Kisah Cinta Derly

Kisah Cinta Derly
BAB 37


__ADS_3

"Ya sudah, Mas masakin ya," ucap Zaiden.


"Makasih, Mas," ucap Derly.


Zaiden pun berjalan menuju dapur, Derly mengikuti dari belakang. Tanpa sepengetahuan suaminya. Tangan Derly melingkar di badan Zaiden. Zaiden langsung mengelus rambut Derly.


"Kok, kamu manja sih sekarang. Pas tahu lagi hamil?" tanya Zaiden.


"Aku juga nggak tahu," ucap Derly.


Derly terus memeluk Zaiden sampai Zaiden selesai masak. Zaiden pun akhirnya kini telah selesai memasak makanan untuk makan siang hari ini.


"Nasi goreng pedas sudah jadi," ucap Zaiden.


"Hemmm, wanginya ... enak nih," ucap Derly menyium aroma nasi goreng itu.


Derly pun mulai melahap nasi goreng itu dengan lahap. Sedangkan Zaiden melahap nasi gorengnya dengan santai, dan melihat betapa lahapnya Derly makan masakannya.


Setelah makan siang mereka pun menonton tv. Menonton sambil memakan cemilan kesukaan mereka masing-masing.


Hari semakin sore, Derly dan Zaiden pun berangkat ke rumah sakit. Mereka menuju dokter kandungan. Ternyata banyak yang mengantri.


Ibu-ibu hamil dengan suami dan calon bayinya begitu harmonis.


Kini giliran mereka. Derly dan Zaiden pun masuk ke dalam ruangan.


"Apa keluhannya?" tanya dokter itu.


"Sering mual-mual, pusing juga, dok," ucap Derly.


"Anda telat berapa hari?" Dokter itu bertanya lagi.


"Sepertinya telat dua bulan," jawab Derly.


Dokter pun mempersilahkan Derly untuk berbaring di kasur yang tersedia untuk orang sakit.


Dokter mulai memeriksa perut Derly. Setelah semuanya selesai, Derly kembali di persilahkan untuk duduk kembali.


"Bagaimana, dok?" tanya Zaiden.


"Selamat. Kalian akan menjadi orang tua." ucap dokter seraya menjabat tangan.


Zaiden yang mendengar kabar itu langsung merasakan bahagia sekali.


"Makasih, dok." ucap Zaiden sambil menerima jabatan tangan dokter.


Mereka keluar ruangan dengan rasa sangat bahagia. Tapi, tiba-tiba wajah bahagia Derly mulai memudar.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" tanya Zaiden.


"Ngga kenapa-kenapa kok," ucap Derly kembali tersenyum.


"Mungkin ini akan menggantikan kesedihan, Bunda," batin Derly.


Mereka pun kini sudah sampai rumah, Zaiden begitu terfokus untuk menjaga istrinya.


Beberapa bulan kemudian.


Waktu dimana tiba saatnya Derly melahirkan. Zaiden selalu menjadi suami siaga untuk melindungi istri dan calon anaknya.


Tiba-tiba perut Derly merasa sakit. Derly pun mulai berteriak.


"MAS…!" teriak Derly.


Zaiden pun mulai berlari menuju istrinya yang berteriak menggema seisi rumah.


"Ada apa?" tanya Zaiden yang mulai khawatir.


"Mas, perut aku sakit. Hiks ..  hiks … hiks." ucap Derly sambil meringis kesakitan.


"Ya sudah, ayo kita ke rumah sakit!" ajak Zaiden.


"Tapi aku ngga kuat berjalan, Mas," ucap Derly.


Setelah sampai rumah sakit, Zaiden langsung menggendong istrinya kembali masuk ke dalam rumah sakit.


Zaiden memanggil beberapa perawat. Perawat pun datang dan membawa Derly ke ruang persalinan.


Bidan datang dan langsung menangani Derly dengan cepat. Zaiden berada di samping Derly, untuk memberi kekuatan istrinya.


"Mas, sakit banget," ucap Derly sembari meneteskan air matanya.


"Kamu pasti kuat kok, buktinya kamu dulu lahirin, Liza," ucap Zaiden.


"Yang kuat, Mas ada di sini," ucap Zaiden sambil menggenggam tangan Derly.


Tidak menunggu waktu lama, akhirnya kini suara bayi pun keluar.


Tidak terasa, air mata Derly menetes. Air mata bahagia, yang ia tunggu-tunggu akhirnya datang juga.


Suster berjalan menuju mereka berdua dengan membawa seorang bayi yang berada di gendongannya.


"Selamat, anak kalian jagoan." ucap suster itu sambil menyerahkan bayi mereka


Setelah suster menyerahkan bayi mereka, suster langsung kembali keluar ruangan.

__ADS_1


"Kita beri nama siapa, Mas?" tanya Derly.


"Kita beri nama, Zail Putra Zaiden. Gimana?" usul Zaiden sembari menanyakan apakah cocok atau tidak.


"Setuju, jadi nama panggilannya Zail. Asal jangan jahil." ucap Derly sambil memainkan pipi anaknya.


Zaiden menggendong Zail dan Derly tertidur. Setelah Zail ikut tertidur, Zaiden meletakan bayi nya ke tempat tidur bayi. Zaiden lupa, ia belum mengabari ibu dan mertuanya. Zaiden mengambil gawai di saku celananya. Ia mengabari bahwa Derly sudah melahirkan jagoan yang ganteng.


Tidak menunggu waktu lama, kedua orang tua dan kedua mertuanya pun kini datang bersamaan.


"Bagaimana keadaan Derly?" tanya Derla yang mencemaskan anaknya.


"Derly lagi istirahat di dalam, Mom," ucap Zaiden.


Derla dan Zora masuk bersamaan, mereka melihat cucu yang sudah ditunggu selama ini. Karena cucu pertama mereka meninggal dunia.


Derly merasa ada seseorang yang sedang berada di ruangannya. Ia pun terbangun dan melihat sekelilingnya.


"Cucu kita ganteng ya, La?" ucap Zora sambil terus menggendong Zail.


"Iya, cucu kita memang ganteng," ucap Derla.


"Mommy, Mamah. Kapan kalian datang?" tanya Derly dan mulai membuka suara.


"Kamu sudah bangun? Kami baru saja sampai," ucap Derla.


"Mas Zaiden ke mana?" tanya Derly.


"Ada di luar, mau Mommy panggil?" tanya Derla. Derly hanya mengangguk.


Derla pun mulai berjalan keluar ruangan. Derla menyampaikan bahwa Derly mencari Zaiden. Zaiden langsung beranjak meninggalkan mertua dan papah nya.


"Ada apa?" tanya Zaiden.


"Kapan aku boleh pulang?" tanya Derly.


"Besok. Besok kita pulang," jawab Zaiden.


Tiba-tiba baby Zail menangis. Zora langsung menyerahkan baby Zail ke Derly. Derly langsung menerimanya. 


Hari pun kini semakin sore, kedua mertua dan orang tuanya berpamitan pulang.


Karena hari semakin malam, Derly tertidur. Sedangkan Zaiden terus mengawasi baby Zail.


.......................................................................


Hai semuanya😊 jangan lupa tinggalkan jejak ya😊.

__ADS_1


__ADS_2