
"Maaf Tuan, tadi siang Nyonya pulang, dan pergi lagi dengan membawa koper," ucap salah satu art tersebut sambil menundukkan kepala.
"Apa! Membawa koper!?" tanya Zaiden yang mulai emosi.
Para art hanya mengangguk. Semua art menundukkan kepalanya, takut akan tuan nya marah.
"Kenapa kalian membiarkan dia pergi sendirian!" ucap Zaiden yang kini amarahnya mulai memuncak.
"Maaf, Tuan. Kami tak bisa menghentikan Nyonya. Nyonya pergi dengan air mata yang teru mengalir," ucap salah satu art.
"Apa? Air mata yang mengalir?" batin Zaiden.
"Sekarang kalian bereskan barang-barang kalian dan pergi dari sini!" ucap Zaiden.
"Tapi Tuan…,"
"PERGI!!" teriak Zaiden.
Semua art langsung menuju kamar mereka masing-masing, mereka membereskan barang-barangnya dan mulai meninggalkan rumah besar itu.
Kini tinggal Zaiden yang berada di rumah tersebut. Zaiden merasa pusing, kemana ia akan mencari istrinya.
Zaiden berkunjung ke rumah mertuanya, tapi mereka bilang bahwa mereka tak pernah melihat Derly setelah mereka pindah.
Kedua orang tua Derly pun ikut turun tangan, mereka menelpon semua orang yang mereka kenal. Tapi, semuanya mengatakan bahwa tidak ada yang melihat Derly.
Begitupun dengan kedua orang tua Zaiden. Mereka semua berpencar mencari keberadaan Derly.
"Marty. Iya pasti Derly mengunjungi Marty," ucap Derla.
"Tapi, Mom. Kia semu tidak ada yang tahu tempat tinggal Marty," ucap Zaiden
Putra khawatir akan keberadaan anaknya, mereka menyepakati akan menelusuri kota A sampai kota Z secara perlahan.
Derla dan Zora hanya berdo'a dari rumah. Sedangkan Zaiden, Putra dan Zaqi mencari Derly dari kota A sampai pelosok daerah kota A sendiri.
Disisi lain…
Pagi hari….
Derly terbangun dan mual-mual kembali, Marty langsung memanggil Dokter terdekat.
Dokter pun memeriksa keadaan Derly. Dokter mengatakan bahwa ini wajar bagi ibu hamil muda.
Seketika Marty kaget ketika mendengar ucapan Dokter.
"Apa? Kamu hamil, Ly?" tanya Marty. Derly hanya mengangguk.
Dokter memberikan resep obat yang harus Derly minum. Setelah menulis resep obat, Dokter langsung pamit pulang.
"Kenapa kamu gak bilang sama aku bahwa kamu sedang hamil?" Marty langsung bertanya.
"Aku masih sakit hati, waktu itu aku mau memberi kabar bahagia ini. Tapi, aku lihat Mas Zaiden lagi bermesraan dengan asistennya. Jadi, aku belum masih mau merahasiakan ini," ucap Derly.
"Ya sudah, kamu banyak-banyak istirahat ya. Kalo butuh apa-apa bilang saja, jangan sungkan-sungkan," ucap Marty.
Sembilan bulan kemudian.
__ADS_1
Hari ini Derly melahirkan seorang anak tanpa didampingi suaminya, sedangkan Zaiden masih berusaha mencarinya. Kini Zaiden mencari Derly sudah ada di kota I.
Karena sembilan bulan, maka Zaiden sedang menjelajahi kota I bersama ayah dan mertuanya.
Derly selalu menangis setiap malam, karena dia sangat merindukan suaminya.
"Mas, hari ini aku melahirkan seorang anak tanpa kamu disampingku," batin Derly.
Dokter pun mulai bertindak untuk melakukan persalinan Derly. Tak menunggu lama, suara tangisan bayi pun terdengar.
Marty bahagia, akhirnya Derly melahirkan seorang anak dengan normal. Derly lagi-lagi meneteskan air matanya, ia bersyukur bayi mungilnya kini telah lahir.
"Wah baby girl," ucap Marty.
Begitu cantik dan mungil, kulit putih dan rambut yang lebat serta pipi bakpao.
"Kamu mau kasih nama siapa?" tanya Marty.
"Aku mau kasih nama baby ini. Lyza," ucap Derly.
"Hai, baby Liza. Selamat datang di dunia ini," ucap Marty.
Marty berfikir lagi. Kenapa Derly menamai bayinya dengan nama Liza.
"Tunggu, tunggu. Kamu manamai bayi kamu dengan nama Liza itu atas nama kamu dan Zaiden kan?" tanya Marty.
"Iya. Aku memang berniat menamainya dengan nama, Liza" ucap Derly dengan santai.
