Kisah Cinta Derly

Kisah Cinta Derly
BAB 20


__ADS_3

Zaiden memasukkan barang-barang yang akan dibawa.


"Mommy, mau satu mobil bareng kita gak?" tanya Derly.


"Gak usah, nanti kalo satu mobil sama kalian Mommy pulangnya gimana?" tanya Derla.


"Iya juga sih, terus Mommy bawa mobil sendiri?" tanya Zaiden.


"Iya Mommy bawa mobil sendiri saja, soalnya nanti agak sorean Mommy mau ke rumah temen Mommy," ucap Derla.


"Yudah ayo berangkat Mom," ucap Zaiden.


Derly dan Zaiden mulai memasuki mobilnya, mereka mulai melaju, Derla mengikuti mereka dari belakang.


Tak lama mereka pun sampai. Zaiden memberhentikan mobilnya di depan rumah yang sangat mewah.


"Mas kok berhenti?" tanya Derly.


"Kita sudah sampai," ucap Zaiden.


"Terus rumah kita yang mana Mas?" tanya Derly.


"Yang itu." Ucap Zaiden sambil menunjukan rumah yang besar itu.


"Maksud kamu rumah yang besar itu?" tanya Derly lagi.


"Iya," ucap Zaiden singkat.


Derly tak menyangka bahwa rumah yang akan ia tempati lebih besar dari rumah orang tuanya.


"Ini sungguh sangat besar Mas," ucap Derly.


"Kamu gak suka ya sama rumahnya?" tanya Zaiden.


"Bukan gitu Mas, aku suka kok sama rumahnya," ucap Derly sambil tersenyum.


"Ayo masuk Mom." ucap Zaiden sambil membuka pintu rumah barunya.


Derla, Derly dan Zaiden pun masuk, Derly melihat rumah itu dan ia mengelilinginya. Zaiden mengikuti istrinya dari belakang.


Derly pun kini sudah berada di kebun bunga, kolam renang, dan lain-lain.


"Wah ini sangat mewah banget mas, aku lihat tadi ada kolam renang, taman bunga, dan lain-lainnya. Belum lagi lihat seisi rumah," ucap Derly.


"Lihatlah, kamu pasti lebih suka kalo lihat dalamnya." ucap Zaiden sambil tersenyum ke arah Derly.

__ADS_1


Zaiden sudah merencanakan sejak dulu memiliki rumah yang mewah dan lengkap, supaya istrinya tidak keluar rumah kalau ia bosan. Rumah yang serba ada dan serba lengkap.


Setelah Derly puas mengelilingi luar rumah, Derly langsung mengelilingi dalam rumah. Derly sungguh tak menyangka ternyata di dalamnya lebih mewah, seperti rumah para artis. Rumahnya komplit apa yang ia butuhkan pasti sudah ada, beberapa kamar tamu, ruang baca, ruang makan, ruang tamu, ruang tempat aksesoris Derly, ruang tempat aksesoris Zaiden, dan sebagainya. Semua lengkap, barang limited edition milik Derly. Seperti sepatu, tas, jam tangan, dan perhiasan serta baju limited edition.


Derly melihat semua ruangan, ternyata komplit. Derly menanyakan apakah semua ini tidak berlebihan, tapi Zaiden hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya.


Zaiden menunjukkan kamar yang akan mereka tempati. Derly mengikuti Zaiden dari belakang, setelah sampai didepan kamar Zaiden menyuruh agar Derly yang membunya.


"Ayo Sayang, buka kamar kita!" ucap Zaiden.


"Ini kamar kita Mas?" tanya Derly.


"Iya Sayang, ini kamar kita," ucap Zaiden.


Derly tahu ada yang berbeda dari kamar mereka, karena pintu kamar mereka berbeda sendiri. Pintunya saja mewah dan bagus, apa lagi di dalamnya. Pasti dalamnya lebih bagus.


Derly pun membuka pintunya. Dia tak manyangka kamarnya akan seluas dari kamar miliknya.


"Ini luas banget Mas, lebih luas dari kamarku," ucap Derly.


"Mas sengaja bikin rumah yang besar dan komplit, supaya kamu gak kemana-mana saat Mas pulang dari kantor," ucap Zaiden. Derly hanya mengangguk.


"Disini ada asisten rumah tangga juga Mas?" tanya Derly.


