Kisah Cinta Derly

Kisah Cinta Derly
BAB 59


__ADS_3

Mobil Derly langsung mengeluarkan asap. Zail berlari menuju Derly dan membuka pintu mobil.


Zail langsung berteriak meminta pertolongan. Zail sangat sedih melihat sang Bunda terus mengeluarkan darah segar.


Tidak menunggu waktu lama, orang-orang langsung membawa Derly ke rumah sakit terdekat.


Zail membawa tas kecil milik Derly dan mencari nomor sang ayah. Zail langsung menekan panggilan.


"Halo, ada apa?" tanya Zaiden dari seberang telepon.


"Halo, Ayah. Ini Zail, Zail lagi di rumah sakit hiks ... hiks.... Ayah cepetan ke sini. Bunda kecelakaan, hiks ... hiks ... hiks." ucap Zail sambil terus terisak.


"Apa?! Terus kamu ada di rumah sakit mana?" tanya Zaiden dengan kaget.


"Ada di rumah sakit dekat dengan kantor Ayah," ucap Zail.


"Kamu tunggu di situ. Ayah ke sana sekarang ya," ucap Zaiden.


"Iya, Ayah. Ayah jangan lama-lama," ucap Zail.


Zaiden langsung menuju parkiran dan langsung menancap gas menuju rumah sakit yang tidak jauh dari kantornya itu.


Zaiden langsung berlari mencari Zail. Setelah matanya tertuju pada anak kecil sendirian, Zaiden langsung mendekatinya.


"Zail," sapa Zaiden.

__ADS_1


"Ayah!" ucap Zail sambil memeluk sang Ayahnya.


Zail terus menangis sampai matanya sembab. Terus memeluk sang Ayah.


"Zail tenang, ok? Di sini ada Ayah. Ayo Zail ceritain bagaimana bisa kejadian ini bisa terjadi?" bujuk Zaiden agar Zail bercerita dengan tenang.


Zail menceritakan semuanya secara jelas. Zaiden mengangguk mengerti dengan penjelasan yang Zail jelaskan.


"Ini salah Zail, Ayah. Kalau Zail nggak ngajak bunda buat beli cemilan pasti nggak akan terjadi kayak gini," Zail terus merutuki dirinya.


"Ssstt! Ini cuma kecelakaan bukan salah siapa-siapa, kita do'akan Bunda supaya cepet sembuh saja," ucap Zaiden.


"Kalau nanti Bunda bangun, apa bunda benci sama Zail, Yah?" tanya Zail.


"Bunda nggak bakal marah. Kalau bunda marah bilang aja sama Ayah," ucap Zaiden.


Seketika Zail langsung menangis terisak-isak. Zaiden belum mengirim pesan kepada kedua orang tuanya.


"Ayah, Zail nggak mau kehilangan bunda. Hiks ... hiks ... hiks," ucap Zail.


"Zail tenang dulu, kita do'akan saja. Semoga bunda kembali sehat." Ucap Zaiden. "Ya ampun Ayah belum ngasih tahu nenek sama kakek. Bentar Ayah telepon dulu." Sambung Zaiden sambil menekan layar ponselnya dan mencari nomor salah satu dari orang tuanya.


"Halo, ada apa?" tanya Zora dari seberang telepon.


"Halo, Mah. Derly sekarang lagi di rumah sakit. Tolong Mamah ke sini cepat. Soalnya Zail terus menangis," ucap Zaiden.

__ADS_1


Zora yang mendengar kabar tersebut langsung tersentak. Zora langsung mengambil kunci mobilnya.


"Di rumah sakit mana? Ruang berapa?" tanya Zora dengan nada paniknya.


"Nanti Zaiden chat alamat sama ruanganya," ucap Zaiden.


Zora langsung mematikan sambungan teleponnya dan langsung melaju ketika Zaiden sudah mengirim alamat rumah sakit dan nomor ruangan Derly.


"Zail sini peluk Nenek." Ucap Zora ketika sudah sampai lalu mendekati Zail dan memeluknya.


"Nenek, Zail nggak mau kehilangan bunda. Hiks ... hiks ... hiks." Zaiden kembali terisak.


"Zail tenang, di sini ada Nenek. Nenek bakal temenin Zail," ucap Zora.


Zora menenangkan Zail hingga Zail tertidur. Zora mengelus rambut Zail dengan lembut.


Sedangkan Zaiden mengajak ngobrol Derly yang sedang koma tersebut.


"Cepatlah bangun, jangan tinggalkan aku dan akan kita," ucap Zaiden mengajak ngobrol Derly.


"Aku tidak akan bisa menjaga anak kita sendirian kalau tidak ada kamu. Ayolah bangun." Ucap Zaiden lagi sambil menitikan air mata.


______________________________________


Jangan lupa tinggalkan jejak di like dan kolom komentar.

__ADS_1


Terimakasih.


__ADS_2