
Zaiden mulai memasuki kantor dengan raut wajah yang seperti biasanya. Kiana mulai heran kembali dengan apa yang terjadi.
Kiana mengikuti Zaiden masuk ke dalam ruangannya. Kiana seperti biasa menawarkan secangkir kopi.
"Oke, terima kasih kopinya," ucap Zaiden.
"Maaf Pak, boleh saya tanya sesuatu?" tanya Kiana. Zaiden hanya mengangguk dan masih menatap layar laptopnya.
"Kenapa Pak Zaiden hari ini berseri-seri? Sedangkan kemarin Pak Zaiden terlihat mengantuk?" tanya Kiana.
"Kemarin saya habis berantem sama istri saya, dan sekarang kami sudah akur kembali," jelas Zaiden kepada Kiana.
Kiana kembali geram setelah mendengar kabar tersebut, ia tak akan menyerah begitu saja. Kiana mulai menyusun rencana baru yang mungkin akan berhasil, tapi ia menunggu waktu yang tepat.
Disisi lain.
Setelah Zaiden berangkat, Derly menemani Zira yang sedang bermain dengan mainan barunya.
"Aunty boleh ikutan gak?" tanya Derly.
"Boleh, Aunty. Sini main bareng," ucap anak kecil itu.
Derly mulai bermain dengan Zira, mereka bercanda ria bersama. Para art yang melihat keakraban mereka sangat harmonis. Para art berdo'a semoga majikannya cepat diberi momongan.
"Aunty," panggil Zira.
"Hmmm," sahut Derly.
"Katanya, Aunty. Mau telepon Mamah?" tanya Zaiden.
"Oh iya, Aunty lupa. Aunty minta maaf ya." ucap Derly sambil mengambil ponsel dari saku bajunya.
"Cepet, Aunty. Cepet telepon Mamah," rengek Zira.
Derly mulai mencari nomor ponsel ibu mertuanya. Ia langsung memencet nomor dan tersambung.
*Panggilan on*
"Halo," (Zora)
"Halo, Mah." (Derly)
"Ada apa, Derly?" (Zora)
"Ini, Mah. Zira katanya kangen sama Mamah," (Derly)
"Oh ya," (Zora)
Derly langsung memberikan ponselnya ke Zira.
"Halo,Mah." (Zira)
"Hai juga," (Zora)
"Mamah, Zira kangen sama, Mamah. Mamah kapan pulangnya?" (Zira)
"Papah, disini masih ada pekerjaan Zira, nanti kalo sudah selesai semuanya Umi pasti pulang kok," (Zora)
"Iya. Tapi kapan, Mah?" (Zira)
"Nanti Mamah kabari kok kalo Mamah pulang. Udah dulu ya, Mamah ada urusan sebentar," (Zora)
"Iya," (Zira)
Zira mengembalikan ponselnya.
__ADS_1
"Halo, Mah." (Derly)
"Udah dulu ya, Ly. Mamah masih ada urusan," (Zora)
"Iya," (Derly)
"Dah sampai jumpa," (Zora)
"Dah." (Derly)
*Panggilan off*
Setelah menelpon Zora, Zira kembali bermain dengan mainannya. Derly sebenarnya tahu betapa Zira sangat merindukan mamahnya.
Mereka bermain hingga siang hari. Mereka makan siang dan kembali ke kamar masing-masing. Hingga sore. Zaiden sudah berada di dalam rumah, ia mencari keberadaan istri dan adiknya.
"Biasanya mereka ada di ruang keluarga." batin Zaiden.
Zaiden terus melangkah menuju kamarnya. Ketika sampai kamar, Zaideb melihat istrinya ternyata sudah tertidur dengan lelap. Karena melihat Derly yang tertidur tanpa menggunakan selimut, akhirnya Zaiden memakaikan selimut di kaki sampai leher Derly.
Karena hari sudah semakin larut sore. Zaiden membangunkan Derly. Zaiden mengatakan bahwa dilarang tidur sebelum maghrib. Derly mengucek matanya. Ia mengumpulkan kesadarannya.
"Kamu sudah pulang, Mas?" tanya Derly.
"Ini kan sudah sore, ya tentu Mas sudah pulang," uca Zaiden yang masih memandang istrinya dan tersenyum.
"Maaf ya, Mas. Aku ketiduran sampai sore," ucap Derly.
"Iya gak apa-apa. Sana gih mandi, terus makan malam. Mas udah laper," ucap Zaiden.
Derly pun mulai melangkah menuju kamar mandi. Setelah mandi. Derly langsung mengajak Zaiden untuk segera makan malam. Setelah makan malam, Zaiden langsung masuk ke kamar. Derly langsung menyusul suaminya dari belakang.
