
Zaiden memasuki rumahnya sambil menggendong Zail. Sedangkan Derly langsung memasuki kamarnya. Derly langsung membersihkan badannya dan memakai piyama.
Zaiden memasuki kamarnya, dia melihat istrinya yang sudah segar dan sedang memainkan ponselnya.
Zaiden mendekat ke arah istrinya, dan menggigit kecil telinga dang istri.
"Mas, sudah dong. Geli, sana kamu mandi." ucap Derly yang masih memainkan ponselnya.
Zaiden berjalan ke kamar mandi. Setelah mandi, Zaiden melohat istrinya yang masih memandang layar ponselnya.
Zaiden mendekat dan duduk di samping sang istri. Derly hanya melihat sekilas, lalu kembali menatap layar ponselnya.
Zaiden merasa geram, lalu Zaiden merebut ponsel Derly dan melemparnya di kasur.
"Mas, kok kamu gitu sih! Aku nggak suka sama sikap kamu barusan!" ucap Derly kesal.
"Mas yang nggak suka sama sikap kamu, di samping kamu ada suamimu. Tapi kenapa kamu malah fokus ke layar ponsel?" ucap Zaiden kembali kesal.
Derly pun merasa bersalah. Derly meminta maaf atas sikapnya barusan.
"Maaf ya, Mas. Maafkan aku," ucap Derly.
"Mas akan memaaafkan kamu. Tapi ada syaratnya," ucap Zaiden.
"Apa syaratnya?" tanya Derly.
"Apakah kamu mau ngabulin syarat dari, Mas?" tanya Zaiden dengan senyum mesumnya.
"Iya apa aja deh. Yang penting aku dapat maaf dari kamu," ucap Derly yang tidak tahu dibalik senyumnya sang suami.
Zaiden kembali berpikir. Zaoden mendapatkan ide nakalnya.
"Kamu harus melayani suamimu sampai puas." ucap Zaiden langsung menggendong Derly dan membaringkannya di atas kasur. Zaoden mulai menindih tubuh sang istri.
Derly hanya bisa pesrah apa yang diinginkan sang suami. Zaiden langsung melahap bibir manis Derly dengan lembut. Derly membalasnya, sehingga ciuman kini semakin memanas. Bibir Zaiden kini turun di leher jenjang Derly.
Derly hanya memdessah halus dan memejamkan matanya. Zaiden yang mendengarkan dessahan sang istri seketika birahinya memuncak. Mereka pun melakukan layaknya seorang suami istri.
pagi harinya....
Derly sengaja bangun pagi-pagi, Derly memasak makanan kesukaan suami dan anaknya. Tiba-tiba tangan kekar memeluknya dari belakang.
"Mas, aku lagi masak. Lepasin nanti Zail lihat," ucap Derly.
__ADS_1
Zaiden tak peduli apa yang dikatakan sang isrti, Zaiden masih memeluk tubuh langsing Derly dan terus mencium leher jenjang Derly.
"Zail tidak akan bangun sekarang. Karena ini masih terlalu pagi, Sayang." ucap Zaiden sambil terus menggigit kecil leger dan telinga sang istri.
"Mas, emang kamu nggak ke kantor ya?" tanya Derly sambil mendessah pelan, karena Zaiden terus menggigit kecil leher dan telinganya.
"Mas masih capek, jadi hari ini nggak ke kantor," jawab Zaiden.
"Ya sudah, kamu mandi dulu gih. Nanti kalo makanannya sudah siap aku nyusul kamu," ucap Derly.
Zaiden pun melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya. Setelah mandi, Zaiden memainkan ponselnya. Tiba-Tiba ponselnya berdering dan tertera nama 'Mamah' Zaiden pun langsung mengangkatnya.
"Assalamualaikum, Mah." salam Zaiden.
"Waalaukumussalam, Mamah nanti habis sarapan mau ke rumah kamu. Apakah Zail ada di rumah?" tanya Zora dari balik telepon.
"Kita semua ada di rumah kok, Mah. Kalo Mamah mau ke sini silahkan, Mah." ucap Zaiden
"Ok, nanti habis sarapan Mamah sama papah ke sana," ucap Zora.
"Iya, Mah. Aku tunggu," ucap Zaiden.
"Ya sudah. Assalamualaikum." salam penutup Zora.
Makanan kini sudah siap untuk disajikan, Derly menuju suaminya.
"Mas, makanan sudah siap. Ayo sarapan!" ajak Derly.
"Tadi mamah telepon, katanya mau ke sini," ucap Zaiden
"Kapan mamah ke sininya?" tanya Derly
"Nanti habis sarapan. Ayo kita sarapan dulu!" ucap Zaiden
Mereka pun melangkah menuju ruang makan. Mereka melihat anak semata wayangnya sudah duduk disalah satu kursi.
"Eh... anak Bunda sudah bangun. Zail mau sarapan pake lauk apa? Biar Bunda yang ambilin," ucap Derly.
"Iya, Bunda. Zail laper. Hmmm, pake lauk yang biasa aja, Bunda." ucap Zail.
Derly pun mengambilkan nasi serta lauk untuk anaknya. Setelah mengambilkan untuk Zail, sekarang giliran mengambilkan sepiring nasi serta lauk untuk suaminya.
Setelah sarapan, Derly memandikan Zail. Dan memakaikan baju anaknya. Setelah semua selesai, kini giliran Derly untuk membersihkan dirinya.
__ADS_1
Tidak menunggu waktu lama, kedua mertua Derly pun sudah sampai di rumah Derly. Zora menekan bel yang ada di samping pintu.
Ding dong... ding dong... ding dong.
Pintu pun di buka oleh Zaiden.
"Assalamualaikum." salam Zora dan Zaqi bersamaan.
"Waalaikumussalam. Ayo masuk!" Zaiden menjawab salam sambil mempersilahkan mereka masuk.
Zora dan Zaqi pun masuk. Zora dan Zaqi melihat cucu dan menantunya sedang asik bermain.
"Cucu Nenek lagi asik bermain rupanya," ucap Zora.
Zail dan Derly menoleh ke arah sumber suara. Derly dan Zail pun melangkah menuju Zora dan Zaqi.
"Nenek, tante Zira nggak ikut?" Zail bertanya sambil melihat kanan dan kiri.
"Tante Zira lagi banyak tugas sekolah, jadi nggak bisa ikut," jawab Zora.
Mereka pun kembali duduk di sofa ruang keluarga.
"Zail mau ikut nggak?" ajak Zoqi.
"Ke mana, Kek? Bunda sama Ayah ikut nggak?" tanya Zail.
"Ke taman bermain. Kalo Bunda sama Ayah mau ikut terserah," jawab Zaqi.
"Bunda, i...." ucapan Derly terhenti karena Zaiden langsung memotong ucapannya.
"Ayah sama Bunda nggak ikut," ucap Zaiden cepat.
Derly heran kenapa suaminya langsung memotong ucapannya, sebenarnya Derly mau ikut.
"Ya sudah, kami berangkat dulu," ucap Zora.
"Assalamualaikum." ucap mereka bertiga bersamaan.
"Waalaikumussalam." ucap Derly dan Zaiden bersamaan.
❤❤
Terima kasih semuanya, jangan lupa tinggalkan jempolnya😊
__ADS_1