Kisah Cinta Derly

Kisah Cinta Derly
BAB 32


__ADS_3

"Sayang, kamu gak papa?" tanya Derly mengkhawatirkan anaknya.


"Bunda. Aduh, cakit," ucap Liza mengaduh kesakitan.


"Kan Bunda udah bilang, jangan lari-lari," ucap Derly.


Sedangkan orang yang ditabraknya hanya terdiam, dia mengamati suara itu. Mengingat kembali, dan ia ingat bahwa pemilik suara itu Derly. Istrinya.


"Derly." ucap Zaiden.


Ya, Zaiden lah yang Liza tabrak di taman. Derly langsung melihat ke arah sumber suara.


"Mas Zaiden," ucap Derly.


Liza langsung bersembunyi di belakang Derly. Liza takut kalo Zaiden akan memarahinya.


"Nda. Om itu ciapa?" tanya Liza.


Liza masih bersembunyi di belakang Derly. Zaiden kaget, ketika anak kecil itu menyebutnya dengan sebutan 'Bunda' Zaiden pun langsung bertanya.


"Anak kecil itu siapa?" tanya Zaiden.


"Liza, sini Bunda gendong ya. Liza jangan takut," ucap Derly sambil menggendong Liza.


Liz masih dengan mimik wajah yang ketakutan dan menyembunyikan mukanya di leher Derly. Zaiden hendak menyentuh Derly, namun langsung ditepis oleh Derly.


"Jangan sentuh aku!" ucap Derly dengan tegas.


"Kenapa Mas gak boleh nyentuh kamu?" tanya Zaiden yang mulai heran.


"Mas sentuh aja tuh asisten kamu!" ucap Derly dan memutar bola matanya jengah.


"Oh. Kamu cemburu sama Mas waktu satu tahun yang lalu?" tanya Zaiden.


Belum sempat Derly menjawab pertanyaan Zaiden, tiba-tiba dua orang paruh baya datang.


"Derly," ucap Putra dan Zaqi.


"Daddy, Papah," ucap Derly.


"Nda. Olang itu ciapa agi?" tanya Liza.


"Liza, tenang ya. Mereka Kakek Liza," jawab Derly.


"Meleka beldua?" tanya Liza.


"Iya mereka berdua Kakek Liza. Jadi, Liza jangan takut," ucap Derly.


"Anak kecil ini siapa Derly?" tanya Zaqi.


"Anak kecil ini cucu kalian," ucap Derly.


Mimik wajah Zaqi dan Putra langsung berubah, mereka kaget ketika Derly mengatakan bahwa Liza adalah cucu mereka.


"Sini Sayang, gendong sama Kakek," ajak Zaqi.


Liza memandang Derly. Derly mengerti tatapan apa yang Liza berikan, kemudian Derly mengangguk. Liza langsung menyalurkan tangannya. Kini Liza sudah berada di gendongan Zaqi.


Hari sudah semakin senja, Deely mengajak mereka untuk beristirahat di rumah Marty. Setelah sampai rumah Marty, Derly langsung mengetuk pintu. Marty langsung membukakan pintu rumahnya.


"Om, Zaiden!" ucap Marty kaget.


Marty langsung mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Mereka duduk di ruang tamu.


"Kalian kenapa bisa sampai kesini?" tanya Derly.


"Kami mencari kamu sejak kamu pergi dari rumah. Kami mencarimu satu bulan satu kota," ucap Zaqi.


"Disini ada 26 kota. Jadi, kalian sudah 26 bulan mencariku?" tanya Derly. Mereka hanya mengangguk.


Hari semakin malam, Derly mengajak Liza tidur. Zaiden berjalan mengikuti Derly.


"Stop!" cegah Derly.


Zaiden seketika langsung menghentikan langkahnya.


"Kamu jangan ikut masuk!" ucap Derly.


"Kenapa?" tanya Zaiden.


"Disini sempit, cukup buat aku sama anakku. Kamu gak boleh masuk!" ucap Derly.


"Gak papa, kalo sempit itu lebih enak. Jadi kita tidurnya gak jauhan," goda Zaiden.


"Kalo kamu ikut masuk, anakku mau taro dimana!?" tanya Derly yang masih dengan nada tegasnya.


Derly langsung menutup pintunya. Sedangkan Zaiden langsung menuju ruang tamu.


Pagi hari…. 


Derly memandikan Liza. Setelah Liza sudah mandi dan wangi, kini giliran ia yang mandi. Setelah selesai mandi. Mereka menuju ruang makan untuk sarapan.


"Pagi semuanya," sapa Derly.


"Pagi!" ucap mereka serempak.


"Pagi juga cantik," ucap Marty


Mereka pun mulai memakan sarapannya. Setelah sarapan Derly dan Liza pergi ke halaman rumah.


Zaiden mengikuti mereka. Karena Zaiden selalu mengikuti, Derly akhirnya mulai membuka pembicaraan.


