Kisah Cinta Derly

Kisah Cinta Derly
BAB 61


__ADS_3

Setelah Zaiden sampei di rumah sakit, Zaiden langsung bergegas menuju ruangan rawat Derly.


"Derly kenapa, Mah?" tanya Zaiden


"Tadi Mamah lihat jari-jari tangan Derly bergerak," ucap Zora.


"Terus Mamah sudah panggil dokter?" tanya Zaiden.


"Iya, Mamah sudah panggil dokter. Kata dokter Derly mulai merespon setiap ada yang mengajaknya ngobrol. Coba kamu ngobrol Derly dulu. Mamah mau minum sebentar. Tenggorokan Mamah sudah kering," papar Zora.


"Iya, Mah."


Zora melangkah meninggalkan anak dan menantunya dan menuju kantin untuk membasahkan tenggorokannya kembali.


Zaiden memegangi tangan Derly dan mulai berbicara.


"Sayang, cepat bangun. Anak kita sudah mulau merindukanmu, begitu juga aku. Jadi ayolah bangun. Semangat jangan menyerah dan jangan tinggalkan kami yang sudah menunggumu, Sayang." Air mata Zaiden mulai menetes.


Di dalam mimpi Derly


Derly tengah bingung dengan keadaan sekitar, semua nampak sunyi dan sepi. Dia melihat disatu sisi ada tempat yang sungguh ramai.


Perlahan kaki jenjang Derly melangkah menuju tempat itu. Tapi tiba-tiba seseorang memanggilnya.

__ADS_1


"Bunda!" Teriak anak kecil tersebut


"Zail?"


Ya, itu Zail yang memanggil sang Bunda agar jangan mendekati tempat yang ramai itu.


"Bunda, ayo Bunda kita pulang. Zail mau Bunda pulang sekarang. Zail rindu, Bunda." Isakan Zail mulai terdengar.


Derly mulai mendekati Zail yang mulai terisak. "Bunda ada di sini, Sayang. Zail sudah ya jangan nangis terus."


Zail langsung memeluk Derly dengan erat, seolah tidak mau terpisah lagi. "Bunda, ayo kita pulang!"


"Iya, Sayang. Ayo kita pulang sekarang. Zail jangan nangis lagi ya. Bunda tidak tega melihatnya," ucap Derly.


Dokter memeriksa Derly dengan teliti, kemudian mengatakan. "Ibu Derly alhamdulillah sudah siuman. Tapi harus banyak-banyak istirahat, dan ini resep obat yang harus ditebus di apotik terdekat." Dokter itu menyodorkan kertas resep obat yang harus ditebus Zaiden.


"Iya, Dok. Terima kasih," ucap Zaiden.


Dokterpun melangkah meninggalkan ruang rawat Derly. Sedangkan Zaiden duduk di samping Derly dan memegang lengan Derly.


"Alhamdulillah, akhirnya kamu siuman juga, Sayang. Mas sudah nungguin kamu, bagitu juga anak kita. Dia selalu menangis merindukanmu," ucap Zaiden.


"Di mana anak kita, Mas? Zail baik-baik saja kan?" Derlt bertanya sambil memegangi telapak tangan Zaiden.

__ADS_1


"Tenang, Sayang. Zail tidak apa-apa kok. Zail sehat, dia ada di rumah sama paman Ravi," ucap Zaiden.


"Paman Ravi ke kota ini, Mas?" Derly begitu antusias bertanya.


"Iya, sekarang paman Ravi sedang bersama Zail," jawab Zaiden.


"Mas, kapan-kapan ajak paman Ravi ke sini, ya," ucap Derly.


"Iya. Itu pasti. Sekarang kamu istirahat dulu. Mas mau tebus obat di apotik terdekat," pamit Zaiden.


"Ya sudah. Mas hati-hati di jalan," ucal Derly. Zaiden hanya mengangguk.


Zaiden meninggalkan ruangan Derly. Sebelum Zaiden benar-benar meninggalkan rumah sakit, Zaiden mencari keberadaan sang mamah terlebih dahulu.


Zaiden ingat, bahwa mamahnya pasti berada di kantin sekarang. Diapun bergegas menuju kantin rumah sakit untuk menemui sang mamah.


Zaiden duduk di samping Zora. "Mah, Zaiden mau pergi nebus obat. Mamah tolong jaga Derly sebentar ya,"


"Derly sudah sadar?" tanya Zora.


"Iya, Mah, yaudah. Zaiden mau ke apotik dulu sama mau jemput Zail," pamit Zaiden.


"Iya, nanti kalo minuman Mamah sudah habis Mamah ke ruang rawat Derly," ucap Zora.

__ADS_1


__ADS_2