
Polisi datang disaat yang tidak tepat, sebagian barang yang berada di rumah tersebut hilang sebagian.
Zaiden langsung masuk ke dalam kamarnya untuk melihat semua uang dan surat pentingnya.
'Astaga semua hilang, sertifikat rumah pun hilang' batin Zaiden.
Zaiden pun memanggil polisi untuk segera mencari keberadaan Fany dan segerombol laki-laki itu.
Polisi meminta izin untuk melihat rekaman CCTV. Setela polisi melihat nomor mobil tersebut langsung berpencar mencari mobil itu.
Namun sayang... polisi menemukan mobil yang sengaja dibakar. Mobil itu adalah mobil yang dipakai oleh segerombol laki-laki tersebut.
Begitu cerdasnya mereka sampai membuat strategi yang tidak dibayangkan oleh siapa pun. Polisi terus melacak keberadaan mereka, tapi tidak seorang pun yang tahu keberadaan mereka.
Polisi akhirnya memeberitahu Zaiden bahwa pencarian mereka tidak ada hasil. Segerombol laki-laki itu begitu cerdas dan menyusun strategi dengan rapi.
Akhirnya semua polisi kembali ke kantor mereka. Sedangkan Zaide hanya duduk dan terdiam.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi dan tertera nama 'Istriku' Zaiden pun mengangkatnya.
"Halo," sapa Zaiden sambungan telepon sudah tersambung.
"Halo. Gimana, mas? Amankan?" tanya Derly.
__ADS_1
Zaiden pun menceritakan semua kejadiannya, semua uang dan perhiasannya sudah dibawa oleh segerombol laki-laki itu.
Derly tidak merasa khawatir sama sekali tentang semua perhiasan dan uang yang sudah diambil. Derly berpikir semua itu memang bukan miliknya melainkan tuhan telah mengambil kembali apa yang ia titipkan.
Tiga hari kini sudah berlalu. Hari ini hari Derly dan Zail pulang dari pariwisatanya. Zail tidak tahu mengenai rumahnya yang sudah dalam keadaan tidak ada televisi.
Mereka sedang duduk bersama sambil memakan cemilan. Tiba-tiba bel berbunyi, mereka pun berjalan menuju pintu.
"Permisi, apakah ini rumah Derly?" tanya seseorang.
"Iya benar. Ada apa ya?" Derly bertanya balik.
"Maaf, rumah anda sudah saya beli. Silahkan anda dan keluarga anda mengemasi barang-barang dan segera meninggalkan rumah ini," ucap orang tersebut.
"Saya sudah membeli rumah ini dari seseorang. Saya juga sudah membayarnya dengan harga yang tinggi. Jadi tolong secepatnya tinggalkan rumah ini." ucap orang itu dengan tegas dan kangsung meninggalkan mereka.
Derly, Zaiden dan Zail pun mengemasi barang-barang mereka. Mereka menaiki mobil Zaiden, mobil Derly dibawa oleh segerombol laki-laki itu.
"Kita mau ke mana, Ayah?" tanya Zail.
Derly dan Zaiden pun bertatapan. Akhirnya mereka memutuskan untuk tinggal di rumah Zora dan Zaqi.
"Kita mau tinggal di rumah nenek dan kakek," jawab Zaiden.
__ADS_1
"Asik... Zail bisa main bareng sama tante Zira," seru Zail kegirangan.
Mereka pun telah tiba di kediaman Zora dan Zaqi. Zaiden membawa koper, sedangkan Derly menggandeng tangan Zail dan mengetuk pintu.
Tok... tok... tok.
Tidak menunggu waktu lama, pintu pun terbuka. Zora merasa heran kenapa anak, menantu dan cucunya membawa koper.
Zora pun mempersilahkan mereka untuk masuk dan duduk di sofa ruang keluarga.
"Kalian mau nginap di sini?" tanya Zora. Derly dan Zaiden hanya mengangguk.
"Kami bukan hanya menginap, tapi kami juga mau tinggal di sini. Bolehkan, Mah?" tanya Zaiden.
"Boleh dong. Nanti Mamah juga bisa main bareng sama cucu, Mamah." ucap Zora sambil mencubit gemas pipi Zail.
"Ya sudah. Kalian istirahat dulu gih. Mamah mau masak." lanjut Zora sambil melangkah pergi meninggalkan.
Derly, Zaiden dan Zail pun menuju kamar untuk beristirahat. Zail tidur, sedangkan Derly memainkan ponselnya.
..........................................................
Terima kasih sudah mampir😊
__ADS_1