"Kamu ngapain ngikutin aku sih Mas?" tanya Derly.


"Mas mau ngomong sama kamu," ucap Zaiden.


"Nda, om ini ciapa? Napa om ini selalu ikutin ita?" tanya Liza.


"Liza. Om ini Ayah kamu," ucap Zaiden.


"Nda, om ini pati boong ya, Nda?" tanya Liza.


Derly bingung harus ngomong apa, walaupun nanti ditutupi. Kelak pasti semuanya akan jelas kebenarannya.


"Iya, om ini Ayah Liza," ucap Derly.


Liza langsung berlari dan memeluk Zaiden.


"Ayah, Iza kangen banget sama Ayah," celoteh Liza.


"Ayah juga kangen sama Liza," ucap Zaiden.


Zaiden langsung menggendong Liza. Mereka bercanda ria bersama. Derly hanya melihat semuanya, Derly bersyukur Liza bisa seceria ini.


"Liza, main sendiri ya. Ayah mau ke Bunda Liza dulu," ucap Zaiden.

__ADS_1


"Ya, Ayah," ucap Liza singkat.


Zaiden langsung menuju Derly. Derly hanya terdiam sambil melihat Liza yang sedang asik bermain.


"Kamu kenapa ngindarin Mas?" tanya Zaiden.


"Aku gak menghindar kok. Aku cuma memberimu kesempatan untuk menjalin lebih dalam perselingkuhan kamu dengan asisten mu," ucap Derly.


"Oh, kamu cemburu ya?" goda Zaiden.


"Gak!" ucap Derly singkat.


"Terus kapan kamu hamil Liza?" tanya Zaiden.


Derly menceritakan awal ia hendak meninggalkan Zaiden. Zaiden juga menceritakan kesalahpahaman ini dan ia mengatakan bahwa Kiana sudah dipecat dari kantor Zaiden.


Beberapa hari kemudian…


Zaqi dan Putra sudah kembali ke rumah mereka masing-masing. Kini tinggal mereka berempat. Derly, Marty, Zaiden dan Liza.


Zaiden selalu membujuk Derly untuk pulang ke rumahnya. Tapi, Derly masih menolak ajakan suaminya.


Zaiden meminta bantuan Marty agar Derly mau pulang ke rumahnya dan tidak merepotkan Marty. Marty pun menyetujuinya.


Marty berulang-ulang kali membujuk Derly untuk pulang, dan akhirnya Derly menyetujuinya.


Derly, Liza dan Zaiden pun kini dalam perjalanan menuju rumahnya. Setelah sampai rumah, Liza melihat di sekitarnya.


"Becal cekali lumahnya, Nda," ucap Liza.


"Kamu suka gak?" tanya Zaiden.


"Cuka, Ayah. Iza cuka cekali lumahnya," ucap Liza.


Mereka pun mulai masuk, Zaiden mangantar Liza ke kamarnya. Derly hanya terus mengelilingi rumah itu. Gak ada bedanya sampai sekarang, Derly ingat betul semuanya.


Zaiden menyuruh supir untuk menurunkan barang-barangnya. Derly masuk ke dalam kamar dan merebahkan badannya.


Zaiden menghampiri istrinya yang sedang rebahan. Zaiden duduk disamping Derly dan ikut merebahkan tubuhnya.


Hari kini semakin malam, mereka pun makan malam bersama, mereka kembali ke kamar.


Derly mengganti bajunya dengan piyama seksinya yang sudah lama tak terpakai. Setelah mengganti baju, Derly bercermin dan memoleskan sedikit bedak di wajah putihnya. Setelah selesai memakai bedak, Derly kembali merebahkan tubuhnya.


Zaiden mendekatkan dirinya. Kini jarak antara Zaiden dan Derly semakin dekat.


"Kamu makin cantik aja deh," goda Zaiden.


Derly hanya pura-pura tak mendengar apa yang diucapkan suaminya.


Zaiden akhirnya mengangkat kepalanya dan mendekatkan wajahnya ke depan wajah istrinya. Kini nafas Zaiden bisa dirasakan oleh Derly.


"Mas, disamping kamu itu masih luas loh," ucap Derly.


Tapi Zaiden tak menggubris ucapan Derly, ia masih dengan setia memandangi wajah Derly. Derly jengah, apa yang dikatakannya selalu tak dianggap. Akhirnya Derly memejamkan matanya.


Tiba-tiba Zaiden mencium bibir Derly. Derly langsung membuka matanya. Sedangkan Zaiden ******* kecil bibir Derly.


"Hmmmp," Derly terus berontak.


Namun Zaiden langsung mengunci tubuh Derly dengan tangan dan badannya. Karena Derly kini hampir kehabisan nafas, Zaiden melepaskan ciumannya perlahan.


.......................................................................

__ADS_1


Hai aku kembali up. Jangan lupa tinggalkan jejak ya😊


__ADS_2