Kisah Cinta Derly

Kisah Cinta Derly
BAB 15


__ADS_3

Setelah makan malam Derly membersihkan dan mencuci piring bekas makan malam.


Zaiden dan keluarganya sedang berkumpul di ruang keluarga.


"Kakak," panggil Zira.


"Iya ada apa Zira?" tanya Zaiden.


"Kakak, bolehkah Aunty malam ini tidur di kamar Zira?" tanya Zira.


"Auntynya mau gak?" tanya Zaiden.


"Kata Aunty, bilang dulu sama Kakak. Boleh ya Kak malam ini aja." rengek Zira.


"Iya boleh, tapi Zira jangan nyusahin Aunty ya," ucap Zaiden.


"Iya Zira gak akan nyusahin Aunty," ucap Zira.


"Makasih ya Kakak." sambung Zira. Zaiden hanya mengangguk dan tersenyum ke arah adik tersayangnya.


Tak menunggu waktu lama Derly pun ikut bergabung bersama mereka.


"Aunty kata kakak, Aunty boleh tidur bareng Zira," ucap Zira. Derly tersenyum melihat Zira yang begitu bahagia.


"Yaudah kalian istirahat gih, ini udah larut malam," ucap Zaiden.


"Mah, Pah, Mas aku tidur duluan ya. Ayo Zira kita tidur di kamar Zira." pamit Derly sekaligus mengajak Zira untuk tidur. Mereka semua hanya mengangguk.


Derly dan Zira beranjak menuju kamar Zira. Derly menemani Zira tidur, setelah Zira terlelap Derly pun ikut terlelap.


Ziaden menghampiri kamar Zira untuk melihat apakah adik dan istrinya sudah terlelap atau belum. Setelah sampai kamar adiknya, Zaiden langsung masuk dan melihat mereka. Ternyata mereka sudah terlelap, Zaiden pun kembali ke kamarnya.


Pagi harinya Derly bangun sangat pagi, Zira merasakan ada yang bergerak di atas kasurnya ia pun ikut terbangun.


"Aunty sudah bangun?" tanya Zira.


"Iya Sayang, Aunty sudah bangun. Ayo Sayang kamu mandi dulu, aunty pilihkan baju buat dipakai hari ini," ucap Derly.


Zira langsung menuju kamar mandi. Setelah Zira mandi Zira langsung menuju aunty kesayangannya.


"Hai Aunty, Zira sudah mandi," ucap Zira.


"Wah wanginya adik Aunty, sini Aunty pakein bajunya," ucap Derly.


Zira pun mendekati Derly, Derly memakaikan baju yang menurutnya bagus dan cantik.


"Makasih ya Aunty," ucap Zira.

__ADS_1


"Sama-sama." ucap Derly sambil tersenyum.


"Ayo kita ke ruang makan, Aunty mau masak dulu," ucap Derly. Zira hanya mengangguk dan mengikuti Derly.


"Zira tunggu di meja makan dulu ya, Aunty mau masak telur mata sapi dan nasi goreng,"  ucap Derly.


"Iya Aunty," jawab Zira.


Derly pun mulai memasak untuk sarapan pagi. Ini masih pagi dan yang lain masih melanjutkan tidurnya. Setelah sarapan sudah jadi Derly mendekati Zira.


"Aunty sudah masaknya?" tanya Zira.


"Iya Aunty sudah masaknya," ucap Derly.


"Ini masih terlalu pagi Aunty, kayaknya mereka masih tidur deh," ucap Zira.


"Yaudah kita bagi tugas aja gimana?" tanya Derly.


"Tugas apa aunty?" tanya balik Zira.


"Aunty bangunin kakaknya Zira, Zira bangunin papah sama mamah," ucap Derly.


"Oke, Aunty itu ide bagus." ucap Zira.


Zira menuju kamar orang tuanya dan Derly pun menuju kamar suaminya, setelah Derly sampai di kamar suaminya. Derly langsung membangunkan suaminya yang sedang tertidur pulas.


"Mas bangun ini udah pagi," ucap Derly membangunkan suaminya.


"Ayo dong Mas bangun, ini sudah siang." ucap Derly sambil beranjak membuka jendela.


Sinar matahari masuk dan menyinari kamar tersebut hingga akhirnya Zaiden pun bangun.


