, Derla berjalan menuju kamar Derly dan memberikannya baby Zail ke Derly.
"Sepertinya baby Zail haus, nih Mommy serahkan." ucap Derla sambil menyerahkan baby Zail.
Derly menerimanya, Derla pun berjalan meninggalkan mereka.
"Anak Bunda harus tumbuh menjadi anak yang baik dan ramah ya." ucap Derly sambil memainkan pipi anaknya.
Baby Zail hanya tersenyum mendengar ucapan orang tuanya.
Zail berlari-lari menuruni anak tangga, Zail ingin membangunkan bunda dan ayahnya. Ketika sampai rumah, Zaul langsung mengetuk pintu kamar orang tuanya.
Tok … tok … tok.
"Bunda, Ayah. Ayo bangun, katanya mau jalan-jalan!" ucap Zail setengah berteriak dan terus mengetuk pintu kamar orang tuanya.
Di dalam kamar. Derly menggeliat, dengan setengah sadar. Derly membangunkan suaminya.
"Mas, bangun. Itu Zail gedor-gedor pintu." ucap Derly sambil terus membangunkan Zaiden.
Zaiden akhirnya bangun dan membuka pintu kamarnya.
"Ayah, ayo! Katanya mau jalan-jalan!" Zail terus mengingat bahwa hari ini mereka merencanakan untuk pergi berjalan-jalan.
"Iya, Zail. Tunggu ya, Ayah mau siap-siap dulu," ucap Zaiden dengan mata yang masih ngantuk.
"Ayah, Ayah masih ngantuk ya?" tanya Zail.
__ADS_1
"Nggak kok. Ayah nggak ngantuk." ucap Zaiden sambil membuka matanya lebar-lebar.
"Bunda mana?" tanya Zail sambil melihat ke dalam kamar.
"Bunda lagi siap-siap kok," ucap Zaiden berbohong.
Zail terus menerobos dan masuk ke dalam kamar orang tuanya. Zail melihat sang bunda yang masih tertidur pulas. Zail pun menaiki ranjang dan membangunkan sang bunda tercinta nya.
"Bunda, bangun. Katanya mau jalan-jalan," Zail terus membangunkan bunda nya.
Derly hanya menggeliat kecil. Zail berteriak memanggil sang bunda. Akhirnya Derly langsung tersentak dan dengan posisi duduk.
"Zail. Apa yang anak Bunda lakukan di sini?" tanya Derly.
"Bunda lupa ya? Hari ini kan kita mau jalan-jalan," ucap Zail.
Tidak menunggu waktu lama, Zaiden keluar dari kamar mandi dan sudah memakai pakaian rapi. Memang, setelah Zail menerobos, Zaiden langsung beranjak ke kamar mandi.
"Ayah sudah rapi, sekarang Bunda mandi," ucap Zail.
"Anak Bunda juga belum mandi tuh," ucap Derly sambil terus memandangi anaknya.
"Zail ke sini memang mau minta dimandiin sama, Bunda." ucap Zail dan turun dari ranjang orangtuanya.
Derly pun turun dari ranjang dan mengajak Zail untuk mandi.
Ketika Derly ingin melewati suaminya. Tiba-tiba Zaiden memegang tangan Derly. Derly langsung terhenti dan Zail hanya berjalan terus menuju kamarnya.
"Ada apa?" tanya Derly yang mulai bingung.
"Kamu curang. Masa Zail dimandiin, Mas nggak dimandiin." ucap Zaiden yang berpura-pura merajuk.
"Kamu ini apaan sih? Zail kan masih kecil, ya wajar dong minta dimandiin," ucap Derly
"Kalo kamu sudah besar, jadi bisa mandi sendiri kan?" ucap Derly yang mulai berjalan meninggalkan suaminya.
Derly menghampiri anaknya dan memandikan dan memakaikan baju. Setelah anaknya sudah rapi, kini giliran Derly yang sedang bersiap-siap.
Semua sudah siap, mereka pun melajukan ke tempat tujuan. Bersenang-senang, bermain dan bergembira.
Hari semakin sore mereka memutuskan untuk pulang. Karena Zail merasa kelelahan maka Zail tertidur pulas.
.......................................................................
__ADS_1
Hai semuanya, Selamat Hari Raya Idul Adha 1441 Hijriah🙏
Jangan lupa tinggalkan jejak ya😊