
Pagi harinya mereka masih tertidur dengan pulas, Derla mengetuk pintu tapi tidak ada yang membukakan.
Hingga kini pukul sepuluh pagi, tapi mereka masih di dalam kamar. Derly terbangun pukul setengah sebelas, Derly bangun dan melihat jam dinding di dalam kamarnya.
"Ya ampun ini sudah jam setengah sebelas," ucap Derly kaget.
Zaiden yang mendengar suara istrinya ia pun terbangun.
"Ada apa sayang?" tanya Zaiden.
"Mas ini sudah jam setengah sebelas, Mas, gak ke kantor?" tanya Derly.
"Jam setengah sebelas?" tanya Zaiden. Derly hanya mengangguk.
"Jam setengah sebelas udah telat dong?" ucap zaiden.
"Terus Mas, mau berangkat gak?" tanya Derly.
"Kayaknya Mas, gak berangkat deh. Mas, hari ini kerja di rumah saja," ucap Zaiden.
"Ya sudah. Mas, sekarang mandi dulu," sambung Zaiden.
Derly hanya mengangguk, sambil menunggu Zaiden mandi. Derly menuju dapur untuk memasak.
"Kamu sudah bangun?" tanya Derla.
"Iya Mom, kok Mommy gak bangunin Derly sih?" tanya Derly.
"Mommy sudah mengetuk pintu kamar kamu, tapi masih terkunci rapat. Jadi Mommy sama Daddy sarapannya duluan," ucap Derla.
"Kamu jangan masak, Mommy udah masak," sambung Derla.
"Makasih ya Mom," ucap Derly.
"Suami kamu gak ke kantor?" tanya Derla.
"Katanya gak Mom, mau kerjanya di rumah," ucap Derly. Derla hanya mengangguk tanda bahwa ia mengerti.
Tak menunggu lama Zaiden pun sudah berada di meja makan. Sedangkan Derly kini berada didalam kamar mandi. Setelah makan Zaiden menelepon asistennya untuk mengirim berkas yang akan ia tanda tangani.
Setelah mandi Derly menghampiri suaminya yang sedang duduk di ruang keluarga. Zaiden sedang menunggu asistennya, tidak menunggu waktu lama suara pintu terdengar. Derly langsung membukakan pintu dan menerima berkas yang asistennya Zaiden berikan.
Derly langsung memberikan berkas tersebut kepada suaminya.
"Mas, mau kopi?" tanya Derly.
"Iya, buatin Mas kopi ya. Tapi jangan manis-manis, di samping Mas kan sudah manis." ucap Zaiden menggoda Derly.
"Mas ini bisa saja, orang lagi banyak kerjaan juga masih aja bisa ngerayu," ucap Derly.
Derly pun langsung menuju ke dapur untuk membuatkan kopi yang sesuai keinginan suaminya.
Derly meletakkan kopinya disamping berkas-berkas.
__ADS_1
Zaiden seharian sibuk dengan berkas-berkas kantornya, Derly yang melihat begitu banyak berkas yang menumpuk ia tahu bahwa sebab kemarin jalan-jalan ke kota B.
Derly menemani suaminya yang sedang sibuk dengan berkas dan layar laptopnya. Derly tidak berani mengganggunya, takut nanti Zaiden tidak fokus.
Hari semakin siang Derly membantu Mommy masak, Derly memasak beberapa menu spesial untuk Zaiden. Setelah makanan selesai Derly menghampiri Zaiden yang masih terus terfokus pada berkas-berkas yang menumpuk.
"Mas, ayo makan siang dulu. Diteruskan nanti habis makan siang," ucap Derly.
"Iya bentar ya nanggung." ucap Zaiden yang masih menatap layar laptopnya.
"Mas mau makan disini atau di ruang makan?" tanya Derly.
"Kalo nggak keberatan, kamu bawa makanannya ke sini saja," ucap Zaiden.
"Ok Mas, aku siapin dulu ya." ucap Derly sambil melangkah menuju ruang makan.
Derly mengambil sepiring nasi dan lauk untuk Zaiden.
"Zaiden gak mau makan?" tanya Derla.
"Mas Zaiden ada Mom, dia sibuk. Jadi Derly antarkan makanan ini ke ruang tamu," ucap Derly.
Derla hanya mengangguk tanda bahwa ia paham apa yang dikatakan oleh anaknya
Setelah Derly selesai mengambil nasi dan lauknya Derly berjalan menuju suaminya.
"Mas, ini makan siangnya," ucap Derly.
"Sini duduk, suapi Mas," ucap Zaiden.
Derly mengambil air putih satu gelas dan meletakkannya di samping sepiring nasi itu.
