Kisah Cinta Derly

Kisah Cinta Derly
BAB 24


__ADS_3

Derly memandikan Zira dan mendandani anak kecil itu. Setelah Zira, mereka menuju ruang makan untuk makan malam. Setelah makan malam mereka langsung ke ruang keluarga. 


Derly lupa tidak membawa ponselnya, ia menyuruh Zira mengambilkan ponselnya dikamar. Zira pun langsung menuju kamar Derly. Setelah sampai kamar Derly, Zira melihat kanan dan kiri.


"Besar sekali kamar kakak sama aunty," ucap Zira sendirian.


Ia mencari ponsel Derly dan akhirnya ketemu. Zira langsung menuju Derly.


"Nih aunty ponselnya." ucap Zira sambil menyodorkan ponsel milik Derly.


"Makasih," ucap Derly.


Mereka pun mengobrol bersama, tak lama ponsel Derly berdering, Derly langsung mengangkat panggilan tersebut.


*Panggilan on*


"Assalamualaikum," (Zaiden)


"Waalaikumsalam," (Derly dan Zira)


"Kalian lagi apa?" (Zaiden)


"Lagi ngobrol" (Zira)


"Kita sambungkan video call aja ya," (Zaiden)


"Boleh," (Derly)


Zaiden pun mengalihkan obrolan menjadi video call.


"Hai," sapa Zaiden sambil melambaikan tangan.


"Hai," sapa Derly dan Zira bersama dan melambaikan tangan.


"Wah adik kakak lagi ceria ya?" tanya Zaiden.


"Iya kok kakak tahu?" Zir tanya balik.


"Tuh muka kamu berseri-seri," ucap Zaiden sambil memperhatikan Zira dari layar ponselnya.


"Iya kak, Zira lagi senang hari ini dikasih baju sama aunty," ucap Zira.


"Kamu kasih baju apa ke Zira?" tanya Zaiden sambil menatap Derly.


"Aku kasih baju yang waktu kita liburan di kota B," ucap Derly.


Zaiden hanya mengangguk, karena hari semakin larut malam Derly pun mengakhiri Video callnya


"Udah dulu ya Mas, ini sudah malam. Aku mau nidurin Zira dulu," ucap Derly.


"Iya," ucap Zaiden singkat.


"Assalamualaikum," ucap Derly.


"Waalaikumsalam."


*Panggilan off*


"Ayo Zira kita ke kamar kamu," ajak Derly.


"Aunty, Zira mau tidur bareng aunty boleh?" tanya Zira.

__ADS_1


"Boleh, Zira mau tidurnya di kamar Zira atau kamar aunty?" tanya Derly.


"Zira mau tidurnya di kamar aunty," ucap Zira.


"Boleh, ayo kita ke kamar aunty." ucap Derly sambil menggandeng tangan mungil Zira.


Mereka pun menuju kamar Derly. Setelah sampai kamar, Zira langsung menuju kasur dan merebahkan tubuhnya.


"Aunty kasurnya enak banget buat tidur," ucap Zira.


"Zira tidur disini ya selama kakak Zaiden belum pulang," ucap Derly.


"Iya aunty," ucap Zira.


Tak menunggu lama mereka berdua pun tertidur dengan lelap.


Disisi Zaiden. Kiana begitu geram dengan keharmonisan rumah tangga Zaiden, rasanya ia sangat ingin memisahkan mereka segera. Cara yang ia susun ternyata tidak sesuai apa yang ia inginkan, dulu ia ingin menjalankan rencana ingin menjebak Zaiden agar tidur bersamanya. Ternyata usahanya sia-sia, ia dan Zaiden tidur di hotel beda kamar dan beda lantai.


Karena di Indonesia malam, maka di Prancis siang. Zaiden dan Kiana rapat bersama duta besar Prancis.


Waktu makan siang tiba, Kiana dan Zaiden menuju salah satu restoran yang tak jauh dari tempat rapat.


Zaiden bersikap agak dingin terhadap Kiana, dan itu membuat Kiana geram atas sikap Zaiden terhadapnya.


Kiana berpikir bahwa ia akan membatalkan rencana menjebak Zaiden, ia akan ia akan menjalankan rencana itu jika ada waktu yang lebih menguntungkan buat dirinya.


Hari kini semakin malam jam menunjukkan pukul delapan malam, jika di Prancis malam maka di Indonesia jam delapan pagi. Zaiden menelpon Derly.


Disisi Derly. Derly bangun jam enam pagi, ia menyiapkan baju untuk Zira dan menyiapkan semua kebutuhan Zira. Jam menunjukkan pukul setengah delapan, Zira terbangun dan mencari keberadaan Derly.