Kini hari semakin malam, baby Liza selalu tersenyum sepanjang hari. Derly sangat senang melihat bayinya yang imut dan cantik.
Derly mengambil kamera kesayangannya, ia melihat foto-foto kenangan bersama suaminya. Tanpa terasa air mata Derly menetes, Derly merindukan sosok suami untuk menjaga anaknya bersama, tapi kini tak mungkin. Ia melarikan diri dari suaminya.
"Kenapa kamu menangis? Bunda gak apa-apa kok," ucap Derly.
Liza terus menangis, Derly bingung harus gimana lagi, ia mencoba menenangkan anaknya.
Karena hari semakin malam, Derly tertidur dan baby Liza ada disampingnya.
Pagi hari….
Derly memandikan anaknya. Setelah memandikan anaknya, Derly menjemur baby Liza dibawah panasnya matahari di pagi hari.
Hari-hari mereka selalu melakukan itu, Derly senang anaknya aktif walau masih bayi.
Satu tahun kemudian….
Baby Liza sudah pandai berbicara dan berjalan, Derly selalu mendampingi buah hatinya.
"Liza, ayo sini. Bunda ada sesuatu," Derly memanggil Liza.
"Apa, Nda?" tanya Liza.
Derly mengeluarkan satu kotak coklat kesukaan Liza.
"Wahh, cokat. Makasih, Nda," ucap Liza.
"Iya sama-sama," ucap Derly.
__ADS_1
Liza langsung membuka kota coklat itu dan langsung memakannya.
"Enak coklatnya?" tanya Derly.
"Ena, Nda," ucap Liza yang masih mengunyah coklat.
Setelah Liza memakan coklat itu, Liza langsung duduk dipangkuan Derly.
"Nda. Kapan Ayah kecini?" tanya Liza.
Memang, akhir-akhir ini Liza selalu menanyakan ayahnya, Liza selalu melihat teman-temannya bersama dengan kedua orang tuanya.
"Liza yang sabar ya. Nanti Ayah pulang kok, Ayah lagi kerja. Lagi ngumpulin uang buat Liza," ucap Derly.
"Api kapan, Nda?" Liza selalu bertanya.
"Nanti juga Ayah pulang," ucap Derly.
Disisi lain.
Zaiden sudah memecat Kiana. Kiana malah senang karena sudah berhasil memisahkan keduanya. Selama satu tahun.
"Pah, Dad. Ini sudah satu tahun kita mencari Derly. Tapi, sampai sekarang gak ketemu-ketemu," ucap Zaiden dengan nada sedihnya.
"Sabar ya, nanti juga ketemu. Kita belum menjelajahi dua kota lagi," ucap Putra.
Mereka selalu membagi orang suruhan mereka untuk mencari di setiap sudut kota. Zaiden dan kedua orang paruh baya itu mencari di setiap pelosok daerah, walaupun daerah terpencil sekalipun. Orang suruhan mereka mencari di kotanya.
Dua
Lima bulan kemudian…
"Dad, Pah. Kini tinggal kita Z yang belum kita kunjungi. Kalo di kota Z, Derly belum juga ketemu. Aku harus bisa melupakannya," ucap Zaiden.
"Kita harus mencari keberadaan Derly secepatnya. Ia menghilang tanpa jejak, dan kini sudah satu tahun lebih dua bulan," ucap Zaqi.
Putra langsung menyuruh orang suruhannya untuk mencari Derly secepatnya. Mereka berangkat menuju kota Z bersama.
Setelah sampai di kota Z, mereka membagi tugas seperti di kota-kota sebelumnya. Orang suruhan bertugas mencari Derly di tempat yang luas dan mereka bertiga mencari di tempat terpencil.
Disisi lain.
"Derly, sebaiknya kamu katakan pada anakmu. Siapa Ayahnya," ucap Marty.
"Aku belum siap untuk mengatakan semua itu," ucap Derly.
"Liza sekarang sudah berusia satu tahun lebih. Dan kamu meninggalkan rumahmu dan suamimu sudah satu tahun lebih, seusia Liza di kandungan sampai sekarang." ucap Marty.
"Iya aku tahu, biarkan waktu yang menunjukkan. Siapa Ayah Liza sebenarnya," ucap Derly.
Karena Zaiden sudah berada di desa dimana Derly tingga. Zaiden mencari di taman, ia ingat betul bahwa Derly suka sekali taman.
Pada saat itu pula, Derly dan Liza sedang bermain. Liza terus berlari kesana kemari, Derly hanya mengejarnya.
"Liza. Bunda cape. Jangan lari-lari, nanti nabrak orang," ucap Derly.
Bugh!
__ADS_1
Benar apa yang dikatakan Derly, Liza menabrak orang. Derly langsung menghampiri anaknya.
"Maaf ya, Pak, anak saya gak sengaja menabrak anda," ucap Derly meminta maaf pada orang itu.