"Sibuk banget ya Mas?" tanya Derly sambil menyuapi suaminya.
Zaiden tak menjawab pertanyaan Derly, mulutnya penuh dan tak bisa berbicara. Derly masih saja terus bertanya, hingga Zaiden keselek.
Derly panik dan langsung menyodorkan segelas air minum.
"Aduh Sayang, kamu jangan nanya terus dong. Mulut Mas itu penuh jadi Mas gak bisa jawab pertanyaan kamu satu-satu," ucap Zaiden. Derly hanya cengengesan.
Setelah selesai makan, Zaiden masih melanjutkan pekerjaannya yang kini hanya tinggal sedikit. Derly menemani suaminya sampai selesai.
Pekerjaan Zaiden pun kini sudah selesai, Zaiden membereskan dan membawa berkas tersebut ke kamar. Saking capeknya Zaiden kini rebahan di atas kasur. Derly membawakan secangkir teh.
"Nih Mas, diminum dulu tehnya mumpung masih hangat," ucap Derly.
"Iya makasih ya Yang." ucap Zaiden sambil menerima secangkir teh tersebut dan meminumnya.
"Sini Mas, aku pijitin." ucap Derly dan mulai memijit Zaiden.
"Enak banget kamu mijitnya," ucap Zaiden.
"Biasa aja kok Mas, mungkin karena kamu capek jadi pijatan biasa jadi lebih enak," ucap Derly.
__ADS_1
"Makasih ya kamu nemenin Mas kerja dirumah kali ini," ucap Zaiden.
"Nggak usah berterima kasih Mas, kamu kaya gini kan gara-gara aku," ucap Derly.
"Gara-gara nemenin aku jalan-jalan seharian," sambung Derly.
"Kalo itukan udah kewajiban Mas membahagiakan kamu," ucap Zaiden.
"Yaudah Mas istirahat dulu ya, aku mau nonton tv," ucap Derly.
"Jangan. Kamu disini aja nemenin Mas tidur ya," ucap Zaiden.
"Tapi Mas ..." ucapan Derly tercegat.
"Apa Mas, perlu beli tv buat dikamar kita?" tanya Zaiden yang langsung memotong ucapan Derly.
Derly hanya terdiam dan menuruti apa yang suaminya katakan. Derly merebahkan tubuhnya di atas kasur, lebih tepatnya disamping suaminya.
Dan tanpa menunggu lama, mereka pun terlelap. Hari kini sudah semakin senja, Derly terbangun dan langsung membersihkan diri. Derly yang melihat suaminya masih terlelap ia memutuskan untuk tidak membangunkannya.
Ia memilih untuk pergi ke dapur untuk membantu Mommynya masak. Makan pun kini sudah siap untuk dihidangkan. Matahari kini sudah semakin tenggelam, Putra baru sampai rumah. Putra langsung mandi, dan bergabung di ruang makan untuk makan malam bersama.
Setelah makan Derly dan Zaiden langsung kembali ke kamar.
"Mom, kenapa mereka?" tanya Putra.
"Mereka hari ini di rumah aja Dad," ucap Derla.
"Kenapa mereka di rumah aja?" tanya Putra lagi.
"Mereka pagi ini kesiangan, jadi Zaiden kerjanya di rumah," ucap Derla.
Putra hanya mengangguk tanda bahwa ia mengerti apa yang Derla jelaskan.
Jam pun kini sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Derly mengganti bajunya dengan piyama tidur. Begitu juga dengan Zaiden.
"Mas, rumahnya udah siap ditempati belum sih?" tanya Derly.
"Rumahnya itu udah siap ditempati, semua barang-barang disana juga udah lengkap kok," ucap Zaiden.
"Kalo udah siap semua, kita pindahnya lusa ya Mas?" ucap Derly meminta persetujuan Zaiden.
"Yakin kamu mau pindahnya lusa?" Zaiden bertanya balik.
"Iya aku yakin kok, supaya aku bisa cepet-cepet ke kampung halaman Marty." ucap Derly sambil tersenyum.
"Oh kamu mau pindah cepet-cepet hanya karena itu, bukan mau berduaan sama Mas?" goda Zaiden. Derly hanya tersenyum.
"Aku kangen sama Marty, jadi aku pengen cepet-cepet ke rumahnya," ucap Derly.
"Iya nanti kita pindah rumahnya lusa ya," ucap Zaiden.
"Beneran Mas?" Derly bertanya dan sekaligus senang bahwa ia akan bertemu sahabatnya.
__ADS_1
.......................................................................
Hai semuanya, Jangan lupa tinggalkan jejak. Tinggalkan jejak komentar, makasih atas dukungannya😊 bye bye.