
Riza mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Setelah sampai rumah Derly, Derly dan Riza menunggu mobil Derly sampai rumah.
Setelah mobil Derly sampai rumah Riza pun pamitan kepada Derly.
Pagi harinya Derly melakukan aktivitas seperti biasa. Memasak sarapan untuknya dan lain-lain sebagainya.
Siangnya Derly menelpon Marty. Maty yang mendengar ponselnya berbunyi langsung mengangkatnya.
*panggilan on*
"Halo, ada apa Ly?" (Marty).
"Mar, kita jalan-jalan yuk," (ajak Derly).
"Maaf Ly aku gak bisa," (Marty).
"Kenapa?" (Derly).
"Nenek lagi sakit," (Marty)
"Sakit?, kok kamu nggak bilang sih Nenek kamu lagi sakit?" (Tanya Derly).
"Maaf ya Ly, aku nggak mau merepotkan kamu," (Derly).
"Ya ampun, ko kamu ngerasa kamu merepotkan aku sih? Kan kita sahabat, kita harus saling membantu sesama sahabat," (Derly).
"Ya udah aku ke rumah kamu sekarang." (Derly. Langsung memutuskan teleponnya).
*panggilan off*
Derly langsung bergegas menuju rumah sahabatnya. Setelah sampai Derly langsung mengetuk pintu rumah Marty.
Tok ... tok ... tok.
Marty mendengar suara ketukan pintu langsung membuka dan mempersilahkan Derly masuk.
"Nenek dimana?" tanya Derly.
"Nenek ada dikamarnya," ucap Marty.
Derly langsung bergegas menuju kamar Nenek, Derly langsung duduk disamping ranjang Nenek.
"Nenek sakit apa?" tanya Derly.
"Nenek sakit kanker otak stadium akhir," jawab Nenek.
"Ya ampun Nek, kenapa nggak bilang sama Derly?" tanya Derly.
"Nenek nggak mau repotin kamu," ucap Nenek.
"Umur Nenek nggak lama lagi. Nenek boleh minta tolong sama kamu gak?" sambung Nenek.
"Minta tolong apa Nek?" tanya Derly.
"Nenek minta kamu tolong jaga Marty dengan baik ya," ucap Nenek.
"Iya Nek, pasti Derly jaga Marty," ucap Derly.
"Umur Nenek gak lama lagi, kalo Marty ada yang jagain Nenek bisa tenang," ucap Nenek.
"Nenek jangan ngomong kaya gitu," ucap Derly menahan tangisnya.
Marty hanya mendengar sambil meneteskan air matanya, karena keluarga satu-satunya kini hanya Neneknya.
Nenek menghela nafas terakhirnya, dan seketika tangis pun pecah.
Pemakaman pun berjalan dengan lancar. Marty terus menangis sesenggukan. Derly mengajaknya untuk tinggal bersama.
Minggu-minggu berlalu, Marty tinggal bersama Derly. Derly melupakan kekasihnya, karena Derly selalu fokus untuk membuat kesedihan di mata Marty hilang. Marty sudah menjual rumah yang dulu dia tempati bersama Neneknya.
__ADS_1
Ponsel Derly berdering, ternyata dari Derla.
*panggilan on*
"Halo sayang, apa kabar?" (Derla).
"Baik Mom" (Derly).
Derly menceritakan bahwa Neneknya Marty sudah meninggal dunia. Dan seketika Derla kaget atas berita yang disampaikan anaknya.
*panggilan off*
Mereka kini sudah terbiasa tinggal berdua. Derly kini ada teman curhat 24 jam
Setiap malam Derly rebahan di ranjangnya sambil memainkan ponselnya, memberi kabar setiap hari kepada kekasihnya.
Sudah beberapa hari Derly tidak menemui kekasihnya dan kini rencana mereka bertemu esok hari.
Esok harinya…
Derly sudah bersiap-siap bertemu dengan kekasihnya yang kini sudah lama tak bertemu.
Riza menjemput Derly di rumah Derly. Setelah Riza sampai di rumah Derly, Riza langsung mengetuk pintu rumah Derly.
Tok...tok….tok.
Marty mendengar suara ketukan pintu langsung bergegas membuka pintu.
"Maaf pak cari siapa ya?" Tanya Marty.
"Aku kesini cari Derly, apa Derlynya ada?" ucap Riza.
"Oh ... ada pak ayo masuk dulu. Aku panggilkan Derlynya dulu." Ucap Marty sambil menuju tempat Derly berada.
Marty mengatakan ke Derly bahwa ada yang mencarinya. Derly langsung menemui orang tersebut.
