
"Iya udah Mas," ucap Derly.
"Terus kamu mau kemana?" tanya Zaiden.
"Aku haus Mas, aku mau ambil minum, terus aku lihat pintunya kebuka jadi aku kesini," ucap Derly.
"Kamu mau ambil minum?" tanya Zaiden. Derly hanya mengangguk.
"Mas mau?" tanya Derly.
"Boleh, Mas minuman yang asam saja ya. Supaya mata mas melek," ucap Zaiden.
Derly langsung menuju kulkas minuman. Derly memilih minuman yang manis untuk dirinya dan yang rasa asam untuk suaminya.
"Nih Mas, minumannya." ucap Derly sambil menyodorkan minuman dingin tersebut.
"Ini udah sore, kamu mandi gih sono," ucap Zaiden.
Derly langsung berjalan menuju kamarnya, ia langsung berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Zaiden kini sudah selesai membereskan berkas-berkas yang menurutnya penting, setelah ia membereskan apa yang menurutnya penting Zaiden pun langsung berjalan menuju kamar dan merebahkan badannya.
Derly kini sudah mandi, ia berjalan menuju suaminya yang sedang rebahan.
"Gantian kamu mandi sono Mas," ucap Derly
"Iya."
Zaiden pun langsung melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Hari kini semakin malam, para art sudah menyiapkan makan malamnya, salah satu art pun mengetuk pintu kamar mereka.
Tok… tok… tok.
Suara ketukan pintu terdengar. Dan Derly langsung membuka pintu.
"Permisi Nyonya, makan malam sudah siap," ucap asisten rumah tangga itu.
"Iya makasih," ucap Derly singkat.
Zaiden baru keluar dari kamar mandi, Derly langsung mendekati suaminya.
"Mas, makan malam sudah siap. Ayo kita makan!" ucap Derly.
Zaiden hanya mengangguk. Lalu mereka berjalan dengan beriringan. Setelah sampai di ruang makan Derly dan Zaiden langsung melahap makanan tersebut tanpa sepatah kata pun.
Setelah makan malam Dely berjalan menuju kamar, ia langsung menyalakan tv. Derly menonton drama yang sudah ia nanti-nantikan.
Zaiden mendekati Derly yang sedang asik menonton drama di layar tv.
"Nonton apa sih, Yang?" Zaiden bertanya.
"Ini aku lagi nonton drama," ucap Derly yang masih terus terfokus melihat kearah tv.
Zaiden membaringkan badannya. Derly nematikan tvnya dan ikut berbaring.
"Kok dimatiin tvnya?" tanya Zaiden.
__ADS_1
"Dramanya sudah bersambung," ucap Derly.
Derly berjalan menuju kamar mandi.
"Mau kemana?" tanya Zaiden.
"Mau ke kamar kecil." ucap Derly sambil terus melangkah.
Derly pun keluar dari kamar kecil ia langsung kembali rebahan.
Hari sudah semakin malam, mereka kini sudah mulai mengantuk. Derly dan Zaiden pun akhirnya tidur.
Pagi harinya Zaiden bersiap-siap berangkat ke kantor. Derly baru terbangun, ia melihat suaminya sudah rapih.
"Mas, kok tumben berangkatnya pagi-pagi?" ucap Derly.
"Iya, Mas ini ada rapat dadakan di kantor," ucap Zaiden.
Zaiden kini hanya tinggal memasang dasi, Derly langsung mendekati Zaiden.
"Sini Mas biar aku bantu." ucap Derly sambil membantu memasangkan dasi suaminya.
"Makasih ya," ucap Zaiden sambil tersenyum.
"Mas sarapan duluan ya." ucap Zaiden sambil melangkah turun.
Derly langsung berjalan ke arah kamar mandi, setelah ia mandi ia langsung duduk di sebelah Zaiden. Tapi Zaiden sudah selesai sarapan.
"Sayang, Mas berangkat dulu ya," ucap Zaiden.
Zaiden melangkah menuju bagasi mobilnya. Zaiden pun mengendarai mobilnya dengan sedikit lebih cepat dari biasanya.
Zaiden rapat bersama rekan bisnis dan para asistennya.
Setelah rapat mereka kembali ke perusahaan. Zaiden langsung masuk ke dalam ruangannya. Tiba-tiba ponsek asistennya Zaiden pun berdering, ternyata orang tuanya lah yang menelpon. Orang tua dia menelpon agar dia segera pulang karena bapaknya meninggal dunia.