"Aunty…!" panggil Zira.


Derly mendengar Zira memanggilnya, Derly pun langsung menyahut.


"Iya Zira, aunty ada disini!" sahut Derly.


"Aunty dimana?" tanya Zira.


"Disini sayang," ucap Derly.


Zira langsung menuju ke sumber suara. Zira langsung memeluk Derly. Derly berada di dapur bersih khusus Derly.


"Aunty lagi apa di dapur?" tanya Zira.


"Aunty lagi bikin kue nastar buat cemilan kita," jawab Derly.


"Kue nastar?, wah pasti enak, bikin yang banyak ya aunty," ucap Zira.


"Kamu suka kue nastar rasa apa?" tanya Derly.


"Suka rasa apa saja aunty, makan kue nastar sama minum sirup," ucap Zira.


"Kaya lebaran aja, makan kue sama minum sirup," ucap Derly.


Karena jam sudah menunjukkan pukul delapan, ponsel Derly pun berdering. Derly langsung mengangkat telepon itu.


*Panggilan on* 


"Assalamualaikum," (Zaiden)


"Waalaikumsalam," (Derly)

__ADS_1


"Yang telepon siapa aunty?" tanya Zira penasaran.


"Kakaknya Zira," ucap Derly.


"Kalian lagi pada apa sih?" (Zaiden)


"Lagi di dapur, lagi bikin kue nastar," jawab Zira.


"Zira ini ponselnya, Zira ngobrol sama kakak dulu ya. Aunty mau lanjut bikin kue." ucap Derly sambil menyodorkan ponselnya.


Zira pun menerimanya, dan melanjutkan ngobrol dengan kakaknya.


"Kakak lagi apa?" (Zira)


"Kakak lagi tiduran, kamu senang tinggal di rumah kakak?" (Zaiden)


"Seneng banget kak, aunty Derly baik banget," (Zira)


"Udah dulu ya, kakak mau tidur dulu," (Zaiden)


"Iya, assalamualaikum," (Zira)


"Waalaikumsalam." (Zaiden)


*Panggilan off*


"Nih aunty ponselnya." ucap Zira sambil menyodorkan ponsel Derly.


"Kok udah nelponnya?" tanya Derly.


"Kakaknya mau tidur," jawab Zira.


"Udah jadi kue nastarnya," ucap Derly.


"Aunty Zira mau coba," ucap Zira.


"Yasudah ayo kita ke taman bunga yuk sambil makan kue ini," ajak Derly.


"Ayo." ucap Zira dengan semangat.


Mereka pun bersantai dan minum sirup bersama. Tak terasa jam menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Salah satu art pun melaporkan bahwa makan siang sudah siap, lalu mereka menuju ruang makan. Mereka makan sedikit karena perutnya masih kenyang habis makan kue nastar. Setelah makan siang Derly menidurkan Zira ke kamar Zira.


Tak menunggu waktu lama akhirnya Zira terlelap dalam dunia mimpinya. Dan tak lama juga Derly ikut masuk kedalam mimpi.


Ia tidur sampai jam tiga sore. Derly duduk sejenak dan langsung menuju kamar mandi. Hari-hari yang cukup membuatnya lelah, mengurus Zira untuk beberapa hari.


Hari-hari terus berjalan, Zaiden memberi kabar bahwa ia akan pulang lusa. Derly sangat senang mendengar kabar suaminya akan pulang.


Disisi Zaiden. Kiana tahu ia akan pulang lusa bersama dengan Zaiden, maka ia akan merencanakan mencap salah satu kemeja milik Zaiden dengan lipstik di bibirnya.


 Dan disaat Zaiden sedang mandi, Kiana mengendap-endap masuk ke dalam kamar hotel Zaiden. Ia mengambil salah satu baju milik Zaiden dan menempelkan bibirnya ke baju Zaiden. Setelah selesai menjalankan misinya, Kiana langsung kembali ke kamar hotelnya.


Dua hari kemudian. Zaiden dan Kiana sudah bersiap-siap menuju bandara untuk pulang ke Indonesia.


Setelah sampai Indonesia Zaiden dan Kiana beda mobil, karena mereka juga beda arah rumah. Ziaden kini sudah sampai depan rumahnya. Ia langsung mengetuk pintu rumahnya, dan Zaiden disambut oleh Derly dan Zira.


"Selamat datang kembali di rumah," ucap Zira dan Derly bersamaan.


^_^ ^_^ ^_^ ^_^ ^_^ ^_^ ^_^


Terimakasih sudah mampir😊

__ADS_1


__ADS_2