"Mas mandi dulu ya, aku udah siapin air mandi. Setelah mandi Mas cepetan ke ruang makan, aku sudah siapin sarapan pagi ini," ucap Derly.


"Iya." ucap Zaiden singkat dan langsung beranjak menuju kamar mandi.


Derly menyiapkan pakaian untuk suaminya dan segera bergabung di ruang makan.


"Zaidennya mana?" tanya Zaqi.


"Zaidennya masih mandi Pah," ucap Derly


Tak menunggu waktu lama Zaiden pun bergabung bersama untuk sarapan. Setelah sarapan Zaiden dan Zaqi berangkat ke kantor.


Seharian Derly bermain bersama Zira. Zira begitu senang bisa bersama Derly seharian, bercanda ria, Derly sangat senang bisa bersama Zira seharian, karena ia akan pulang esok hari.


Hari sudah semakin siang lalu mereka makan siang dan kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat siangnya. Derly memainkan ponselnya, tanpa sengaja ia membuka galeri yang isinya foto ia bersama sahabatnya.

__ADS_1


Derly merindukan sosok sahabat yang dulu selalu ada ketika ia merasa sepi. Setelah ia menikah Derly tidak pernah mendapat kabar dari sahabatnya.


Derly selalu teringat bahwa tempat tinggal Marty di pedesaan dan jarang sekali terdapat sinyal disana.


Semua sosial media Marty pun tak pernah aktif, semua mati bagai tak pernah dibuka lagi.


Derly selalu mengingat kenangan bersama Marty, jalan-jalan, berbelanja, hingga kejahilan Marty yang ia rindukan.


Derly merindukan Marty sampai tak sadar bahwa hari kini semakin senja. Suara mobil terdengar, tapi Derly masih betah berada didalam kamar. Hingga Zaiden melihat disekitar rumah tak ada istri yang selalu menunggunya pulang kerja, Zaiden pun segera memasuki kamarnya. Ternyata benar Derly berada di kamar. Zaiden mendekat kearah Derky berada.


"Yang," panggil Zaiden. Tapi tetap Derly menghiraukannya.


"Sayang, kamu kenapa sih, kalo ada masalah cerita sama mas. Kalau Mas bisa bantu Mas pasti akan bantu kok," ucap Zaiden.


Derly pun duduk bersampingan dengan suaminya, Derly pun menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.


"Mas," panggil Derly.


"Iya Sayang, ayo apa yang kamu ingin katakan?" tanya Zaiden.


"Mas serius mau bantu aku?" tanya Derly.


"Kalau Mas bisa bantu pasti Mas akan bantu." ucap Zaiden sambil mengusap lembut kepala Derly.


"Mas, aku kangen Marty," ucap Derly.


"Kalau kangen sama Marty kamu tinggal telepon dia saja," ucap Zaiden.


"Waktu itu dia bilang kalau disana gak ada sinyal Mas, gimana aku bisa telepon dia kalau disananya saja gak ada sinyal," ucap Derly.


"Terus kamu mau kesana?" tanya Zaiden. 


Derly hanya terdiam ia takut kalau suaminya tidak akan mengiyakan apa yang ada dipikirannya. Padahal Zaiden mengerti apa yang harus ia lakukan untuk menghibur Derly.


"Kalau kamu mau kesana, nanti ya setelah kita pindah ke rumah baru kita," ucap Zaiden.


"Serius mas?" Derly memastikan apa yang suaminya katakan.


"Iya Sayang Mas beneran, kamu siap-siap ya, kita mau pulang ke rumah mommy sama daddy nanti besok." ucap Zaiden langsung beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Derly merasa senang bahwa ia akan melepas rindu bersama sahabatnya. Beruntung waktu itu Derly menanyakan alamat baru Marty.


Derly pun sangat bersyukur memiliki suami yang pengertian seperti Zaiden.


Derly segera bergegas untuk membereskan barang-barangnya yang akan ia  bawa pulang. Setelah membereskan barang-barang Derly segera menuju dapur untuk membantu mertuanya memasak menu makan malam.


Setelah mereka makan malam mereka berkumpul di ruang keluarga sambil menonton tv. Zaiden mengatakan bahwa ia akan segera pindah ke rumah barunya.

__ADS_1


.......................................................................


Hai semuanya makasih ya sudah mampir, semoga kalian suka sama hasil karyaku😊. Jangan lupa tinggalkan jejak. See you next time.


__ADS_2