"Mas hari ini lelah, rasanya ngantuk banget," ucap Zaiden.
Zaiden pun mulai terlelap menuju dunia mimpinya. Karena hari semakin malam, mau tidak mau Derly harus tidur.
Pagi hari...
"Mas, berangkat dulu ya," ucap Zaiden. Derly hanya mengangguk.
"Dah." ucap Zaiden sambil melambaikan tangannya
"Dah." ucap Derly.
Zaiden pun berangkat ke kantornya. Derly dan Zira menuju ruang karaoke di lantai dua. Mereka bermain karaoke dengan asik. Berbagai lagu mereka nyanyikan. Dari lagu anak-anak sampai lagu pop.
Setelah makan malam pun mereka melanjutkan karaoke. Setelah lelah, mereka menuju ruang makan untuk mengambil minuman dingin.
"Zira sudah cape, Aunty. Udah ya karaokenya hahaha," ucap Zira sambil terkekeh mengingat suara seraknya saat bernyanyi.
"Iya Aunty juga cape. Hahahaha," Derly ikut terkekeh.
Hahahahahaha. Mereka tertawa bersama.
Karena hari sudah semakin sore, Derly memandikan Zira. Setelah memandikan Zira, Derly kembali ke kamar untuk membersihkan dirinya.
Karena kini sudah sore hari maka Zaiden pulang. Zaiden langsung menuju kamarnya. Dan membuka pintu kamarnya tersebut. Derly yang sedang menyisir rambutnya, langsung merubah posisinya.
"Hayooo, lagi apa?" canda Zaiden.
"Isssh, ternyata kamu. Bikin kaget aku aja," ucap Derly. Zaiden hanya terkekeh.
"Kamu mau mandi, Mas?" tanya Derly.
"Iya. Badan Mas pada gatal semua," ucap Zaiden.
__ADS_1
"Kebetulan Mas. Aku udah siapin air hangat buat kamu," ucap Derly.
Zaiden pun menuju kamar mandi. Sembari menunggu suaminya mandi, Derly menyiapkan pakaian untuk suaminya. Setelah menyiapkan pakaian, ia pun keluar menemui Zira.
"Hai, Zira." sapa Derly.
"Hai juga, Aunty." Zira menyapa balik.
"Ini sudah hampir larut malam, Zira mau makan malam?" tanya Derly.
"Iya, Aunty." ucap singkat Zira.
"Ayo kita makan malam dulu," ajak Derly sambil menggandeng tangan mungil Zira.
Mereka berjalan bersama menuju ruang makan. Ternyata sudah ada Zaiden yang duduk di salah satu kursi di ruang makan itu.
"Kok kamu cepet banget udah ada disini aja," ucap Derly.
"Aku kan udah bilang, aku udah lapar," ucap Zaiden.
Setelah makan malam mereka berkumpul di ruang tamu. Bercanda ria bersama.
"Kakak, Zira kangen sama, mamah." rengek Zira.
"Mas ini gimana? Dari kemarin Zira rengek-rengek terus. Dia selalu bilang bahwa dia rindu mamah," ucap Derly.
Zaiden berpikir. Cara agar adiknya tak merengek-rengek lagi.
"Zira, nanti kita ke mamah sama papah ya," ucap Zaiden.
"Kakak serius, kalo papah sama mamah belum pulang-pulang?" tanya Zira. Zaiden hanya mengangguk.
Zira akhirnya kembali ceria. Kerinduannya pada sosok seorang ibu bisa terobati walaupun sedikit. Derly merasa lega, tapi ia heran kenapa suaminya menjanjikan seperti itu kepada adiknya.
Karena hari semakin larut malam, maka mereka kembali ke kamar masing-masing.
"Kamu serius Mas?" tanya Derly tiba-tiba.
"Serius apa?" Zaiden heran kenapa istrinya menanyakan itu.
"Kamu serius mau ajak adik kamu menemui mamah dan papah?" tanya Derly. Zaiden hanya mengangguk.
"Emang kamu tahu di kota apa papah sama mamah berada?" Derly bertanya lagi.
"Iya, Mas tahu dimana mamah sama papah berada," ucap Zaiden.
"Emang dimana, Mas?" Lagi-lagi Derly bertanya.
"Nanti aja Mas kasih tahunya ya, Mas udah ngantuk banget ini," ucap Zaiden sambil memejamkan matanya.
.......................................................................
Hai semuanya. Terima kasih sudah mampir.
Aku mau kasih saran novel yang bagus buat kalian.
Judul: Mutiara Kasih Sayang
Genre: Romantis Contest.
Pena: Permaisuri💕💕💕
Jangan lupa baca novel yang di atas ya kakak-kakak.
__ADS_1