"Ya gak mau, kalo aku harus bersihin rumah sebesar ini bisa pegal semua badan aku," ucap Derly.


"Maka dari itu, disini ada banyak asisten rumah tangga yang akan bantu kamu atau kamu gak usah bersihin rumah ini, biar asisten rumah tangga saja," ucap Zaiden.


"Yaudah yuk ke Mommy!" ajak Derly.


"Yuk!" ucap Zaiden singkat.


Rumah begitu luas dan komplit, mereka akan tinggal berdua dengan para asisten rumah tangga. Begitu banyak kamar serta kamar mandi disetiap kamar, dengan dua dapur. Dapur bersih dan dapur kotor. Dalam artian dapur bersih khusus buat Derly, dan dapur kotor khusus buat para asiten rumah tangga.


Begitu mewah dan cantik rumah yang akan mereka tempati. Derly lagi-lagi tak menyangka akan memiliki rumah sebesar istana itu.


Mereka duduk bersama di ruang keluarga. Bercanda ria, tertawa dan tersenyum. Derla bersyukur kini anaknya bahagia memiliki suami yang perhatian dan sayang dengan anak semata wayangnya itu.


Jam sudah pukul siang hari, para asisten rumah tangga segera memasuki dapur untuk memasak menu makan siang untuk tuan dan nyonya rumah itu.


Semuanya berbagi tugas. Ada yang masak, nyuci baju, nyuci piring, dan lain sebagainya. Semuanya begitu kompak.


Makan siang pun kini siap untuk dihidangkan. Salah satu asisten rumah tangga menuju mereka yang masih berada di ruang keluarga.


"Permisi. Tuan Nyonya, makan siang sudah siap," ucap salah satu asisten rumah tangga tersebut.

__ADS_1


"Iya makasih," ucap Zaiden.


Art tersebut mundur secara perlahan, dan berkumpul bersama para asisten rumah tangga lainnya.


"Ayo kita makan," ucap Zaiden.


Derla dan Derly pun mulai melangkah menuju ruang makan. Setelah sampai ruang makan tersebut, makanan begitu banyak dan kursi yang berjejer dan berhadapan.


"Kursinya banyak banget ini Mas," ucap Derly.


"Iya, supaya kalo ada tamu banyak kita gak usah beli kursi lagi," ucap Zaiden.


Derla, Derly dan Zaiden pun melanjutkan makan siang nya tanpa sepatah kata pun.


Setelah makan siang Derla pamit karena ia ada janji dengan temannya. Kini tinggal Zaiden dan Derly, Derly dan Zaiden mulai memasuki kamar. Derly masih melihat isi kamarnya yang begitu luas dan cantik.


Zaiden hanya menatap istrinya sambil duduk di sisi kasur.


"Mas ini kamu yang milih model rumahnya?" tanya Derly.


"Iya ini Mas, yang milih model rumah," ucap Zaiden santai.


Derly duduk disamping Zaiden, dan merebahkan tubuhnya di kasur yang begitu besar begitu besar dan nyaman.


Dan tanpa Derly sadari ternyata dirinya sudah tertidur pulas. Zaiden yang melihat istrinya tertidur langsung membenarkan tubuh sang istri.


"Kamu pasti lelah ya mengelilingi rumah ini," batin Zaiden.


Zaiden langsung menuju ruang kerjanya, ia membereskan berkas-berkas yang menurutnya penting.


Hari kini semakin senja, Derly terbangun dengan keadaan yang sudah diselimuti. Derly berpikir bahwa suaminya yang sudah membenarkan posisi ia.


Derly berjalan, karena ia sangat haus ia menuju kulkas di ruang makan. Rumah yang ia tempati saat ini banyak sekali kulkas, kulkas sayur, kulkas minuman, kulkas makanan, dan sebagainya.


Derly berjalan menuju kulkas tempat minuman, kulkas itu melewati ruang kerja Zaiden. Saat ia berjalan tanpa sengaja ia melihat ruang kerjanya yang masih terbuka, lalu ia masuk dan ternyata didalam ada suaminya.


"Mas," ucap Derly.


"Kamu sudah bangun, Yang?" tanya Zaiden


.......................................................................


Hai semuanya, terimakasih sudah mau mampir😊, semoga kalian selalu diberi kesehatan.


Jangan lupa mampir ke "Anasrasya Putri Harilya"

__ADS_1


__ADS_2