Asisten tersebut mengetuk pintu ruangan Zaiden dan ia mengatakan akan mengundurkan diri.
"Kenapa kamu tiba-tiba ingin mengundurkan diri?" tanya Zaiden.
"Saya ingin mengundurkan diri karena bapak saya meninggal dunia," ucapnya.
"Ya sudah kamu boleh resign," ucap Zaiden
"Terimakasih," ucapnya.
Zaiden menyuruh beberapa karyawannya untuk menempelkan papan pengumuman lowongan pekerjaan menjadi asisten.
Hari semakin siang Zaiden berjalan menuju sebuah restoran.
Seorang wanita yang berparas cantik dan seksi mendekatinya, karena wanita itu tahu bahwa kantornya Zaiden sedang ada lowongan pekerjaan untuk menjadi asistennya.
"Permisi Tuan," ucap wanita itu.
"Ya ada apa?" tanya Zaiden.
"Bolehkah saya duduk, Tuan," ucap wanita itu.
__ADS_1
Zaiden hanya mengangguk, wanita itu pun duduk berhadapan dengan Zaiden.
"Perkenalkan Tuan, nama saya Kiana." ucap Kiana sambil menyodorkan tangannya.
"Nama saya Zaide." ucap Zaiden menjabat tangannya.
"Tadi saya lihat di kantor Tuan sedang mencari asisten ya?" tanya Kiana. Zaiden hanya mengangguk.
"Kebetulan Tuan, aku mau melamar diperusahaan Tuan," ucap Kiana.
Zaiden sudah selesai makan siang, Zaiden pun memanggil salah satu pelayan untuk membereskan piring kotornya.
"Boleh saya lihat surat lamaran kerja kamu?" tanya Zaiden.
Kiana langsung menyodorkan lamaran kerjanya kepada Zaiden, Zaiden memeriksanya satu persatu. Menurut Zaiden semua lamaran kerja yang Kiana buat sudah memenuhi syarat dan Kiana memang kriteria asisten terpercaya.
Ternyata dibalik wajah cantik Kiana ada sifat licik yang ia sembunyikan, ia ingin merebut Zaiden dari Derly. Kiana memang berencana ingin memiliki pria mapan seperti Zaiden.
"Oke, kamu saya terima menjadi asisten saya," ucap zaiden.
"Terimakasih banyak, Tuan," ucap Kiana.
"Jangan panggil aku Tuan," ucap Zaiden.
"Terus siapa?" tanya Kiana.
"Panggil Pak saja," ucap Zaiden.
"Kamu boleh mulai kerja nanti besok," ucap Zaiden.
"Terimakasih Pak," ucap Kiana
Zaiden langsung meninggalkan Kiana sendirian di dalam restoran.
Kiana tertarik dengan Zaiden dia menyiapkan rencana untuk merebut Zaiden dari Derly. Kiana merencanakan bahwa dia akan menyusun rencana untuk menjebak Zaiden.
Hari kini semakin sore, Zaiden memutuskan untuk segera pulang. Setelah sampai rumah Zaiden langsung masuk ke dalam dan mencari istrinya.
Derly sedang menikmati kebun bunga yang ada di halaman samping rumahnya. Tiba-tiba satu pasang tangan memeluknya dari belakang.
"Sayang kamu lagi apa sih?" tanya Zaiden.
"Aku lagi lihat kebun bunga saja kok Mas," ucap Derly.
"Ayo masuk ini sudah sore," ucap Zaiden.
Derly mengangguk dan mereka pun memasuki rumah. Zaiden langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Setelah membersihkan badannya Zaiden langsung duduk disamping Derly.
Para asisten rumah tangga mulai memasak untuk makan malam, makan malam pun sudah siap dihidangkan. Seperti biasa ada salah satu art yang akan memanggilkan sepasang kekasih itu turun untuk makan malam.
Mereka lalu turun bersama menuju ruang makan, Derly bersyukur semua para art di rumahnya sangat ramah dan baik hati. Kini suaminya semakin sukses, Derly sudah memiliki perasaan takut akan perubahan sikap suaminya. Secara ia merasa masih belum sepenuhnya menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri, meski kini umur pernikahannya sudah memasuki tiga bulan.
.......................................................................
Hai semuanya maaf ya akhir-akhir ini telat up. Author sedikit pusing nih mikir konflik yang bisa bikin greget.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya😊.
__ADS_1