"Hai ... lama ya kita tak bertemu," sapa Riza sambil tersenyum.
"Iya. Maaf ya Mas," ucap Derly.
"Maaf kenapa?" tanya Riza.
"Maaf aku nggak bisa ketemu sama kamu waktu setiap kamu ngajakin aku ketemu," uca Derly.
"Iya nggak papa kok aku bisa maklumi kamu," ucap Riza.
"Makasih ya Mas," ucap Derly.
"Sama-sama," ucap Riza.
"Ayo kita pergi," ajak Riza.
"Jalan-jalan kemana?" tanya Derly.
"Kemana aja yang penting kamu suka," ucap Riza.
Riza dan Derly pun kemudian menuju ke beberapa tempat wisata. Mereka bercanda gurau bersama. Kemudian Riza berpamitan ke toilet.
Tiba-tiba ada yang melabrak Derly.
"Hei wanita ****** kenapa kamu deketin Riza hah!?" ucap wanita itu kepada Derly.
"Emang kamu siapanya Riza?" tanya Derly.
"Aku adalah tunangan Riza," ucap wanita itu.
Deg
Deg
__ADS_1
Deg
Seketika Derly langsung terdiam, menahan rasa sakit dihatinya. Tak berapa lama Riza pun datang.
"Ada apa ini?" tanya Riza.
"Siap wanita ini, mas?" Derly bertanya balik.
"Kamu ... kenapa kamu kesini?" tanya Riza kepada wanita itu.
"Aku kesini mau ketemu kamulah!. Kamu menghilang gak ada kabar," ucap wanita itu.
"Bener mas ini tunanganmu?" tanya Derly.
"Iya aku tunangannya Riza!" ucap wanita itu.
"Diam kau ... aku sedang bertanya kepada Mas Riza, bukan kamu!" ucap Derly dengan tegas.
Seketika Riza merasa gugup dengan pertanyaan Derly. Riza memikirkan alasan apa yang harus dikatakan. Disatu sisi Riza mencintai Derly, disisi lain Riza nggak bisa memutuskan hubungan dengan tunangannya. Akhirnya Riza mengakui bahwa wanita itu memang benar tunangannya.
"Kenapa kamu bohong mas?" tanya Derly menahan tangisnya.
"Maafkan aku Derly, aku gak bermaksud seperti yang kamu pikirkan," ucap Riza.
"Kamu dengar sendirikan ******, bahwa Riza itu tunangan aku dan kami akan menikah minggu depan," ucap wanita itu.
"Hei ... jangan kamu sebut aku dengan sebutan ******!. Aku bukan ****** yang kamu pikirkan, juga bukan perebut milik orang" ucap Derly dengan tegasnya.
Derly langsung berlari menghentikan taksi dan pulang ke rumahnya.
Derly masuk kedalam kamar dan menangis sesenggukan. Marty yang mendengar sahabatnya menangis, Marty langsung masuk kedalam kamar Derly. Marty menenangkan hati Derly.
Hari-hari berlalu akhirnya Derly dapat melupakan mantan kekasihnya.
Tibalah dimana di hari tersebut orang tua Derly pulang.
"Sudah ya Ly, lupakan dia. Mommy sama Daddy kamu sebentar lagi pulang", ucap Marty.
"Iya Mar, makasih ya" ucap Derly, Marty pun tersenyum.
Suara ketukan pintu terdengar. Derly dan Marty yang mendengar suara itu langsung bergegas menuju pintu dan membukanya.
"Hai Mom, dad," sapa Derly sambil tersenyum
"Hai Tan, Om," sapa Marty.
"Hai juga kalian," ucap Derla sambil membalas senyuman mereka.
Lalu mereka masuk dan duduk di sofa. Marty diam-diam merencanakan pindah dari rumah itu, ia akan pindah keluar kota untuk mencari pekerjaan.
"Kebetulan Tante udah pulang, Marty mau ngomong serius," ucap Marty.
"Mau ngomong apa sih kok kayaknya ini serius banget," ucap Derla.
"Marty mau pindah Tante," ucap Marty.
"Pindah kemana Mar?" tanya Derly.
"Pindah keluar kota," ucap Marty.
"Kok kamu nggak bilang sih ke aku?" tanya Derly kaget.
"Maaf ya, Ly." ucap Marty.
.......................................................................
Hai semuanya. Jangan lupa like, vote, dan fav juga ya.
Tinggalkan jejak kalian supaya aku bisa feedback. Selamat beraktivitas, mau lanjut gak nih???. Kalo mau ayo dukung aku😊
__ADS_1